Senin, 23 Agustus 2010

Kasih Sayang , kesuksesan, dan kekayaan E-mail Written by In Foku

Suatu hari ada seorang wanita baru saja pulang ke rumah, dan dia melihat ada 3 pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka. Wanita itu berkata “ Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk kedalam , aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut.” Pria berjanggut itu lalu balik bertanya “ Apakah suamimu sudah pulang ?”. Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”. “Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali” kata pria itu.
Di waktu senja , saat keluarga itu berkumpul , sang istri menceritakan kejadian tadi. Sang suami awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya,” Sampaikan kepada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”. Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.” Maaf, kami semua tidak bisa masuk bersama-sama .” kata pria itu hamper bersamaan. “lho, kenapa?” Tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seorang pria berkata, “ Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, “sedangkan yang ini bernama Kesusksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih Sayang. Sekarang coba Tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran.”Ohho…. menyenangkan sekali. Baiklah, kalo begitu coba kamu ajak si Kekayaan masuk kedalam. Aku ingin rumh ini penuh dengan Kekayaan.” Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengudang Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladangn pertanian kita.” Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.” Bukankah llebih baik jika kita mengajak kasih sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita akan nyaman dan penuh dengan kehangatan kasih sayang. “ Suami- istri itu stuju dengan pilihan buah hati mereka.” Baiklah, ajag masuk Kasih Sayang ini kedalam. Dan malam ini, Si Kasih Sayang menjadi teman santap malam ini “.
Wanita itu kembali keluar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “ Siapa diantara Anda yang benama Kasih sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini. “Si Kasih-sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho….. ternyata, kedua pria berjanggut lainnyapun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. “Aku hanya mengundang Kasih-sayang yang masuk kedalam, tapi kenapa kamu ikut juga? Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “ Kalau Anda mengundang si Kekayaan atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka kemanapun Kasih-sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus,. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.

selamat hari raya iedul fitri 1431 H

…KetiKa KesaLahaN yang daTang MenErPa diRi Qta…
…KeTika SeBuah PRaHara datanG MengHampiRi… dan TentunYA memBuat Qta BiNgunG…
…DiSaat iTulah Qta MeMohoN seBuah PenGhaRapan Kepada YanG MaHa SegaLanya u/ MeMberikan Ampunan Dan PeTunjuK…
daN seLayaknyaLah ApabiLa ada SeseoRang yaNg MemPunYai KesaLahan TerHadaP qTa…Qta MaaFkan…!!
… Dibulan Yang penuh makna ini… Akan TeRAsa iNdah apaBila Qta Berucap…
Selamat Idul Fitri 1428H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Selamat Idul Fitri 1431H
Taqobalallahu minna wa minkum
Shiyamana Wa Shiyamakum
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir & Bathin
Di bulan kemenangan ini marilah kita padukan keikhlasan untuk saling memaafkan …
Note :
Terlambat posting ucapan Idul Fitri 1431H, karena penulis pulang ke daerah.

Masih adakah hari esok

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”
Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar saja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”
Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.
Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang wanita yang sangat cantik dan baik. Wanita ini kemudian menjadi calon istrinya.
Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin. Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, “Ah, aku capek, besok saja aku menghubungi mereka.”
Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.
Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya. Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya “Aku cinta kamu”, tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, “Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya.”
Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya. Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata “Aku cinta kamu”, istrinya telah meninggal dunia.
Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar bahwa anak anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.
Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, “Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu…” Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir. Dia meninggal dunia dengan airmata di pipinya.
Note :
Waktu itu nggak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.
Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!
Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.
Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat.
Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.
Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka “besok” akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu.

Mutiara dan pasir

Alkisah, Seorang pemuda yang baru lulus kuliah mengalami perasaan sangat tertekan dan putus asa karena sulitnya mencari kerja sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan dirinya ke tengah laut, ketika dia sampai di pantai dilihatnya seorang tua yang ramah dan bijaksana yang kemudian mengajaknya berbicara sampai si pemuda tersebut mengutarakan niatnya bunuh diri dan alasannya.
Kemudian orang tua tersebut minta sang pemuda melihat apa yg dilakukannya, orang tua tersebut membungkuk mengambil segenggam pasir dan kemudian melemparkannya kembali kebawah, seketika pasir tersebut melebur dan menjadi satu dengan pasir lainnya yang ada dibawah, lalu kata orang tua tersebut kepada si pemuda “cobalah kamu ambil pasir yang tadi saya lemparkan ke bawah”, dan si pemuda keheranan dan berkata “mana mungkin saya dapat mengambil pasir tersebut karena pasir tersebut telah berbaur dan menjadi satu dengan pasir lainnya”, si orang tua tersebut tersenyum dan kemudian mengambil sebutir mutiara dari dalam kantongnya dan melemparkannya kebawah seraya berkata kepada pemuda tersbut “ambillah mutiara tersebut” , dan dengan mudahnya pemuda tersebut mengambilnya.
Orang tua tersebut berkata kepada pemuda tersebut bahwa untuk menjadi atau meraih apa yang kamu inginkan maka kamu harus berbeda denga orang lain, jikalau kamu sama dengan orang kebanyakan maka kamu tidak akan terlihat, demikian juga ketika kamu mencari kerja dan sebagainya.
Note :
Bila kita lemah terhadap diri kita maka kehidupan akan keras terhadap kita
Bila kita keras terhadap diri kita maka kehidupan akan lemah terhadap kita

4 Lilin

Ada 4 lilin yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah
percakapan mereka
Yang pertama berkata: “Aku adalah keindahan.” “Namun
manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku
mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata: “Aku adalah Kasih Sayang.” “Sayang aku
tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku,
untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:”Aku adalah
Cinta” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.”
“Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku
berguna.”
“Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang
mencintainya, membenci keluarganya. “
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin
ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan
melihat ketiga Lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh
apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku
takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut,
Janganlah menangis,
selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat
selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
Akulah H A R A P A N “
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin
Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin
lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah H A R A P A N.
yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita
semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak
tersebut, yang dalam situasi apapun mampu
menghidupkan kembali Keindahan, Kasih Sayang
dan Cinta dengan HARAPAN-Nya…
Note :
Harapanlah yang membuat orang untuk lebih baik lagi, dimasa sekarang dan masa yang akan datang. Jadi jangan padamkan semangat dan harapanmu untuk hidup yang lebih baik…

Batu Besar

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA.
Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, “Okay, sekarang waktunya untuk quiz.”
Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember.
Ia bertanya pada kelas, “Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?”
Semua mahasiswa serentak berkata, “Ya!”
Dosen bertanya kembali, “Sungguhkah demikian?”
Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu.
Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, “Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”
Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, “Mungkin tidak.”
“Bagus sekali,” sahut dosen.
Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil.
Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, “Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”
“Belum!” sahut seluruh kelas.
Sekali lagi ia berkata, “Bagus. Bagus sekali.”
Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember.
Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, “Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?”
Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, “Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya.”
“Oh, bukan,” sahut dosen, “Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa:
 
Bila anda tidak memasukkan batu besar terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya.”
Apa yang dimaksud dengan “batu besar” dalam hidup anda?
  • Anak-anak anda
  • Pasangan anda
  • Pendidikan anda
  • Hal-hal yang penting dalam hidup anda
  • Mengajarkan sesuatu pada orang lain
  • Melakukan pekerjaan yang kau cintai
  • Waktu untuk diri sendiri
  • Kesehatan anda
  • Teman anda
Ingatlah untuk selalu memasukkan “Batu Besar” pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil terlebih dahulu, maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.
Oleh karena itu, tanyalah pada diri anda sendiri: “Apakah ‘Batu Besar’ dalam hidup saya?” Lalu kerjakan itu pertama kali.
Note :
Niat baik janganlah ditunda, lakukan semua menurut prioritasnya dahulu.

Beda antara cinta, suka dan sayang

Dihadapan orang yang kau cintai,
Musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
Musim dingin tetap saja musim dingin,hanya suasananya lebih undah sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai
Jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kau hanya merasa senang dan gembira saja.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai,
Matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai,
Engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
Kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai
Kata-kata hanya keluar dari pikiran saja.

Jika orang yang kau cintai menangis,engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata sedangkan rasa suka dimulai dari telinga.
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,cukup dengan menutup telingga,
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai,cinta itu
berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu
yang cukup lama.
"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta… ada perasaan yang lebih mendalam,yaitu
rasa saying…rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta.Rasa yang tidak mudah
berubah.
Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi.Mau
menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.Cinta ingin memiliki,tetapi
sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia….walaupun harus
kehilangan.

Untuk seseorang yang sedang jatuh cinta….......

Memelihara mimpi

Sebelum sebatang pohon dapat tumbuh tinggi, terlebih dahulu ia harus menanamkan akarnya jauh ke dalam tanah, demi memperoleh zat gizi. Sama dengan mimpi anda. Bila anda ingin impian berubah menjadi kenyataan, anda harus mencari cara untuk memberi makan dan memelihara mimpi anda. Sangat tidak realistis untuk berharap bahwa anda dapat mencapai bintang, tanpa terlebih dahulu menanam akar dalam tanah padat. Bermimpi itu gampang – sesuatu yang hidup di alam khayal. Namun mewujudkannya di alam nyata membutuhkan perjuangan keras.
Tanpa akar yang kuat, bahkan pohon tertinggi dan berbesar – akan tumbang. Tanpa terus belajar, bersikap disiplin, memelihara integritas, komitment, ketabahan, kesabaran, dan usaha – bahkan mimpi yang paling mungkin dan paling hebat – akan tumbang.
Mimpi dan tujuan anda memerlukan pemeliharaan. Tanamkan akar mimpi
anda sedalam dan selebar mungkin – hingga tidak ada batas setinggi
batas apa anda akan jangkau…

Burung, cacing dan manusia

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.
Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus “puasa”. Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus “berpuasa”. Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya “kantor” yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.
Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah.
Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.
Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing.
Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rizki. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.
Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.
Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing?
Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi?
Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.
Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

Menikmati kesulitan dan tantangan

Kekuatan tidak didapat dari duduk santai dan pekerjaan gampangan. Kita bisa menanyakannya kepada para olahragawan, atlet binaraga misalnya. Segalanya datang dari kesulitan dan tantangan. Para atlet binaraga tahu bahwa mereka harus menempa semua otot mereka agar bertumbuh. Dan sama dengan hal itu, karakter kita akan ditempa dengan kesulitan yang kita temui.
Tanpa kesulitan, kita tidak akan mengenal kenikmatan, apalagi menikmatinya. Kesulitan dalam hidup, hanyalah agar kita lebih mengenali kenikmatan hidup. Setiap rintangan yang berhasil diatasi, akan membuat kita menjadi lebih kuat. Setiap tantangan yang kita lewati, menghasilkan kegembiraan yang lebih sempurna.
Tantangan memberi kita tugas untuk dikerjakan.
Bayangkan betapa keringnya hidup bila segala sesuatu muncul begitu saja saat kita inginkan. Hargailah masa susah, karena masa itu berlimpah kesempatan. Bangkitlah menghadapi tantangan pahit, dan hidup kita akan terasa manis.
Tahukah Kita.??
Nelayan-nelayan Jepang menggunakan bantuan burung Kormoran hidup untuk menangkap ikan. Kormoran adalah jenis burung laut pemakan ikan dengan kaki berselaput dan memiliki paruh berkantung seperti pelikan. Para nelayan Jepang kerap menjepit sayap Kormoran dan membawa kira-kira 10 hingga 12 ekor Kormoran dalam sebuah perahu kecil, selain diikat dengan tali, leher Kormoran dipasangi cincin kecil terbuat dari logam yang pas dengan ukuran leher Kormoran.
Kormoran selanjutnya dilepas untuk menangkap ikan. Saat ikan didapat, Kormoran tidak bisa menelannya karena ikan yang didapat tidak bisa melewati lehernya yang dijepit cincin logam. Saat itulah nelayan menarik Kormoran, lalu membuka mulutnya dan mengambil ikan di dalamnya, untuk selanjutnya melepas Kormoran kembali menangkap ikan. Kormoran akan terus menyelam dan menangkap ikan walau akhirnya ikan itu akan selalu diambil oleh nelayan.
Note :

Kata-kata Bijak Hari ini :
Agar dapat membahagiakan seseorang,………… isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan laparnya dengan makanan.!!
(Frederick E. Crane)

Time to change

Berhasil mengatasi masalah akan mengantarkan kita
pada posisi yang bagus untuk mengatasi masalah berikutnya.
Kesuksesan kita akan menjadi bekal yang sangat baik untuk mencapai kesuksesan2 berikutnya.
Orang yang kaya menjadi lebih kaya bukan karena
harta yang dimilikinya, namun karena arah yang
benar dalam usaha dan kehidupannya;
tindakan yang benar dalam langkah-langkahnya,
sehingga kesuksesan itu akan muncul ber-ulang2!
Kalau dalam kehidupan, kita melihat yang kaya makin kaya,
yang miskin makin miskin. Memang itu yang terjadi.
Sekarang lihatlah kehidupan kita. Apakah kita makin kaya
atau makin miskin? Jika kita makin miskin, maka segeralah berbalik arah.
Kita pasti melakukan kesalahan yang mungkin tidak kita sadari. Jika kita
tetap menjalani apa yang kita lakukan sekarang ini, maka kemungkinan
kita akan semakin terpuruk. Namun jika kita merasa makin kaya, maka
melangkahlah makin cepat. Berlarilah! Karena arah Kita sudah benar.
Jika kita cenderung mengalami kemerosotan
dalam taraf kehidupan, maka saatnya sekarang
berbalik arah! Ubah arah kita karena itu tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Kita telah melakukan kesalahan!
Sekaranglah saatnya KITA berubah! Kemalasan kita
ubah menjadi ketekunan. Kesombongan kita harus
diubah menjadi keramahan. Kesederhanaan kita dalam
berpikir harus kita ubah dengan kreativitas
yang genius. Kelalain Kita harus kita ubah dengan
kewaspadaan yang tajam. Waktu kita harus diisi
penuh dengan aktivitas, detik demi detik.
Pikiran negatif kita harus diubah dengan pikiran positif.
Apakah mudah? Jangan bertanya lagi! Begitu kita ingat
maka lakukan perubahan itu, terus menerus, hingga kita
tidak akan merasakan itu, dan kita sudah berbalik arah.
Ya, sekaranglah saatnya kita banting setir!
Rasakan perubahan itu. Bila kehidupan kita sudah
mulai membaik, maka semangati untuk melakukan lebih
kencang, bergerak lebih cepat, berpikir lebih taktis
dan lakukan terus hal-hal baik yang sudah membuat
kehidupan kita menuju arah yang benar.
Ingat! Orang yang kaya semakin kaya, bukan karena dia
memiliki harta lebih banyak, namun karena dia sudah
berada diarah yang benar. Kesuksesan yang dia capai
telah membuat efek domino untuk kesuksesan berikutnya!
Sumber :
Efek Domino Kesuksesan
(disadur dari Buku: Time To Change Hari Subagya)

Raja dan Laba-laba

Dahulu kala di negeri Skonlandia, ada seorang raja bernama Bruce.
Dia sudah enam kali memimpin pasukannya menuju medan perang melawan sang agresor dari England, namun selama enam kali pertempuran itu, pasukannya selalu babak belur dihajar oleh musuh, hingga terpaksa mengalami kekalahan dan melarikan diri ke hutan.
Akhirnya, dia sendiri juga bersembunyi di sebuah gubuk kosong di dalam hutan belantara.
Suatu hari, hujan turun dengan derasnya, air hujan menerobos dari atap rumah yang bocor mengenai muka Bruce, sehingga dia terbangun dari tidurnya. Sesaat dia merenungi nasibnya yang malang karena tidak dapat mengalahkan musuh, walaupun dia telah mengerahkan segala daya upaya.
Semakin dia memikirkan hal ini, hatinya semakin pedih dan hampir putus asa.
Pada saat itu, mata Bruce menatap ke atas balok kayu yang melintang diatas kepalanya, disana ada seekor laba-laba sedang merajut sarangnya.
Dia dengan seksama memperhatikan gerak gerik laba-laba tersebut, dihitungnya usaha si laba-laba yang telah enam kali berturut-turut berusaha sekuat tenaga mencoba mengaitkan salah satu ujung benang ke balok kayu yang berada di seberangnya, namun akhirnya gagal juga.
“Sungguh kasihan makhluk kecil ini.”
kata Bruce, “Seharusnya kau menyerah saja!”
Namun, sungguh diluar dugaan Bruce, walaupun telah enam kali si laba-laba gagal mengaitkan ujung benangnya, dia tidak lantas putus asa dan berhenti berusaha, dia coba lagi untuk yang ke tujuh kalinya, dan kali ini dia berhasil. Melihat ini semua, Bruce sungguh merasa kagum dan lupa pada nasib yang menimpa dirinya.
Bruce akhirnya berdiri dan menghela napas panjang, lalu dengan lantang dia berteriak: “Aku juga akan bertempur lagi untuk yang ketujuh kalinya!”
Bruce akhirnya benar-benar mendapatkan semangatnya kembali, ia segera mengumpulkan dan melatih lagi sisa-sisa pasukannya, lalu mengatur strategi dan menggempur lagi pertahanan musuh, dengan susah payah dan perjuangan yang tak kenal menyerah, akhirnya Bruce berhasil mengusir pasukan musuh dan merebut kembali tanah airnya.
Note :
Dalam kehidupan, manusia terkadang mudah mengeluh dan meyerah dengan situasi. Tapi dengan dorongan akan orang-orang yang kita cintai di sekitar kita, semangat kita akan bangkit kembali dan meraih kemenangan.

Masalah Itu Tantangan Untuk Maju

Tetaplah bergerak maju, sekalipun lambat. Karena dalam, keadaan tetap bergerak, anda menciptakan kemajuan. Adalah jauh lebih baik bergerak maju, sekalipun pelan, daripada tidak bergerak sama sekali.
MASALAH adalah TANTANGAN tuk Maju
Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan menghindarinya. Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan, anda mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah dalah hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat keberhasilan dibalik setiap masalah.
Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapilah dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, eraman hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi. Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku! Sesaat kemudian, bukan kematian yang kita terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak akan menjadi seseorang yang sejati.
Mutiara Kata :
Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang bertubi-tubi.
Apa yang anda raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang anda lakukan terus menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bila anda yakin pada tujuan dan jalan anda, maka anda harus memiliki ketekunan untuk berusaha. Ketekunan adalah kemampuan anda untuk bertahan di tengah tekanan yang dan kesulitan. Jangan hanya berhenti pada langkah pertama!
Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah msalah yang menantang. Disitulah tanda kesejatian teruji. Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah berkarya menemukan kebahagiaan.
Jangan terkecoh dengan keberhasilan seseorang. Di balik kejayaan selalu ada jalan panjang yang berisikan catatan perjauangan dan pengorbanan. Keringat dan kepayahan. Tak ada jalan pintas untuk sebuah kesuksesan. Bila anda terpesona pada kenyamanan yang diberikan oleh kesuksesan, anda bisa lupa dari keharusan untuk berupaya. Namun bila anda terkagum pada ketegaran seseoarang dalam berusaha, anda akan menyerap energi kekuatan, keberanian dan kesabaran. Tak ada harga diskon untuk sebuah keberhasilan. Ada harga yang harus dibayar untuk meraih keberhasilan itu. Berusahalah terus!
Mulailah dengan hal kecil, dan jangan berhenti. Bertumbuhlah, belajarlah, dan kembangkan pencapaian anda. Sukses bukan dicapai oleh orang yang memulai dengan hal yang besar, tetapi oleh orang yang memelihara momentumnya dalam waktu yang cukup panjang, hingga pekerjaannya menjadi karya besar.
Apapun yang anda lakukan, lakukanlah dengan kebaikan hati. Keberhasilan bukan semata-mata karena kekuatan otot dan ketajaman pikiran. Anda perlu bertindak dengan kelembutan hati. Sukses tidak selalu dibangun di atas upaya sendiri. Di balik semua pencapaian terselip pengorbanan orang lain. Hanya bila anda melakukannya dengan kebaikan hati, siapapun rela berkorban untuk keberhasilan anda.
Seorang bijak berujar. “Bila busur anda patah dan anak panah penghabisan telah dilontarkan, tetaplah membidik. Bidiklah dengan seluruh hatimu.” Semua tindakan anda bagaikan bumerang yang akan kembali pada anda. Bila anda melempar dengan baik, ia akan kembali dalam tangkapan anda. Namun, bila anda ceroboh melemparkannya, ia akan datang untuk melukai anda. Renungkan bagaimana tindakan anda sekarang ini. Lakukan segala semuanya dengan tulus dan penuh kasih sayang. Tiada yang lebih manis daripada memetik buah atas kebaikan yang anda lakukan.

Menghadapi Masalah

Saya tahu bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan menolak jika dia dilahirkan tanpa masalah dan selalu bahagia tanpa ada sedikit kesedihan. Tapi apakah itu mungkin ? Bahkan mereka, anda dan saya bahkan mau membayar berapa dollar pun kalo seandainya ada orang yang bisa membuat kita lahir di dunia ini dan hidup di dunia ini tanpa ada masalah dan kesedihan sama sekali. Bahagia selalu bahkan selalu ceria. Ini saya ada sedikit cerita inspirasi yang saya kutip dari sebuah buku yang selayaknya pantas untuk saya tuliskan disini. Buku ini judulnya adalah “Bila anda pikir bisa, Anda pasti bisa melaksanakan dan meraih apa yang anda inginkan”. Mari kita simak cuplikan cerita dari buku ini bersama-sama.
“Bung Norman,” kawan saya menyapa. “Tolong bebaskan saya dari masalah yang menindih hidupku ini, maka saya akan berikan anda seribu dollar uang kontan atas kebaikan jasa anda itu.”Tentu saja saya bukanlah seorang yang suka menampik permintaan semacam itu”. Maka saya pun merenungkan dan mempertimbangkan usul kawan saya itu dan muncul dengan satu pemecahan masalah yang lumayan juga. Sekurang-kurangnya cukup realistis sifatnya. Tetapi George nampaknya agak segan rupanya, sebab ia telah terlanjur menjanjikan 1000 dolar sebagai hadiah.
” Tidak apa george, ” norman berkata. “Saya tetap saja mau bantu kamu. Oleh sebab itu mari kita pecahkan bersama masalahnya. Kalau tidak salah anda ingin bebas dari segala masalah anda itu, bukan ? Sampai habis dan tuntas ?
“Ya Betul,” Jawab George. “Saya ingin lepas dari segala masalah yang saya hadapi dalam hidup ini. Saya sudah bosan dan kapok dalam menghadapi cobaan, ujian dan kemelut dalam hidup ini. Saya ingin bebas untuk selama-lamanya.”
”Baiklah George, saya sudah punya jawabannya”, kata norman. Akan tetapi saya sangsi apakah kau mau menerima jawaban saya atau tidak. Dengarkan ! Beberapa waktu lalu saya sedang melakukan tugas profesionalku, dimana saya harus berhadapan dengan pemimpin kelompok orang-orang yang yang lebih dari puluhan ribu jumlahnya. Dan tak seorang pun dari mereka memiliki masalah kehidupan.”
Wajah george langsung cerah, matanya berbinar-binar kegirangan karena keingin tahuannya.” Nah itulah tempat yang cocok bagi saya. Antarkanlah saya ke tempat itu teman”. Ujar si george girang.
“Baiklah,” jawab si norman.” Tetapi tempat yang saya maksud adalah perkuburan.”
” Dan memang itulah kenyataannya George. Bahwa di perkuburan itu tak ada seorang pun yang menghadapi masalah hidup. Bagi orang yang sudah menjadi penghuni di kuburan tidak akan pernah merasa cemas karena hidup yang penuh masalah itu telah berlalu bagi mereka. Mereka telah istirahat dari tugas dan pekerjaannya tiap hari. Mereka tidak peduli dengan apa yang kita baca dalam koran atau surat kabar atau bahkan apa yang kita lihat ditelevisi mereka sudah tidak peduli. Mereka tak punya masalah lagi dengan kehidupan, mereka beralih masalah pada hidup mereka di alam kubur. Karena memang mereka bukanlah orang hidup dan mereka adalah orang yang sudah mati.” Tegas Norman kepada George.
Dikutip dari Buku Bila Anda Fikir Bisa Anda Pasti Bisa Melaksanakan dan Anda Pasti Bisa Meraih yang Anda Inginkan
Dari cerita diatas sudah jelas sekali bagaimana bahwa secara logis bahwa kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh manusia itu adalah alamat dari kehidupan. Logikanya adalah bagi anda bahwa semakin banyak masalah yang anda hadapi dalam hidup ini maka semakin luas pulalah peluang anda untuk hidup yang terbuka bagi anda. Seseorang misalnya menghadapi 10 masalah yang pelik akan nampak lebih hidup dibandingkan dengan seorang yang bersikap apatis dan hanya memiliki 5 masalah.
Note :
Masalah bukan menjadi alasan kita untuk menghindarinya, namun dengan masalah kita menjadi lebih dewasa dan lebih terbuka menghadapi hidup ini.

Kisah Inspirasi

Jumat, 23 Juli 2010

Mencari Pemimpin Inspiratif

Kita hidup dalam sebuah situasi dimana partisipasi politik sudah sangat
menurun, terutama dalam sepuluh tahun terakhir, sedangkan pada saat
yang sama tumbuh sentimen ketidakpercayaan terhadap partai politik dan
politisi. Kita menamai proses atau kecenderungan ini sebagai krisis
politisi dan institusi politik.

Sejak pemerintah menjadikan neoliberalisme sebagai "pandangan
hidup" dan dasar kebijakan politiknya, maka sebagian besar rakyat
telah dilemparkan keluar dari kehidupan politik secara umum. Penguasa
telah menjadi entitas terpisah dari rakyat, apparatus negara telah
menjadi musuh dari rakyat, dan Undang-undang telah menyakiti hak-hak
sosial, ekonomi, dan politik rakyat.

Dalam situasi demikianlah rakyat Indonesia mulai patah arang, bahwa
tiada lagi sosok pemimpin yang dapat diharapkan, dan jalan untuk
perubahan atau perbaikan nasib telah tertutup sangat rapat. Di
pemerintahan nasional, setelah 12 tahun proses penjatuhan rejim
Soeharto, tidak satupun kepemimpinan nasional yang sanggup melakukan
perbaikan nasib rakyat dan memberikan arah perubahan.

Namun, di balik kesulitan-kesulitaan dan ketiadaan alternatif itu,
situasi politik lokal justru menjanjikan dinamika politik baru;
kelahiran pemimpin lokal yang sanggup membuat gebrakan perubahan. Jumlah
mereka memang sangatlah kecil, dan pemberitaan atau informasi mengenai
mereka pun sangat minimal.

Dalam catatan kami, ada beberapa orang bupati atau kepala daerah yang
telah anomali dari situasi itu, diantaranya Untung Wiyono (Sragen), I
Gede Winasa (Jembrana), David Bobihu Akib (Gorontalo), Rustriningsih
(Kebumen), Endang Setyaningdyah (Demak), Suyanto (Jombang), dan masih
banyak lagi.

Keberhasilan mereka tidak kalah dengan prestasi serupa di Kerala
(India), Rio Grande Sul (Brazil) Montevideo (Uruguay), dan sebagainya.
Di Sragen, sang Bupati Untung Wiyono berhasil melakukan sejumlah
terobosan penting, diantaranya, membangun jalan-jalan dan jembatan yg
menghubungkan desa-desa dengan perkotaan, mengubah lahan tidak produktif
menjadi produktif, dan menyalurkan kredit bagi rakyat.

Selain itu, Untung Wiyono juga berhasil menciptakan pelayanan perizinan
satu atap dengan pembentukan Kantor Pelayanan Terpadu (KPT), program
e-government (sistem online antarsatuan kerja, kecamatan, desa), dan
program "Homeschooling", dimana si anak tidak harus datang ke
sekolah, tapi cukup membaca modul yg bisa di download ke Cellphone
ataupun lewat komputer di kantor kelurahan.

Prestasi serupa juga ditunjukkan Bupati Jembrana, I Gede Winasa, yang
sangat dikenal dengan program pendidikan gratisnya. Demikian pula
dengan Rustriningsih di Kebumen, Endang Setyaningdyah di Demak, dan lain
sebagainya.

Keberhasilan mereka tentu tidak jatuh dari langit, melainkan lahir dari
sebuah pendekatan, kerja keras, dan keberpihakan dalam merumuskan
kebijakan.

Ketika baru dilantik sebagai bupati, Untung Wiyono menjelaskan, ia
berhadapan dengan situasi yang sangat sulit, seperti angka kemiskinan
yang sangat tinggi, jumlah pengangguran yang besar, dan masyarakat yang
hampir kehilangan harapan. Selain menggunakan spanduk bertuliskan
"orah obah, orah mamah" di berbagai pelosok kampung, dia pun
menggunakan seni pewayangan untuk menarik partisipasi rakyat untuk
bergerak dan membangun.

Rustriningsih juga berhasil membangun komunikasi yang efektif dengan
rakyatnya. Dia mengajak warganya berpartisipasi aktif melalui dialog
interaktif seperti Selamat Pagi Bupati (SPB), dimana dia berkonsultasi
langsung dan mengajak rakyat untuk mencari solusi pemecahan terhadap
masalahnya.

Dengan melihat sepak-terjang para bupati itu, kita seolah-olah bertemu
dengan secercah harapan; bahwa kita bisa mengubah situasi yang tidak
mungkin hari ini untuk menjadi mungkin di hari esok.

Di Brazil, setelah partai Buruh berhasil melakukan eksprimen di
sejumlah kota, mereka pun segera memanjat kekuasaan nasional dan
berhasil. Ini menjadi penting bagi diskusi kaum pergerakan, untuk
menjadikan pemerintahan lokal sebagai basis pijakan untuk menunjukkan
kepada rakyat, bahwa mereka sanggup melakukan perubahan di lokal dan
nasional.

NEGARA DRAKULA

Rakyat dipaksa membayar pajak, tapi mereka tak menikmati hasilnya.
Setelah Gayus Tambunan, kini muncul seorang tersangka lagi yang diduga
terlibat permainan kotor di Direktorat Jenderal Pajak. Baha-sjim Assifi
namanya. Pejabat di Bappenas yang baru saja meng-undurkan diri Maret lalu
ini adalah mantan pejabat eselon dua di Ditjen Pajak. Sama seperti Gayus,
Bahasjim pun memiliki kekayaan yang dianggap tidak wajar. Ia memiliki uang
lebih dari Rp 60 milyar atas nama anak dan istrinya.

Meski tak ada hubungan antara Gayus dan Bahasjim, keduanya sama-sama
pegawai pajak. Ini mengindikasikan ma-kelar kasus (markus) pajak telah
mengakar ke mana-mana. Sa-ngat tidak masuk akal jika modus ini tidak
diketahui oleh atasan mereka. Walhasil, praktik kotor ini bisa berlangsung
aman selama bertahun-tahun. Soalnya semua kecipratan.

Saat diperiksa di Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Gayus mengungkapkan,
modus pencucian uang ini tidak dilaku-kan sendiri. Modus ini melibat-kan
banyak orang di instansinya. Gayus tergolong pemain kelas teri. Kalau
kelas teri saja mampu meraup uang Rp 28 milyar, bagaimana dengan kelas di
atasnya?
Kenyataan itu membukti-kan bahwa sistem birokrasi di negeri ini sudah
bobrok. Remu-nerasi yang memberikan gaji tinggi kepada pegawai
Kemente-rian Keuangan tak berhasil. Gaya hidup mewah dan serakah mem-buat
mereka tetap saja mencari jalan mencari harta dari jalan yang tidak sah.

Memang ada kesalahan juga dari sisi pengusaha, sebagai pihak yang
menginginkan jalan pintas. Mereka ada yang nakal. Ketua Asosiasi Pengusaha
Indo-nesia (Apindo) Sofyan Wanandi memperkirakan, masih ada seki-tar 10-20
persen pengusaha kelas kakap yang terlibat dengan markus pajak.
Namun tak sedikit peng-usaha yang diperas pegawai pajak. “Pengusaha,
kadang-ka-dang terpaksa kalau tiap kali diperiksa (pajaknya), diganggu,
akhirnya bayar juga lewat mar-kus," katanya saat Peresmian Koperasi UKM
Kreatif Apindo di kantor Apindo, Jakarta, Sabtu (10/4).

Sofyan menghitung, seti-daknya 10 persen dari biaya ope-rasional bisnis
harus direlakan untuk mengisi kantong-kantong aparat pajak, yang melakukan
praktik markus. "Makanya, Indo-nesia disebut salah satu negara terkorup
karena ini, cost invisibel tertinggi sampai 10 persen. Pada-hal, pengusaha
mau tambah investasi," ujarnya.
Kasus Gayus, menurut Sof-yan, memang memberikan indi-kasi bahwa posisi
banding dan keberatan merupakan titik rawan melakukan korupsi. "Titik itu
rawan karena mereka cari-cari salah. Mereka peras kami, kasih target
tinggi dan tidak percaya kami. Kami bilang bayar 100, ternyata dibilang
mereka harus bayar 1.000, akhirnya kami so-gok," ujarnya. Modus ini telah
berlangsung lama.

Munculnya markus pajak ini paradoks dengan kondisi masyarakat. Tanpa
disadari, masyarakat dipaksa membayar pajak kepada negara melalui bentuk
pajak yang bermacam-macam. Eh ternyata, gaji pegawai pajak yang besar dari
duit rakyat ini masih juga tidak cukup. Pajak yang seharusnya diambil dari
orang-orang kaya untuk negara, justru diembat sendiri untuk kepentingan
pribadi.

Modus makelar pajak ini sangat beragam. Mulai saat penentuan obyek
barang/jasa yang terkena pajak hingga saat wajib pajak berperkara di
peng-adilan. Menurut mantan Dirjen Pajak, Fuad Bawazier, markus pajak itu
ya ada di Ditjen Pajak. Dengan menggunakan kewena-ngannya, para markus
bisa mem-buat wajib pajak tak berkutik untuk membayar pajak sesuai saran
mereka. Namun, bukannya tak mau, wajib pajak justru senang karena jumlah
yang seharusnya dibayar bisa diku-rangi. “Cincai-lah,” begitu kata orang.
Lebih parah lagi, lebih dari 70 persen pendapatan negara yang didapat dari
pajak, sedikit sekali yang mengucur bagi ke-pentingan rakyat secara
lang-sung. Justru anggaran negara banyak digunakan bagi kepen-tingan
birokrasi. Sedikit demi sedikit, negara terlihat melepas-kan rakyat agar
mereka bisa mandiri, hidup sendiri. Di sisi lain, negara tetap berharap
rakyat membantu negara.

Sistem perpajakan seperti ini mirip dengan apa yang terjadi pada zaman
penjajahan Belanda dulu. Rakyat selalu diminta mem-bayar upeti bagi
penjajah. Upeti itu tentu bukan diperuntukkan bagi rakyat tapi bagi
penjajah dan antek-anteknya. Rakyat diperas.

Tak mengherankan ada yang menyebut Indonesia ada-lah 'negara preman'.
Perpajakan adalah bentuk premanisme yang dibungkus dengan
perundang-undangan sehingga terkesan legal dan memaksa. Belum lagi, memang
negara ini dikuasai oleh para preman dalam arti yang sebenarnya.

Satgas pemberantasan ma-fia hukum menyatakan ada sembilan mafia kelas "big
fish". Mereka itu adalah mafia per-adilan, mafia korupsi, mafia pajak dan
bea cukai. Lalu mafia kehu-tanan, mafia tambang energi, mafia narkoba,
mafia tanah, mafia perbankan dan pasar modal serta mafia perikanan. Tak
ketinggalan mafia utang luar negeri. Mereka ini merugikan negara dan
rakyat.

Sebenarnya, negeri ini bisa sejahtera tanpa menggantung-kan diri pada
pajak yang jelas-jelas menjerat leher rakyat. Syaratnya, kepemilikan
kekayaan alam dikembalikan kepada rakyat. Ini hanya bisa terjadi bila ada
perubahan sistem secara radikal, dari sistem liberal ke sistem Islam.
Kedua, hanya orang-orang amanah yang boleh dipilih untuk mengemban ama-nah
tersebut.

Berdasarkan hitungan, ke-kayaan alam Indonesia cukup untuk menutup
kebutuhan hi-dup negara. Mengapa sekarang tidak cukup dan harus memajaki
rakyat? Sebab kekayaan alam tersebut hampir semuanya di tangan asing dan
swasta. Negara hanya menikmati bagian yang amat kecil. Menyedihkan lagi,
alokasi anggaran negara justru banyak digunakan membayar bunga utang.
Inilah sebuah kesalahan mendasar akibat bercokolnya ideologi
kapitalisme-liberal di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini.
Maka tidak ada jalan lain untuk meng-ubahnya kecuali mengganti sistemnya
dengan sistem Islam. Allahu Akbar! [] mujiyanto

http://www.mediaumat.com/content/view/1464/68/

Gelorakan Semangat, Songsong Ramadhan

Oleh: Ulis Tofa, Lc


dakwatuna.com - Allah swt berfirman, “Dan Saya tidak menciptakan jin
dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku.” Adz Dzariat:56

Ya, inilah tujuan diciptakan setiap manusia. Yaitu, melaksanakan tugas
ibadah hanya pada Allah swt. saja. Menyembah Tuhan, Pencipta langit
tujuh tanpa atap. Pencipta manusia dengan struktur unik. Pembuat alam
raya untuk manusia.

Manusia dijadikan saling mengisi, memimpin, memerintah dan melayani
sepanjang masa. Semua itu, adalah dalam rangka mewujudkan tujuan besar
ini. Karena itu, ibadah kepada Allah swt. membutuhkan semangat yang
menggelora, dan kesungguhan yang hebat sesuai dengan tujuan besar ini.

Semangat Menggelora…. Kenapa?

Kenapa dibutuhkan semangat yang menggelora untuk beribadah kepada Allah swt.?

Pertama, karena beribadah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban
syari’ah adalah amanah besar, yang justeru langit, bumi dan gunung
enggan menerima amanah besar ini.

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan
mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh
manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” Al
Ahzab: 72

Semangat menggelora boleh jadi mampu menundukkan tinggi dan luasnya
langit. Mengalahkan tegarnya gunung. Mengalahkan hamparan bumi.

Kedua, karena ibadah lebih luas dari sekedar rukun Islam dan sebagian
syi’ar Islam yang biasa. Oleh karena itu, mustahil bagi Allah swt.
hanya menciptkan makhluk dan mengutus kepada mereka para Rasul. Allah
swt. membinasakan suatu kaum dan mengangkat nasib sebagian yang lain.
Allah swt. menciptkan surga dan neraka sebagai balasan. Panji-panji
dikibarkan untuk mewujudkan peribadatan. Seluruh makhluk ditundukkan
untuk manusia. Itu semua dalam rangka meletakkan rekaat shalat dan
shaum Ramadhan saja. Tidak, makna ibadah lebih luas dan lebih
menyeluruh dari itu semua. Ibadah itu, sebagaimana yang dikenalkan
syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah:

“اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأفعال الظاهرة والباطنة”

“Setiap istilah yang menyeluruh, terkait setiap yang dicintai Allah
dan diridhoi-Nya, baik bentuk ucapan, perbuatan, yang nyata atau yang
tersembunyi.”

Karena itu, setiap upaya mendamaikan antara dua orang adalah ibadah.
Membiayai anak yatim atau mengelus kepala mereka adalah sama-sama
ibadah. Memberi nasehat adalah ibadah. Membuang sampah pada tempatnya
atau menyingkirkan duri dari jalan adalah ibadah. Tidak menyakiti
hewan adalah ibadah. Mendidik anak sesuai dengan syari’ah Allah adalah
ibadah. Suatu yang boleh akan menjadi bernilai ibadah dengan niat yang
benar dan baik. Maka mahasiswa yang study dengan sungguh-sungguh untuk
khidmat umat muslim adalah ibadah. Profesional atau pekerja yang
sungguh-sungguh mencari rizki halal adalah ibadah. Bekerja untuk
memenuhi kebutuhan keluarga, berderma untuk diri dan orang lain adalah
ibadah.

Jika makna dan kandungan ibadah begitu luas, maka sudah barang tentu
melaksanakan ibadah itu membutuhkan semangat menggelora, sebanding
dengan luasnya makna dan kandungan ibadah itu sendiri.

Ketiga, banyaknya rintangan, kendala dan kesibukan. Baik dari internal
maupun dari eksternal manusia.

Karena itu, jiwa yang cenderung bermalasan dan berleha-leha tidak
mungkin mampu melaksanakan kewajiban ibadah yang sangat luas ini. Apa
lagi, ada setan yang senantiasa menyelewengkan manusia dari jalur
ibadah. Ada juga lingkungan yang mempengaruhinya, himpitan ekonomi dan
masalah sosial. Begitu juga dengan godaan-godaan dan rayuan-rayuan
yang melenakan lainnya.

Dari itu, tidak bisa tidak, harus ada semangat yang menggelora dan
kesungguhan yang kuat.

Apa Itu Semangat Menggelora

Semangat menggelora tidak hanya diartikan menguras potensi untuk
bekerja atau beribadah. Ini salah satu ruang lingkup semangat
menggelora. Ada bentuk lain, di antaranya:

Pertama, berusaha melaksanakan amal shaleh dan konsisten
melaksanakannya, meskipun hanya sedikit. Rasulullah saw. bersabda,

“” أحب العمل إلى الله أدوم وإن قل ”  [صححه الألباني]

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang berkesinambungan meskipun
sedikit.” Hadits disahihkan Al Albani.

Kesinambungan dalam beramal meskipun sedikit menunjukkan adanya
semangat menggelora bagi pelakunya. Karena tabiat jiwa bosan rutinitas
dan lebih cenderung memilih perubahan. Karena itu, Rasulullah saw.
bersabda kepada Abdullah bin Amr ra. “Wahai Abdullah, kamu jangan
seperti fulan. Ia melaksanakan qiyamullail, kemudian meninggalkannya.”
Muttafaqun ‘alaih. Seakan-akan Rasulullah saw. mencela orang yang
meninggalkan amal setelah sebelumnya sudah terbiasa melaksanakannya.

Kedua, itqanul ibadah. Ibadah dengan maksimal. Tentu ini membutuhkan
semangat menggelora. Contohnya, ada orang yang bisa shalat satu rakaat
dengan baca sepertiga juz. Namun susah untuk mentadabburi makna yang
dibacanya, padahal jika ia mampu memahami kandungan ayat yang
dibacanya, ia mampu lebih lama lagi membaca ayat dalam shalat tanpa
rasa capek.

Begitu juga shaum, banyak orang yang bisa menaham makan, minum, dan
hubungan biologis, namun sangat sulit mengendalikan lisannya dari
ghibah, menaham pandangannya dari melihat yang haram. Dari dua contoh
ini, menunjukkan bahwa pelaku ibadah belum mampu melaksanakan ibadah
dengan baik dan sempurna.

Ketiga, menjaga ibadah pada saat-saat malas atau futur. Dalam kondisi
seperti ini membutuhkan semangat menggelora. Karena futur adalah sifat
manusiawi dan tabiat wajar. Rasulullah saw. bersabda,

“”لكل عمل شره، ولكل شره فترة ”  [صححه الألباني]

“Setiap amal ada jeleknya. Dan setiap kejelekan amal adalah futur.”
Disahihkan Al Albani.

Pada saat futur sangat membutuhkan kesungguhan dan semangat kembali.

Keempat, melaksanakan ibadah dengan memperhatikan kewajiban-kewajiban
yang lain. Ini tentu membutuhkan kesungguhan dan semangat menggelora.
Bahwa hak-hak dan kewajiban-kewajiban sangatlah banyak. Apalagi ia
seorang pekerja, pelajar dan pengusaha…, maka: adakalanya ia kurang
dalam hak suatu ibadah, karena ingin mengejar hak ibadah yang lain..
Atau ia memiliki semangat yang mampu menggabungkan antara dua hal ini.
Lebih lagi, jika ia mengetahui bagaimana caranya mensikapi suatu
ibadah; sehingga bisa bernilai mubah, ibadah dan berpahala.

Tujuh Semangat Ramadhan

Kalau ibadah begitu luas dan menyeluruh di hari-hari biasa, bagaimana
jika ibadah itu dilaksanakan pada hari-hari yang mulia, mahal dan
istimewa. Adalah hari-hari di bulan Ramadhan. Tentu kebaikan dan
kemuliaannya jangan sampai sia-sia. Di sinilah dibutuhkan semangat
menggelora dan kesungguhan sebenarnya.

Paling tidak ada tujuh semangat guna menyambut Ramadhan.

Pertama, meninggalkan dosa dan maksiat. Karena perbuatan ini
melemahkan semangat dan melumpuhkan tekad. Imam Syafi’i pernah mengadu
pada gurunya:

شكوت إلى وكيع سوء حفظي            فأرشدني إلى ترك المعاصي

وقال اعلم بأن العلم نور                    ونور الله لا يهدى لعاصي

Ku mengadu pada Waki’ (nama gurunya) soal hafalanku yang jelek

Ia menyarankanku untuk meninggalkan maksiat

Ia berkata, ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan pada pelaku maksiat

Kedua, berteman dengan orang yang mempunyai semangat tinggi dan
kesungguhan berlebih. Rasulullah saw. bersabda,

“” الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل ” [حسنه الألباني]

“Seseorang tergantung agama temannya. Oleh karena itu hendaknya ia
melihat siapa temannya.” Disahihkan Al Albani.

Menjadikan mereka sebagai teman karena Allah adalah ibadah. Cukuplah
sebagai contoh, seekor anjing yang juga akhirnya dimuliakan gara-gara
dia menemani orang-orang pilihan.

Ketiga, yakin dengan kemampuan diri sendiri. Karena Allah swt. yang
menentukan kapasitas dan potensi masing-masing, sehingga manusia
menjadi dirinya sendiri. Bagaimana tidak meledakkan kekuatan dalam
diri sendiri, padahal alam maya pada ini ditundukkan untuk manusia.
Manusia menguasinya.

Keempat, memperbanyak membaca keutamaan bulan agung ini. Membaca janji
Allah swt. bagi shaaimin, qaaimin dan dzaakirin.

Kelima, mengenal kondisi salafus shalih dalam bulan Ramadhan.
Bagaimana mereka menyambut Ramadhan. Bagaimana mereka memperlakukan
dan Ramadhan dalam kehidupan mereka.

Keenam, menuliskan target yang ingin dicapai di bulan Ramadhan.
Contohnya, berapa mengkhatamkan Al Qur’an, bersedekah, memberi makan
untuk berbuka.

Ketujuh, menulis program kerja di sisa bulan Sya’ban ini. Program
ibadah yang bertahap, sederhana, meningkat dan meningkat, sehingga
menjadikan anggota tubuh sudah terbiasa dengan ibadah Ramadhan.

Contoh program yang perlu dilaksanakan pada bulan Sya’ban ini:

  1. Membaca setengah juz sehari di awal Sya’ban, dan satu juz sehari
di separuh Sya’ban kedua.
  2. Melaksanakan qiyamullail dua rekaat dan satu witir.
  3. Bersedekah dua kali dalam satu pekan, dengan nilai tertentu.
  4. Memberi makan fakir-miskin sekali dalam sepekan, sesuai kemampuan.
  5. Membiasakan shaum Senin dan Kamis, dengan menjahui shaum pada
hari yang meragukan.
  6. Mengikuti dan mengantarkan jenazah setiap satu pekan.
  7. Menjaga dzikir selesai shalat dan dzikir pagi dan petang.
  8. Memelihara shalat lima waktu berjama’ah di masjid.
  9. Melaksanakan shalat sunnah rawatib yang mu’akkad (sangat
dianjurkan), seperti, dua rakaat sebelum fajar, dua rakaat ditambah
dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelah Zhuhur, dua rakaat
setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya’.

Kita memohon kepada Allah swt, agar menuntun kita pada amal yang
dicintai dan diridhai-Nya. Agar Allah swt. menguatkan semangat kita,
dan meninggikan keinginan kita. Agar Allah swt. menyampaikan kita
menemui Ramadhan. Dan agar Allah swt. menjadikan kita sebagai
orang-orang yang diterima amal ibadahnya. Amin. Allahu a’lam

http://www.dakwatuna.com/2008/gelorakan-semangat-songsong-ramadhan/

KEMISKINAN RAKYAT MERISAUKAN, PENGUASANYA BERMEWAH-MEWAHAN [Al Islam 515]

Seperti yang dilansir sejumlah media, jumlah orang miskin
makin merisaukan seiring kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) per 1 Juli
2010. Pasalnya, kenaikan TDL memberikan efek domino berupa kenaikan harga
sembako, ancaman PHK dan pengangguran.

Berdasarkan standar BPS (Maret 2007), kategori miskin di antaranya seorang
dengan penghasilan di bawah Rp 167.000,-/bulan/orang atau Rp
5.500,-/hari/orang. Dengan standar BPS, angka kemiskinan saat ini hanya
sekitar 13 persen atau sekitar 30 juta orang. Namun, menurut Bank Dunia,
salah satu kriteria orang miskin di Indonesia adalah mereka yang
berpenghasilan di bawah 2 dolar/Rp 19.000,- perhari (sekitar Rp 500
ribu/bulan). Jika menggunakan ukuran World Bank ini, angka kemiskinan di
Indonesia bisa di atas 43 persen dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia;
kira-kira mendekati 100 juta jiwa. Inilah fakta keseharian kehidupan
rakyat yang amat menyedihkan. Padahal bukankah mereka hidup di sebuah
negeri yang subur serta kaya dengan kandungan mineral dan sumber daya alam
lainnya?

Pemerintah Tak Peduli
Di negeri ini, penerapan sistem ekonomi Kapitalisme-yang akhir-akhir ini
makin mengarah pada liberalisme ekonomi-menjadi akar munculnya kemiskinan
yang terus meningkat. Dalam sistem ekonomi liberal, Pemerintah tidak lagi
memerankan fungsinya sebagai pemelihara urusan-urusan dan kebutuhan dasar
rakyatnya. Bahkan di tengah kemiskinan rakyat, Pemerintah sering
mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang makin membebani rakyat. Mulai April
lalu, misalnya, Pemerintah menaikkan harga pupuk urea isi 50 kilogram
sebesar 50 persen, yakni dari Rp 60 ribu menjadi Rp 90 ribu. Kenaikan ini
muncul karena anggaran subsidi yang semula Rp 11,3 triliun dikurangi
menjadi Rp 4,2 triliun. Padahal tahun 2009 lalu, besarnya subsidi pupuk
mencapai Rp 17,6 triliun. Dampak dari kenaikan harga pupuk ini sudah
terasa Juni lalu. Harga produk pertanian melambung tinggi, sementara
pendapatan masyarakat malah turun karena harga pokok produksi hanya naik
10 persen. Bagaimana para petani bisa untung?

Namun, masalahnya tidak hanya berhenti di sini. Pasalnya, dalam sistem
ekonomi liberal, saat Pemerintah melepaskan tanggung jawabnya terhadap
nasib rakyat, Pemerintah justru lebih berpihak kepada para pemilik modal,
termasuk pihak asing. Contoh: terkait kenaikan tarif listrik. Kasus
terbaru menunjukkan bagaimana Pemerintah negeri ini mengelola Proyek Gas
Donggi Senoro. Pemerintah memutuskan bahwa untuk proyek gas Donggi Senoro,
30% dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan 70% untuk ekspor.
Padahal yang 30% itu saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan gas PT PLN.
Artinya, kebutuhan dalam negeri untuk PLN dan industri lainnya seperti
industri pupuk sesungguhnya masih sangat besar. Sungguh ironis, saat
kebutuhan akan gas di dalam negeri begitu besar, Pemerintah justru
mengalokasikan 70% untuk ekspor. Padahal jika kebutuhan pasokan gas
domestik mendapat prioritas maka kekurangan pasokan gas untuk PLN, pabrik
pupuk dan pabrik lainnya akan terpenuhi. Hal ini secara pasti akan membuat
harga produksi listrik turun sehingga harga TDL tidak perlu dinaikkan,
bahkan bisa diturunkan. Lebih dari itu, dengan ketersediaan bahan bakar
pembangkit yang jauh lebih murah dan sangat besar, seperti batu bakar dan
gas, Pemerintah melalui PT PLN dapat segera memperbesar kapasitas produksi
listrik dan ini akan segera dapat mengatasi kekurangan pasokan serta
menambah luasnya jangkauan pelayanan listrik kepada masyarakat.

Kebijakan Pemerintah ini tentu patut dipertanyakan. Apakah karena ada
kepentingan para pemungut rente yang tidak ingin kehilangan penghasilannya
dari pasokan BBM ke PT PLN selama ini? Juga apakah ada kepentingan
pemungut rente karena komisi dari penjualan ekspor gas keluar negeri? Hal
ini menjadi sangat mungkin mengingat besarnya rente yang akan dinikmati
para makelar yang mengatasnamakan kebijakan negara. Kalau ini benar,
inilah dampak nyata dari sistem kapitalis yang menyuburkan kolusi antara
pengusaha dan pengusaha, dengan mengorbankan rakyat banyak.

Penguasa dan Pejabat Bermewah-mewahan
Presiden SBY mengajak warga masyarakat Indonesia agar tetap berhemat dalam
menggunakan energi, baik energi listrik, gas, maupun minyak bumi serta
energi lainnya. “Kita sama-sama lakukan hemat energi, jangan boros, dan
sejak anak-anak harus sudah mulai berhemat energy, apapun bentuknya,”
ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Ajakan itu sebenarnya sudah basi. Pasalnya, penghematan di jajaran
pemerintahan tak pernah terlihat. Masyarakat masih ingat bagaimana uang Rp
22.55 miliar untuk tahun anggaran tahun 2009 dihamburkan hanya untuk
merenovasi pagar Istana. SBY sendiri tak memberikan contoh bagaimana
dirinya melakukan hemat energi itu; misalnya ia naik kendaraan umum saja
ke Istana atau seluruh listrik Istana dimatikan pada malam hari. Itu tidak
terjadi. Inilah sikap ‘munafik’ penguasa.

Pada tahun 2011, Pemerintah pun berencana membeli pesawat kepresidenan
jenis Boeing 737-800 NG, dengan harga dipatok US$ 84,5 juta, sekitar Rp
800 miliar lebih. Selain itu, dalam kurun waktu 2001-2011 Presiden SBY
menghabiskan Rp 1,173 triliun untuk anggaran “plesiran”-nya ke luar
negeri. Anggaran “jalan-jalan” Presiden SBY tahun 2011 saja dipatok
sebesar Rp 181 miliar. Ini jauh di atas anggaran presiden sebelumnya di
era GusDur yang total menghabiskan Rp 48 miliar dan semasa Megawati Rp
48,845 miliar. Lalu untuk kebutuhan baju Presiden saja, anggarannya
mencapai Rp 893 juta pertahun atau Rp 74 juta perbulan atau sekitar Rp 18
juta perminggu. Padahal gaji Presiden Indonesia saat ini saja sudah amat
besar, hanya terpaut sedikit saja dari gaji tertinggi sejumlah kepala
negara di dunia, terutama jika dikaitkan dengan tingkat kemakmuran
rakyatnya. Sebagaimana diketahui, total gaji Presiden SBY saat ini adalah
sebesar Rp 62.740.000,-. Adapun kepala negara dengan gaji tertinggi di
dunia adalah Presiden Singapura, Hongkong, Amerika Serikat, Irlandia dan
Prancis. (Http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3409487).

Sebelumnya, DPR meloloskan proyek gedung megah yang nilainya Rp 1,8
triliun. Ini menunjukkan bahwa penguasa, baik kalangan eksekutif maupun
legislatif, betul-betul telah hilang kepekaannya terhadap rakyat. Mereka
lebih mementingkan diri sendiri daripada rakyatnya.

Selain itu, wajah APBN kita pun tidak pro rakyat. Ini bisa disimak dari
APBN Perubahan 2010. Di sana tergambar jelas bahwa APBN itu lebih
ditujukan untuk kepentingan pragmatis elit politik dan pejabat, ketimbang
untuk rakyat. DPR, misalnya, berhasil mengajukan anggaran fantastis
sebesar Rp 1,8 triliun untuk pembangunan gedung barunya. Angka ini lebih
besar dari anggaran program keluarga harapan yang hanya senilai Rp 1,3
triliun untuk 810 ribu Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Padahal anggaran
Rp 1,8 triliun ini bisa dimanfaatkan oleh 1,1 juta RTSM melalui program
keluarga harapan, dibandingkan untuk gedung baru DPR yang hanya dinikmati
560 anggotanya.

Pemerintah juga kembali mengajukan tambahan anggaran untuk remunerasi
(kenaikan gaji pejabat) senilai Rp 3,3 triliun sehingga total menjadi Rp
13,9 triliun. Padahal terbukti kenaikan gaji pejabat tidak mampu
menghentikan kebiasaan korupsi yang bercokol di birokrasi. Di sisi lain,
triliunan uang tersebut bisa digunakan untuk 76,4 juta Jaminan Kesehatan
Masyarakat Miskin selama 3 tahun, atau 1,9 juta balita gizi buruk dan 1,8
miliar liter beras.

Saatnya Hentikan Sistem/Rezim Tak Amanah

Gaya hidup penguasa kaum Muslim saat ini yang menampilkan kemewahan, dari
mulai gaji yang tinggi hingga mobil dinas yang mahal, tidak bisa
dilepaskan dari cara pandang mereka terhadap jabatan. Bagi mereka, jabatan
identik dengan prestise, martabat, kehormatan, bahkan ladang penghasilan
yang subur. Wajar jika mereka berebut untuk mendapatkan jabatan/kekuasaan.


Sikap mereka ini berbeda dengan para khalifah (kepala negara Khilafah)
dulu. Bagi para khalifah, jabatan adalah amanah. Karena itu,
jabatan/kekuasaan benar-benar dimaksudkan untuk menunaikan apa yang
menjadi hak rakyatnya. Bagi mereka, martabat dan kehormatan justru
terletak pada ketakwaan, dan salah satu ukuran ketakwaan terletak pada
sikap amanah dalam mengurus rakyat, bukan pada kemewahan. Karena itu,
kesederhanaan mereka tidak membuat mereka kehilangan martabat dan
kehormatan. Wajar jika kisah kesederhanaan para khalifah kaum Muslim pada
masa lalu banyak menghiasi sejarah peradaban Islam nan agung ini. Imam
as-Suyuthi menuturkan dalam Tarikh al-Khulafa’-nya tentang kisah
kesederhanaan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., misalnya, yang tidak
pernah malu berpakaian dengan banyak tambalan, bukan dengan kain yang
sama, tetapi dengan kain yang berbeda, bahkan dengan kulit hewan. Khalifah
Umar ra. juga biasa tidur nyenyak di atas hamparan pasir, dengan
berbantalkan pelepah kurma di sebuah kebun kurma, tanpa seorang pun
pengawal. Namun, di balik kebersahajaan itu, Khalifah Umar dan para
khalifah kaum Muslim itu mempunyai prestasi yang luar biasa. Mereka
berhasil memakmurkan rakyatnya sekaligus menjadikan Islam dan Khilafah
Islam memimpin dunia selama berabad-abad dengan segala kemuliaan dan
keagungannya. Bandingkanlah dengan para penguasa kaum Muslim saat ini,
termasuk di negeri ini. Mereka hidup mewah, tetapi miskin prestasi, bahkan
menjadi musibah bagi rakyatnya.

‘Ala kulli hal, umat belum terlambat untuk menyadari bahwa sistem
sekular-kapitalis-liberal inilah yang menjadi penyebab hilangnya karakter
para pemimpin yang sederhana dan zuhud, sekaligus yang menjadi penyebab
suburnya para pemimpin yang tamak akan ‘sekerat tulang’ dunia.

Karena itu, umat belum terlambat untuk segera menerapkan sistem (syariah)
Islam sebagai wujud ketakwaan mereka kepada Allah SWT. Hanya dengan
ketakwaanlah Allah SWT menjamin keberkahan hidup bagi mereka, sebagaimana
firman-Nya:
وَلَو أَنَّ أَهلَ القُرىٰ ءامَنوا وَاتَّقَوا لَفَتَحنا عَلَيهِم بَرَكٰتٍ
مِنَ السَّماءِ وَالأَرضِ وَلٰكِن كَذَّبوا فَأَخَذنٰهُم بِما كانوا
يَكسِبونَ
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan
melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi (QS al-A’raf
[7]: 96).

Sebaliknya, jika umat ini tetap berpaling dari peringatan Allah SWT,
enggan menerapkan syariah-Nya secara total dalam seluruh aspek kehidupan
dalam institusi Khilafah, maka kesempitan akan selalu menjadi ‘hiasan
hidup’ mereka, sebagaimana firman-Nya:
وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرى فَإِنَّ لَهُ مَعيشَةً ضَنكًا وَنَحشُرُهُ يَومَ
القِيٰمَةِ أَعمىٰ
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, baginya penghidupan yang
sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam Keadaan buta
(QS Thaha [20]: 124).
Wallahu a’lam. []

Selasa, 06 Juli 2010

Selamat Tinggal Century, Selamat Datang Kenaikan Harga!





Selasa, 6 Juli 2010 | Editorial
Sanggahan institusi hukum di Republik Indonesia bahwa kasus Century
tidak bermasalah, dengan tambahan backing dari presiden membuat DPR
menjadi kehilangan kewibawaan. Kasus-kasus baru yang muncul pasca
Century hanya akan mempercepat lupanya publik akan akhir dari
penyelesaian kasus Century. Rakyat banyak yang sudah kebingungan dengan
simpang-siurnya kasus, opini , dan isu tampak mulai memilih untuk
melupakan kasus Century, lagi pula saat ini mereka sedang ditindas oleh
persoalan neolib yang baru, yaitu kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).
Kenaikan TDL akan memicu kenaikan harga hampir seluruh barang yang
dibutuhkan rakyat. Seluruh komoditas di pasar-pasar trasidional seperti
cabe, bawang putih, dan beras menunjukkan peningkatan harga yang sangat
signifikan. Upaya liberalisasi dalam sektor kelistrikan nasional ini,
disaat proses pelistrikan di seluruh daerah belum mencakup seluruh
wilayah nusantara dengan kualitas yang memadai (tidak byar pet) adalah
sikap politik pra elite negara ini yang ternyata lebih berpihak kepada
korporasi ketimbang kesejahteraan rakyat. Sebuah surat kabar beberapa
hari yang lalu memprediksi akan ada peningkatan pengangguran sejumlah
1,7 juta jiwa dikarenakan oleh hancurnya industri kecil dan menengah
akibat naiknya TDL. Sementara itu, wapres Boediono dan Menteri ESDM
Darwin Zahedi pelan-pelan tapi pasti telah menyetujui pelepasan 70-80%
produksi gas blok Donggi/Senoro kepada kepentingan ekspor. Hanya 20-30%
yang diperuntukkan untuk memenuhi keutuhan gas untuk produksi listrik
dalam negeri. Hal ini adalah sebuah agenda sistemik berikutnya yang tak
kalah hebatnya dengan kasus Century.
Boediono adalah target selanjutnya (setelah Sri Mulayani terusir) dari
kasus Century, ini diperkuat oleh vonis politik DPR lewat opsi C. Jika
vonis politik ini tidak diperjuangkan oleh DPR, maka rakyat dapat
menjustifikasi DPR tidak bertanggung jawab atas rekomendasinya sendiri.
Kemunginan besar hal ini terjadi setelah kemunculan Sekretariat Gabungan
(setgab), sebuah koalisi yang dibangun untuk mempetieskan kasus Century
sekaligus stabilisasi rezim neoliberal sampai 2014. Dibalik setgab
(baca: koalisi jahat) inilah Boediono kini berlindung. Mengucapkan
selamat tinggal pada Skandal Century sama saja membiarkan Boediono
selamat.
Pelajaran untuk rakyat adalah rakyat dapat lebih apresiatif terhadap
partai-partai politik yang konsisten memperjuangkan kasus Century
seperti PDIP, Hanura, dan Gerindra. Sebaliknya rakyat tidak akan memilih
partai yang inkonsisten atau abu-abu seperti partai-partai di dalam
Setgab. Kita lihat juga_dalam hal mereson kenaikan harga_hampir tidak
ada partai yang berposisi untuk memihak rakyat, kecuali PDIP. Akan baik
jika partai politik di luar Setgab lebih membuka diri terhadap peluang
persatuan nasional dengan kelompok-kelompok gerakan ekstra parlemen.
Jika ada teman di dalam parlemen, gerakan yang turun ke jalan akan lebih
beringas "menyambut" (baca: menolak) datangnya kenaikan harga.
Anda dapat menanggapi editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com
http://papernas.org/berdikari/index.php?option=com_content&task=view&id=\
1006&Itemid=44