Kamis, 17 November 2011

"Saya Pakai Sepatu Kets Supaya Lari Kencang"

Menneg BUMN Dahlan Iskan

Dahlan blak-blakan mengungkap rahasia membenahi PLN dan rencananya merestrukturisasi BUMN.

Senin, 14 November 2011, 23:12 WIB
Arinto Tri Wibowo, Hadi Suprapto, Iwan Kurniawan
VIVAnews - Senin pagi, 14 November 2011, pk. 07.50 WIB. Sebuah sedan Mercedes Benz hitam berpelat nomor L 1 JP merapat ke pelataran lobi Menara Standard Chartered, Jakarta, di mana VIVAnews berkantor.
Pintu sopir terbuka.
Dari baliknya keluar sesosok laki-laki yang tampak seperti orang biasa—mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, pantalon hitam yang sedikit kegombrangan, dan sepatu kets hitam.
Dia bukan sopir. Dia adalah Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang baru diangkat Presiden, Dahlan Iskan. Tiga penumpang yang disopirinya, adalah para staf anak buahnya di Kementerian.
Di lift menuju kantor VIVAnews, Dahlan mendadak keluar begitu ia mendengar di gedung ini juga berkantor salah satu anak perusahaan Pertamina. Sempat dicegat petugas satpam yang bahkan tak mengenalinya sebagai menteri, pria kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 ini, melakukan “sidak” ke ruang-ruang kantor di situ.
“Tidak, tidak ada masalah apa-apa, kok. Saya cuma mampir sebentar,” katanya kepada sejumlah karyawan Pertamina yang gelagapan.
Dahlan memang petinggi Republik yang unik. Di kabinet sekarang, barangkali dialah salah satu pejabat yang paling santer dibicarakan publik—dengan nada positif. Dua tahun memimpin PT Perusahaan Listrik Negara, wartawan senior ini dinilai sukses menerapkan sejumlah gebrakan dan langkah terobosan.
Berikut petikan perbincangan Dahlan, mantan CEO Jawa Pos Group, dengan redaksi VIVAnews.com, yang dipenuhi gelak tawa dan guyon khasnya itu:
Bagaimana awal mula penunjukan Anda menjadi menteri?
Begini, pertama kan Menteri Negara BUMN saat itu, Mustafa Abubakar, sakit. Karena Beliau sakit, rupanya Pak SBY mencari siapa penggantinya. Periode kabinet masih tiga tahun, kan nggak mungkin ad interim. Ketika mencari pengganti, dipilih-pilih, didapatlah saya.
Sebenarnya prestasi Pak Mustafa cukup bagus. Saya saksinya. Sebagai Direktur Utama PLN, saya merasa happy di bawah Pak Mustafa. Pak Mustafa tidak banyak intervensi, termasuk bersih, dan tidak memanfaatkan PLN untuk kepentingannya sendiri.
Saya orangnya husnuzon (berbaik sangka). Artinya begini, jika saya menjadi Pak SBY, saya akan mencari orang non partai untuk menangani BUMN. Jika Pak SBY memutuskan Menteri BUMN dipegang oleh orang Partai Demokrat, tentu Pak SBY jadi bulan-bulanan--dituduh akan dijadikan kas untuk 2014. Untuk yang non partai saja ada anggapan begitu, apalagi yang dari partai.
Saya kira ini suatu kewajaran. Saya kan orang non partai. Pak SBY akan memilih orang non partai untuk Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan. Saya kira, setiap orang yang memiliki sensitivitas tentu akan melakukan langkah itu.
Kalau boleh memilih, saya pilih di PLN. Pak SBY tahu saya di PLN belum selesai. Tapi, Pak SBY rupanya berkepentingan ada orang non partai yang punya pengalaman di BUMN. Di PLN saya sekolah banyak banget tentang memahami BUMN. Saya ini dianggap orang yang tahu BUMN, tapi belum terkontaminasi oleh BUMN, sehingga dianggap Beliau cocok.
Apa reaksi Anda pertama kali ketika Presiden mengangkat Anda sebagai menteri?
Yang terucap adalah saya bilang ke Beliau (SBY), “Pak, saya ini nangis kalau ditunjuk jadi Menteri BUMN. Saya pilih di PLN. Biarlah saya mengawal program-program PLN sampai selesai, satu tahun lagi. Saya ingin mengawal sendiri program-program yang begitu besar di PLN.”
Beliau bilang, kan PLN masih di bawah BUMN. BUMN ini asetnya Rp2.500 triliun, tapi hasilnya kok begitu kecil. Presiden juga kelihatan merasa terhina kalau BUMN Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga, terutama Malaysia. Sehingga, SBY mencari orang yang Beliau anggap bisa membawa BUMN maju.
Tapi ini belum tentu, kan? Saya kan belum tentu bisa… hehehe.
Kemudian, dia bilang begini, “Saya percaya Pak Dahlan bisa. Di mata saya, Pak Dahlan itu man of idea dan man of action.” Itu yang Beliau ucapkan. Jadi, Beliau rupanya memerlukan orang yang idenya banyak dan berani melangkah, berani action. Ketika mengangkat saya menjadi Dirut PLN, kata-kata itu juga yang Beliau ucapkan. Berarti kan Beliau sudah tahu sebelum di PLN, saya di mata Beliau seperti itu.
Bahkan, ketika ditunjuk jadi Dirut PLN, saya terang-terangan lagi, “Pak, saya orang sakit, saya bukan insinyur listrik, tidak mengerti listrik.”
Tapi, waktu itu Beliau bilang begini, “Saya tahu semua itu, Pak Dahlan. Tetapi, saya perlu leadership dan manajemen dari Pak Dahlan.”
Beliau tahu saya tidak ahli di bidang tertentu, tidak ahli di bidang engineering. Tapi memang yang diperlukan Beliau bukan keahlian di bidang itu, tetapi leadership dan manajemen. Saya kira di Kementerian BUMN juga masih diperlukan leadership dan manajemen--bukan keahlian saya di bidang keuangan, telekomunikasi, perikanan, atau perkebunan. Meski Kementerian BUMN membawahi bidang-bidang itu, tapi muaranya kan pada leadership dan manajemen.
Anda lama menjadi wartawan dan pengusaha media, tiba-tiba diangkat jadi Dirut PLN, lalu Menteri Negara BUMN. Kenapa Anda mau? 
Awalnya saya tidak mau dengan alasan sakit.
Siapa yang mengusulkan nama Anda? 
Saya tidak tahu. Tapi begini, ketika saya sakit begitu parah, sehingga dua tahun berada di luar negeri, mondar-mandir ke China, praktis saya tidak bisa mengurus perusahaan. Kemudian, perusahaan diurus anak saya, yang laki-laki, Azrul Ananda. Saya amati, saya tinggal kok perusahaan berjalan baik. Setelah dua tahun saya sembuh, perusahaan kok lebih baik dibandingkan waktu saya sakit.
Common sense saya mengatakan untuk apa saya balik lagi ke perusahaan? Pertama, berarti saya akan mengecewakan generasi baru yang ternyata mampu. Dan kedua, kalau saya balik, saya merusak kultur yang dia bangun selama dua tahun.
Saya menganggur. Kemudian saya bertekad bergerak di bidang pendidikan. Saya mendirikan madrasah internasional di desa. Saya ingin madrasah internasional ini berkembang karena keluarga saya sebelumnya sudah punya 120 madrasah tradisional dan kondisinya jelek. Sebelumnya saya tidak pernah mengurusi madrasah keluarga karena sibuk di perusahaan.
Ketika saya menganggur, saya mencoba mengurusi madrasah keluarga dengan cara melakukan pembaruan dengan mendirikan satu madrasah internasional. Nanti, kalau sudah jadi, saya akan copy ke 120 madrasah lainnya. Praktis saya mencurahkan diri ke sana sambil menulis buku.
Mungkin Pak SBY tahu saya lagi nganggur. Seandainya saya kelihatan aktif di Jawa Pos, saya pasti tidak diminta. Tapi, ketika Beliau lihat saya menganggur, mungkin Beliau berpikir, “Nah, ini ada orang yang menganggur, saya kasih pekerjaan saja”… hehehe.
Anda sudah lama kenal SBY?
Sudah lama sekali, tapi tidak intensif, sekadar sebagai wartawan. Misalnya ketika saya di Jawa Pos, ikut kunjungan Beliau keluar negeri. Kemudian Beliau pernah berkunjung ke Jawa Pos, ke koran-koran anak perusahaan Jawa Pos, seperti ke harian Fajar di Makassar. Ya begitulah, kenal dalam pengertian saya sebagai wartawan atau pemimpin redaksi, saya sebagai Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS).
Kenal mendalam tidak, kenal pribadi non formal tidak pernah. Beliau kenal saya karena reputasi saya membesarkan media. Mungkin Beliau mencatat karakter dan integritas saya. Tapi, kenal pribadi dalam artian persahabatan, tidak.

Anda dinilai berhasil memimpin PLN dan menerapkan good governance di perusahaan yang dikenal sangat korup. Apa kuncinya?
Di PLN saya agak berbeda karena mendapat keistemewaaan. Ketika diangkat menjadi Dirut PLN, saya mengajukan syarat. Saya harus diperbolehkan menunjuk direktur-direktur PLN atas pertimbangan saya sendiri, sehingga direktur diangkat tidak atas rekomendasi pejabat ini dan itu. Saya pilih sendiri siapa saja yang jadi direktur PLN, dan saya bertekad untuk tidak membawa satu pun orang luar.
Saya sangat percaya bahwa di semua organisasi, termasuk di BUMN, sebetulnya yang betul-betul tidak baik itu cuma 10 persen. Tapi, yang betul-betul baik juga hanya 10 persen. Sisanya, yang 80 persen itu ikut-ikutan saja. Kalau mendapat pemimpin dari kelompok 10 persen yang tidak baik itu, sikap yang 80 persen itu akan begini, "Ya, zamannya memang lagi begini, kita ikut saja, deh. Yang penting karier saya tidak terganggu, gaji saya utuh."
Tapi, kalau yang memimpin adalah dari kelompok 10 persen yang bagus tadi, maka sikap mereka jadi begini, "Ya, begitu dong jadi pemimpin, jadi kita semangat, bisa maju perusahaan."
Karena saya percaya di PLN ada 10 persen orang yang sangat baik, maka saya pilih direktur dari kelompok tadi. Dengan demikian, maka integritas direktur PLN baik dan yang 80 persen akan ikut.
Dari program-program good governance yang Anda terapkan, berapa uang yang berhasil dihemat? 
Dalam hal uang, dari tahun pertama pengadaan strategis saja kami berhasil menghemat Rp2,4 triliun. Bisa bikin VIVAnews berapa banyak, tuh... hehehe.
Angka itu dari mana?
Pengadaan strategis itu begini. Dulu, gardu induk itu ditenderkan begitu saja. Padahal, di dalam gardu induk ada unsur trafo dan macam-macam lainnya. Akhirnya, yang jadi pemenang tender selalu pedagang, arranger. Bisa saja pedagang minta ke rekanannya pabrik trafo agar jangan mengaku harga trafo murah, karena nanti harga bisa rusak. Pabrik trafo kan tergantung kepada pemenang tender.
Sistem itu kami ubah. Tender tidak boleh begitu lagi. Leader sebuah proyek harus pabrikan langsung. Yang lain harus ikut pabrikan itu. Hasilnya, tender gardu induk harganya jadi murah sekali. Sebagai contoh, trafo IBT 500 KV dulu harganya Rp120 miliar, sekarang hanya Rp40 miliar. Ini karena sistem tender yang diubah.
Di PLN banyak proyek besar yang jadi rebutan kelompok penguasa. Di masa Anda bagaimana? 
Tender bebas.
Anda pasti pernah ditelepon orang ini dan itu...
Saya tidak peduli. Yang membahagiakan saya di PLN adalah: telepon-telepon semacam itu ada, yang mengajak makan siang ada, mengajak ketemu ada, dan semua saya layani. Saya bukan tipe orang yang nggak mau diajak makan siang. Kalau makan siang, ya makan siang. Ditelepon saya terima. Tapi, di situ saya tidak tergoyahkan sama sekali. Semua harus mengikuti prosedur. Saya happy di PLN bisa seperti itu.
Apa pencapaian terpenting Anda selama memimpin PLN?
Krisis listrik teratasi. Krisis listrik beda dengan mati lampu, lho. Krisis listrik itu kekurangan listrik di Indonesia. Itu saya happy, dalam waktu enam bulan semua bisa teratasi. Yang bikin happy lagi karena PLN ternyata mampu mengatasinya, bukan karena saya.
Dengan mengatasi krisis listrik dalam enam bulan itu, confidence orang PLN naik luar biasa. Berarti, PLN mampu mengatasi hal-hal lain yang sama besar atau lebih besar. Krisis listrik itu membuat karyawan PLN sempat tidak berani menggunakan seragam PLN, didemo di mana-mana. Bahkan, ada Kepala Cabang PLN yang dijemur oleh masyarakat di Tanjung
Pinang. Orang mungkin menyangka kalau kepala cabangnya dijemur, listriknya bakal keluar … hehehe. Padahal, mau dijemur dua bulan pun kan listriknya nggak akan keluar-keluar.
Kemudian, PLN bisa menghabiskan daftar tunggu pemasangan listrik dari 2,5 juta orang. Mereka sudah mengantre 3 tahun, 5 tahun, bahkan 7 tahun nggak dapat listrik. Saat itu, semua dapat.
Tapi, pencapaian yang terbesar adalah saat saya bisa membentuk tim yang saya sebut "The Dream Team" di PLN. Titik beratnya adalah integritas dan antusiasme. Orang PLN itu pintar-pintar, kok.
Dulu pemadaman listrik terjadi berkali-kali, sekarang hampir tidak pernah. Apa yang dilakukan PLN?
Banyak sekali pertanyaan seperti itu. Tidak ada pemerintah drop uang, kok bisa? Ini belum pernah saya ungkapkan dari mana PLN dapat uang untuk membiayainya.
Jadi begini, ada satu proyek, sudah ditenderkan, nilainya Rp15 triliun. PLN harus menyediakan uang Rp1,5 triliun. Pemenangnya sudah ditentukan. Kebetulan, tendernya bermasalah. Proyek itu di Muara Tawar. Seandainya diteruskan akan selesai 2013.
Menurut hitungan saya, pada 2013 itu akan ada banyak sekali pembangkit listrik yang jadi. Untuk apa membangun lagi? Lalu, proyek saya batalkan. Dengan pembatalan itu, PLN akan menghemat Rp15 triliun dan dalam bentuk cash Rp1,5 triliun. Uang itu yang saya pakai untuk memperbaharui sistem distribusi trafo.
Jakarta itu sekarang kuat sekali. Seandainya terjadi seperti kebakaran gardu induk, seperti di Cawang, Jakarta Timur beberapa tahun lalu, takkan ada pemadaman karena sudah di-backup oleh Bekasi, Gandul, Kembangan, dan lain-lain. Dulu tidak ada backup sama sekali, apalagi di luar Jakarta.
Lalu, saya benahi pengadaan trafo distribusi, yaitu trafo yang ada di pinggir-pinggir jalan yang melayani 200 rumah. Di tahun pertama saya beli 10 ribu trafo. Tahun kedua 15 ribu dan tahun depan 15 ribu lagi.
Dulu, banyak trafo yang saya sebut “trafo menangis”, yang sudah meleleh, tanda hampir mati, dan lama tidak pernah diganti. Juga ada “trafo hamil”, karena sudah melengkung. Itu tanda-tanda mau meledak, juga tidak diganti. Sekarang saya bilang, masih “hamil muda” trafo sudah harus diganti, sudah mulai menitikkan air mata harus diganti. Cabang-cabang harus punya stok trafo baru, sehingga tidak harus meledak dulu baru diganti.
Akibatnya apa? Tidak ada pemadaman. Karena kalau meledak baru diganti, apalagi tidak ada trafo pengganti, pemadaman bisa berlangsung lama. Pemadaman yang di tiap kota biasanya terjadi 100 kali, sekarang tinggal 5 kali.
Resep keberhasilan Anda membangun PLN sekarang akan diterapkan juga di BUMN lain?
Tidak semua BUMN bisa menggunakan satu resep. Akan beda-beda resepnya. Misalnya, perkebunan, tidak bisa begitu. Perkebunan itu, 60 persen biayanya untuk membeli pupuk. Nanti akan kami lihat bagaimana cara membeli pupuknya, kemudian cara penggunaannya. Kiat tidak hanya satu, tapi ada seribu kiat.
Salah satu terobosan yang akan diterapkan di BUMN nanti seperti apa?
Begini, ada galangan kapal IKI (PT Industri Kapal Indonesia) yang sudah dua tahun tidak bisa menggaji karyawan dan direksinya. Saya ke sana. Mental manajemennya sudah mental menunggu pertolongan dari luar, terutama minta uang dari PPA (PT Perusahaan Pengelola Aset).
Tanpa uang itu, menurut manajemen perusahaan tidak bisa beroperasi. Karena itu, manajemen hanya berharap-harap, uang kok nggak turun-turun. Sepertinya itu uang dia, sehingga menyalah-nyalahkan PPA.
Saya datang ke sana, melihat sendiri, memang parah sekali. Dripping dock sudah rusak, pintu air sudah bocor semua, dan pompa airnya sudah tidak bisa memompa. Memompa air dari dripping dock perlu waktu satu minggu, padahal seharusnya cuma empat jam, sehingga kapal yang mau diperbaiki tidak selesai-selesai. Dermaga sudah hancur, slipway rusak tidak bisa dipakai. Tanpa perbaikan, ini semua tidak bisa jalan. Biaya yang dibutuhkan Rp90 miliar, ya itu tadi, menunggu-nunggu uang dari PPA.
Saya lihat, di sana pasarnya besar. Di Indonesia ada 6 ribu kapal, dan ada peraturan setiap beberapa bulan sekali harus diperbaiki.
Jadi, pasarnya ada. Yang sulit itu buat perusahaan kan kalau pasarnya tidak ada. Kalau pasarnya ada, apa saja bisa jalan. Tapi, karena mental manajemen sudah terlanjur berharap-harap, mereka sudah tidak kreatif lagi. Saya lalu malah datang ke PPA dan minta agar mereka sama sekali tidak kasih uang ke BUMN itu, karena itu akan membuat BUMN menjadi manja saja.
Bagaimana solusi Anda? 
Saya bilang pintu air bisa diperbaiki, misalnya bekerja sama dengan PT Hutama Karya, yang biasa membuat bendungan. Nanti pembayarannya bulanan, kan sesama BUMN. Tidak akan merugikan, pembayaran mahal sedikit tidak apa-apa. Lalu, pompanya bisa minta ke supplier pompa, pembayarannya juga bulanan. Perbaikan dermaga bisa minta dikerjakan Adhi Karya atau siapa, agak mahal sedikit tidak apa-apa, pembayarannya sama, bulanan.
BUMN yang seperti ini banyak banget, seperti Iglas, Kertas Leces, dan perusahaan perikanan. Mereka harus disiplin, sampai kelak situasi berubah. Mereka selalu beranggapan, tanpa uang tidak bisa jalan. Kan rusak mental manajemen seperti itu. Nanti kami perbaiki dari sini.

Untuk merestrukturisasi PT Leces apa solusi Anda? Bukannya ini BUMN yang pernah besar dan cukup mendominasi pasar kertas?
Pasar kertas tidak akan sebesar dulu. Di sana sedang membangun boilerbekerja sama dengan PT Waskita Karya. Ini tidak pakai uang, karena uangnya dari Waskita Karya. Boiler ini menghasilkan steam 240 ton. Dulu rencananya steam ini untuk menjalankan seluruh mesin. Ada lima mesin di sana. Karena steam paling banyak dipakai buat memanasi mesin, maka steam untuk membangkitkan listrik tidak cukup--hanya bisa membangkitkan paling banyak 25 MW. Listrik 25 MW ini tidak cukup menghidupkan mesin-mesin itu.
Jadi, dari mesin steam 240 ton itu separuh untuk memanasi pabrik kertas, separuh untuk membangkitkan listrik yang digunakan untuk menjalankan mesin. Tapi, belum tentu kertas yang dihasilkan terjual semua dan belum tentu ada margin. Sumber kesulitan Leces adalah pasar.
Saya malam Idul Adha kemarin tidur di pabrik kertas. Karena saya harus Lebaran dengan keluarga, keluarga saya ajak ke sana. Jadi, kerjanya dapat, Lebaran dengan keluarga juga dapat. Setelah saya lihat marketing-nya, saya sarankan tidak boleh lagi memproduksi semua jenis kertas. Saya minta mereka memilih dua saja yang yakin pasarnya bagus. Akhirnya, satu mereka pilih kertas tisu untuk ekspor ke Amerika, dan kedua memproduksi kertas security printing yang persaingannya masih relatif kecil. Tak boleh memproduksi selain itu. Harus fokus.
Karena hanya memproduksi dua tipe kertas, maka steam yang digunakan juga tidak banyak. Cuma 10 ton. Listrik yang digunakan juga tidak banyak, mungkin cuma 10 MW. Sehingga mereka masih punya kelebihan steam-- karena dari kapasitas semula 240 ton, yang terpakai 10 ton.
Nah, steam sisa ini bisa memutar turbin hingga 60 MW. Mereka punya turbin. Daripada steam-nya menganggur, maka lebih  lebih baik untuk memutar turbin. Katakanlah paling kecil 50 MW. Yang dipakai oleh pabriknya sendiri sekitar 10 MW. Masih ada 40 mega, saya minta mereka jual ke PLN. Jadi, Leces tak hanya jualan kertas, tapi juga listrik. Kalau dia jual 40 MW ke PLN, paling tidak bisa menghasilkan uang Rp100 miliar.
Kemudian, bahan bakunya kelebihan juga. Jual barang baku itu. Saya tanya: laku tidak? Laku, bisa dapat Rp100 miliar. Jual saja, daripada bahan baku diproduksi gak laku atau malah marginnya tidak ada, mending jual saja bahan baku itu.
Jadi, nanti dari listrik dapat Rp100 miliar, bahan baku Rp100 miliar, jualan tisu Rp100 miliar, dan jualan kertas sekuriti Rp50-60 miliar. Sudah, itu solusinya. Harus disiplin.

Apa sikap Anda soal kepemilikan asing di BUMN telekomunikasi?
Itu sudah terjadi. Ada baiknya, ada tidak baiknya. Baiknya kita jadi sangat familiar dan welcome terhadap dunia internasional. Kurang baiknya, kita menyesal saja. Ternyata, perusahaan ini bagus banget, tapi kok ya dijual. Tetapi, kita kan nggak boleh menyesal terus, tidak habis-habisnya sampai masuk rumah sakit jiwa... hahaha.
Ada kemungkinan buyback saham?
Terserah manajemennya. Saya serahkan kepada kebijakan korporasi perusahaan tersebut. Nanti, banyak hal akan kami serahkan kepada manajemen BUMN yang bersangkutan untuk melakukan aksi korporasi, termasuk soal Serikat Pekerja.
Kemarin, saat demo di Telkom, saya instruksikan kepada seluruh jajaran Kementerian BUMN untuk tidak ikut turun tangan. Serahkan sepenuhnya kepada manajemen Telkom. Kami tidak boleh memanggil manajemen, jangan menegur, jangan bertanya. Karena kalau itu dilakukan, nanti Serikat Pekerja akan merasa persoalan telah diambil alih. Padahal, belum tentu kami mampu mengambil alih dan belum tentu mengetahui persoalan mikronya. Yang tahu persoalan mikronya adalah manajemen setempat.
Sewaktu di PLN Anda rutin menulis catatan untuk karyawan, akan diteruskan sekarang di Kementerian BUMN?
Waktu di PLN saya menulis dua-tiga kali sebulan, sehingga ide-ide saya bisa diikuti oleh seluruh karyawan—ada 100 ribu, termasuk yang outsourcing. Misalnya, ketika saya pergi ke Halmahera, dengan membaca tulisan saya, mereka tahu apa yang saya pikirkan, yang saya kerjakan, semuanya mengikuti karena ditaruh di website PLN. Kemudian, beberapa koran mengambil itu, dikutip, silakan. Saya anggap itu komunikasi yang efektif dengan karyawan yang begitu besar. Berkomunikasi dengan 500 karyawan mungkin gampang, tapi kalau 100 ribu dan tersebar di seluruh Indonesia itu susah. Saya menulis karena itu.
Sekarang, setelah saya jadi Menteri BUMN, saya lagi mikir-mikir apakah akan menulis atau tidak. Saya akan putuskan dalam 1-2 minggu ini. Saya ingin sebagai menteri, seluruh karyawan BUMN tahu. Karyawan BUMN itu banyak sekali. PLN saja 100 ribu karyawan, Telkom 20 ribu, Kereta Api 18 ribu, belum lagi perkebunan. Saya perlu media komunikasi.
Sebetulnya, kenapa Anda selalu mengenakan sepatu kets?
Banyak yang bilang, "Pak Dahlan itu sederhana, ya." Lho, padahal sepatu kets ini mahal, lho... hahaha. Ya, ini pertama karena dulu kelamaan di media. Orang media itu kan cuek. Itu sudah kebiasaan saja. Yang saya khawatirkan adalah kalau tiba-tiba saya pakai jas, sepatu mengkilat... hehehe. Kan Pak SBY berpesan supaya menteri baru berlari kencang. Jadi, saya pakai sepatu kets dalam rangka supaya bisa berlari kencang itu ... hehehe. (kd)

Jumat, 11 November 2011

Kembali Ke Pasal 33 UUD 1945

Tinggalkan Neoliberalisme, Kembali Ke Pasal 33 UUD 1945

Jumat, 7 Oktober 2011 | Editorial Berdikari Online

Krisis ekonomi kembali berkecamuk di Amerika dan Eropa. Kali ini,
seperti dikatakan banyak ekonom, akan jauh lebih keras dan lebih hebat
dibanding krisis 2008 lalu. Pada September lalu, Dana Moneter
Internasional (IMF) sudah memperingatkan kemungkinan krisis finansial
global memasuki "fase lebih kritis".

IMF sendiri membagi krisis ini dalam empat fase: (1) Dimulai dari krisis
suprime mortage pada tahun 2007 dan mengancam sistem perbankan, (2)
Krisis perbankan, dimana bank-bank melalui krisis sistemik dan menyebar
ke eropa, (3) krisis utang yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa,
dan (4) krisis memasuki fase politis, dimana pemimpin-pemimpin politik
Eropa dan Amerika kesulitan mencapai konsensus untuk solusi finansial.

Tetapi, jika menganalisa lebih dalam lagi, krisis sekarang ini tidak
semata-mata krisis finansial atau persoalan keuangan. Krisis ini sangat
mendalam dan sistemik, yang akarnya berasal dari sistim kapitalisme
global itu sendiri. Juga krisis ini tidaklah dimulai pada krisis
subprime mortage tahun 2007 lalu, tetapi sudah terjadi sejak tahun
1970an.

Sejak tahun 1970 kapitalisme memasuki krisis mendalam akibat kontradiksi
internalnya, yaitu antara nafsu penciptaan keuntungan (profit) dari
proses produksi dan realisasi keuntungan (profit) dalam sirkulasi dan
distribusi. Ini sering disebut dengan krisis kelebihan produksi
(over-produksi) dan kelebihan kapasitas (over-kapasitas). Harry Magdoff
dan Paul Sweezy, dua ekonom marxist di Monthly Review, menganalisis
krisis keuangan aspek tak terpisahkan antara kecenderungan monopoli
capital dan stagnasi.

Untuk mengatasi dua krisis ini, kapitalisme mengambil dua jalan keluar:
finansialisasi dan neoliberalisme. Dengan finansialisasi, seorang
kapitalis dapat melipatgandakan keuntungan dalam waktu singkat. Dengan
mengklik mouse komputer, anda dapat memindahkan miliaran dolar di pasar
keuangan di seluruh dunia. Persoalannya, model ini memang bisa
menciptakan keuntungan dalam hitungan detik, tetapi tidak pernah
menciptakan nilai baru—hanya industri, pertanian, perdagangan dan
jasa yang menciptakan nilai baru.

Hal itu mendorong keterpisahan antara sistem finansial dan ekonomi riil.
Karena finansialisasi sangat tergantung pada aksi spekulatif, maka tidak
mengherankan kalau sektor finansial hinggap dari satu gelembung ke
gelembung lainnya, dari krisis ke krisis.

Sementara, dengan jalur neoliberalisme, kapitalis global mempromosikan
integrasi ekonomi global ke negeri-negeri semi-kapitalis, non-kapitalis,
atau pra-kapitalis. Ini dilakukan melalui liberalisasi perdagangan
barang dan jasa, dengan menghilangkan segala bentuk rintangan terhadap
mobilitas modal dan investasi asing. Dengan skema ini, mereka berharap
bisa membuang kelebihan produksi negara maju di pasar-pasar yang baru
dibuka di dunia ketiga, mengurangi biaya produksi dengan relokasi pabrik
ke dunia ketiga dan praktek politik upah murah.

Tetapi, terbukti bahwa kedua jalan tersebut mengalami kegagalan, bahkan
telah membawa sistim kapitalisme global ke dalam krisis yang lebih
mendalam: bank kolaps, pemerintah menggunakan dana publik untuk
membailout bank-bank, rakyat kehilangan pekerjaan, dunia jatuh ke dalam
krisis mendalam, harga pangan dan sembako meroket, lalu letupan sosial
di berbagai tempat.

Menjawab krisis ini, para pemangku kebijakan di eropa membentangkan dua
solusi temporer; penghematan atau stimulus. Jika mengikuti skenario
penghematan, seperti dianjurkan oleh lembaga keuangan global dan coba
dijalankan pemerintah AS dan eropa sekarang, maka terjadi pembongkaran
total terhadap berbagai bentuk kesejahteraan dan sistem jaminan sosial.
Kemiskinan dan pengangguran akan bertambah luas.

Cara kedua, yakni stimulus, seperti yang dianjurkan oleh Paul Krugman,
ekonom penerima nobel itu, maka negeri-negeri kapitalis maju dipaksa
untuk mengeluarkan dana stimulus yang lebih besar guna menggerakkan
ekonomi real dan demikian terjadi "permintaan agregat".

Dua solusi itu hanya soal waktu saja. Vijay Prashad, seorang professor
di Trinity College, Hartford, Connecticut, USA, menganggap bahwa
solusi penghematan akan membebankan krisis sepenuhnya di tangan rakyat,
sedangkan stimulus hanya akan menjadi ilusi sementara ala Keynesian.

Neoliberalisme, bahkan kapitalisme, sudah tidak lagi memberi kita
gambaran masa depan. Sebagai sebuah bangsa yang punya cita-cita besar,
yaitu masyarakat adil dan makmur, kita tidak mungkin menyandarkan
pencapaian cita-cita itu kepada sebuah sistem yang sudah terbukti gagal.
Oleh karena itu, sudah waktunya bangsa Indonesia berani meninggalkan
neoliberalisme.

Lalu, apa solusinya: para pendiri bangsa sebetulnya sudah menitipkan
sebuah cara mengorganisir ekonomi yang baik dan bisa memakmurkan rakyat,
yaitu pengorganisasian ekonomi menurut pasal 33 UUD 1945.

Dengan menerapkan pasal 33 UUD 1945, misalnya, maka perekonomian akan
disusun sebagai usaha bersama berdasar azas kekeluargaan. Ini jelas
bertentangan dengan neoliberalisme, juga kapitalisme, yang mengharuskan
kompetisi bebas dan kemakmuran untuk segelintir orang.

Dengan pasal 33 UUD 1945 juga, cabang-cabang produksi yang penting dan
menguasai hajat hidup orang banyak bisa dikuasai negara dan dipergunakan
untuk kemakmuran rakyat. Ini jelas merupakan antitesa terhadap model
ekonomi neoliberal sekarang, dimana cabang-cabang produksi yang penting,
termasuk layanan publik yang sifatnya dasar, diserahkan kepada swasta
dan menjadi objek menggali keuntungan.

Lalu, jika pasal 33 UUD 1945 diterapkan, kita bisa berdaulat terhadap
kekayaan alam kita dan mempergunakannya demi kemakmuran rakyat. Selama
ini kekayaan alam hanya dikeruk oleh pihak swasta (nasional dan asing)
untuk kemakmuran mereka, sedangkan rakyat Indonesia menerima kerugian
besar berupa perampasan tanah, pelanggaran HAM, dan kerusakan
lingkungan.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com

Ketahanan Pangan

Ketahanan Pangan Dan Spekulasi Pasar
Senin, 17 Oktober 2011 | Editorial Berdikari Online

Pada bulan Juni lalu, Menteri pertanian negara G-20 berkumpul di Paris,
Perancis. Mereka membahas masalah yang cukup rumit: keamanan pangan dan
harga yang terus meroket. Salah satu persoalan yang jadi pokok
pembahasan adalah soal pengaruh aksi-aksi spekulatif di pasar komoditas
terhadap harga pangan dunia.

Perdebatan ini sudah berkecamuk sejak tahun 2008, saat kenaikan harga
pangan dunia memicu kerusuhan dan pemberontakan di sejumlah negara. Saat
itu, mereka memperdebatkan membanjirnya uang di pasar komoditas global
sejak tahun 2003.

Pada tahun 2008, berdasarkan catatan PBB, lonjakan harga pangan
menyebabkan ratusan juta orang terjerumus dalam kemiskinan. Sementara
kenaikan harga pangan tahun ini (2011) menyebabkan 44 juta terseret arus
kemiskinan. Lalu, menurut sumber yang sama, kenaikan harga pangan pada
tahun 2009 menyebabkan satu milyar orang, atau seper-enam, penduduk
dunia, terus diintai oleh kelaparan.

Para pejabat PBB sendiri langsung menuding aksi spekulasi di pasar
sebagai penyebab melonjaknya harga pangan berkali-kali lipat. Jean
Ziegler, salah seorang pejabat PBB saat itu, menunjuk hidung sejumlah
perusahaan ekuitas telah mengambil banyak keuntungan dari
"kelabilan" harga pangan dunia.

Selain itu, seperti dilaporkan majalah Independent Inggris, korporasi
agrobisnis global juga turut meraup keuntungan sangat besar dalam
situasi itu. Sebut saja: Monsanto, salah satu pemain terkuat di
agrobinis, dilaporkan menerima kenaikan keuntungan tiga kali lipat sejak
tahun 2007. Sementara keuntungan Cargill, korporasi raksasa milik
Amerika Serikat lainnya, tiba-tiba melonjak 86% pada periode yang sama.

Harga pangan dunia sekarang banyak ditentukan oleh segelintir orang di
Chicago, Amerika Serikat. Di sebuah gedung bernama Chicago Board of
Trade (CBOT), bursa berjangka tertua didunia yang berdiri sejak 1848,
harga komoditi pertanian di seluruh dunia banyak ditentukan.

Padahal, orang-orang disana bukanlah petani, bukan pula pejabat yang
terlibat dalam merumuskan kebijakan pertanian, melainkan para pengusaha
dan spekulator yang menentukan harga berdasarkan prediksi musim,
bencana, gagal panen, dan lain sebagainya.

Apa bahanya bagi Indonesia?

Situasi ini jelas sangat berbahaya bagi Indonesia. Sejak tahun 1999
hingga sekarang, pasar pangan di Indonesia sudah terkoneksi dengan pasar
pangan global. Saat ini, gara-gara pemerintah sangat tunduk pada resep
neoliberal, hampir semua kebutuhan pangan di dalam negeri didapatkan
melalui impor.

Kita sekarang benar-benar sudah menjadi negara importir pangan: antara
tahun 1998-2001 kita menjadi negara importir beras terbesar di dunia;
dan kini setiap tahun kita impor gula 40 persen dari kebutuhan nasional;
impor sekitar 25 persen konsumsi nasional daging sapi; impor satu juta
ton garam yang merupakan 50 persen dari kebutuhan nasional; dan impor 70
persen kebutuhan susu.

Situasi itu juga telah membawa konsekuensi lebih buruk: sektor pertanian
di dalam negeri sudah hancur lebur. Pemerintah juga terlihat
"sengaja" mengabaikan sektor pertanian, demi menyambut proposal
korporasi-korporasi pangan global. Total impor pangan kita sudah
mencapai Rp 45 triliun.

Kita benar-benar berhadapan dengan situasi sulit di masa depan: kita
semakin bergantung kepada impor pangan untuk memberi makan 230 juta
rakyat kita, sementara harga pangan global ditentukan
"seenaknya" oleh segelintir tangan dan melalui spekulasi. Ini
sama saja dengan menyerahkan leher kita untuk dibunuh.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com

Semangat 10 November 1945

Melanjutkan Semangat `10 November 1945'
Kamis, 10 November 2011 | Editorial Berdikari Online

10 November 1945. Ahli-ahli sejarah mengingat peristiwa itu sebagai
peristiwa heroik dan revolusioner. Pada hari itu, rakyat Indonesia
memberikan perlawanan hebat kepada agressor/kolonialis yang baru saja
tampil sebagai "pemenang" dalam perang dunia ke-II.

Tetapi sejarah 10 November 1945 bukan sekedar cerita heroik, bukan pula
sekedar cerita tentang pengorbanan, tetapi juga tentang semangat mau
merdeka sepenuh-penuhnya dari segala bentuk penjajahan. Berpuluh-puluh
ribu orang rela menjadi tulang-belulang demi menghirup lebih banyak
kemerdekaan. Tidak sedikit diantara mereka adalah rakyat jelata: tukang
becak, bakul bakso, bakul tahu, penjual rombengan, dan lain-lain.

Kini, 66 tahun setelah proklamasi kemerdekaan dan peristiwa 10 November
1945, kita menghadapi situasi yang relatif sama: sebagian besar rakyat
kita masih terbelenggu dalam kemiskinan, sebagian besar ekonomi nasional
kita masih dikangkangi oleh asing, sebagian besar kehidupan ekonomi dan
politik kita masih ditentukan oleh pihak asing dan bukan oleh bangsa
kita sendiri.

Cita-cita proklamasi kemerdekaan, yaitu masyarakat adil dan makmur,
makin menjauh dari pangkuan mayoritas rakyat Indonesia. Kata
"merdeka" hanya menjadi slogan dan ungkapan kosong tanpa makna
di tengah lautan rakyat yang tetap saja miskin dan terhisap. Peringatan
hari pahlawan pun semakin berjarak dengan cita-cita mulia para pahlawan.

Bung Karno selalu mengatakan bahwa kemerdekaan hanyalah "jembatan
emas" menuju masyarakat adil dan makmur. Karena itu, dengan
mengikuti kata Bung Karno, tugas kita adalah membawa seluruh rakyat
Indonesia meniti di atas jembatan emas itu menuju masyarakat adil dan
makmur.

Tetapi analogi jembatan emas itu sendiri hanya merupakan penjelasan
tentang sebuah proses, yaitu revolusi. Di dalam Indonesia merdeka, tugas
kita adalah menjalankan atau melanjutkan revolusi itu, yaitu menjebol
segala yang menghambat kemajuan dan membangun landasan untuk masyarakat
masa depan.

Boleh dikatakan bahwa jembatan emas kemerdekaan itu sudah runtuh
sekarang. Proses membangun masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik
benar-benar terhenti di tengah-jalan. Penyebabnya adalah penghianatan
para pemimpin atau penyelenggara negara yang sengaja menelikung dari
cita-cita kemerdekaan.

Para pendiri bangsa, misalnya, menggariskan bahwa Pancasila dan UUD 1945
adalah pegangan hidup bangsa Indonesia dalam perjuangan mencapai
cita-cita nasionalnya. Tetapi, dalam praktek kemudian, para pemimpin
nasional sekarang justru mengabaikan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945.

Para penyelenggara negara, dari sejak orde baru hingga sekarang ini,
justru berpegang kepada faham dan sistem yang bertentangan dengan
Pancasila dan UUD 1945. Orde baru kemudian mengundang kembali
kolonialisme di Indonesia. Sementara pemerintahan pasca reformasi telah
mengubah tatanan ekonomi dan politik Indonesia menjadi liberal.

Sejak kebangkitan kaum pergerakan hingga penyusunan konsepsi negara
Indonesia merdeka ini, Indonesia masa depan sudah dirumuskan adalah
masyarakat yang bisa saling bekerjasama untuk mencapai kemakmuran
bersama. Karenanya, hampir semua pendiri bangsa menentang
neo-kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Sebab, semua sistem
(stelsel) itu bertentangan dengan cita-cita Indonesia masa depan.

Oleh karena itu, untuk kembali kepada cita-cita proklamasi kemerdekaan
dan semangat 10 November 1945, maka sudah saatnya kita membangkitkan
semangat rakyat untuk melawan neo-kolonialisme dan kapitalisme.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com

Selasa, 08 November 2011

GAJI MULTINASIONAL


Artikel dari Seorang Wanita Indonesia
 
*Januari 31, 2008*


To all my friends,

Sebetulnya yang bikin susah orang Indonesia itu ya orang Indonesia sendiri.
Juga berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, sekarang ini mudah
sekali menemukan orang HR dan top management yang orang Indonesia yang
menurut pendapat saya tidak qualified untuk posisi mereka. Problemnya,
di Indonesia saat ini masih berlaku seniority bukan quality. Dan yang paling
susah kalau top management dan orang HR tidak mempunyai background
management dan leadership qualities.Bagaimana mau memajukan dan
menguntungkan karyawan, mereka sendiri lebih concern dengan kelanggengan
posisi mereka sendiri. Mereka memikirkan nasib mereka duluan. Kalau mereka
aman, baru mereka memikirkan karyawan. Lagian kita juga sebagai orang
Indonesia jangan dibiasakan dengan pemikiran bahwa expat bule di Indonesia
itu lebih bagus dari kita. Berdasarkan pengalaman saya kerja di luar
Indonesia, saya menemukan kenyataan bahwa sebetulnya expat bule di Indonesia
sekarang ini banyak yang kualitasnya sama dengan pekerja biasa di sini.
Jadi, kalau memang ada bule di kantor rekan-rekan, anggap aja mereka itu
kolega bukan boss atau superior. Jangan menganggap mereka itu lebih tahu
dari kita. Dan yang paling penting rekan-rekan harus bisa memanfaatkan
peluang agar mereka share ilmu dan pengalamannya dengan kita.


Bicara soal gaji, memang ironis
Bayangkan aja di Indonesia mungkin rata-rata gaji fresh graduate sekarang
sekitar 2 juta/bulan (sorry if I’m wrong). Dengan 21 Hari kerja dan 8 jam
kerja per hari, gaji mereka berarti sekitar 11,900/jam. Kalau dikurs ke
US$cdengan rate (10,500) berarti > 1.13 dolar/jam. Woi…di sini secangkir kopi
Starbuck biasa aja udah 1.48 dolar. Buat beli kopi aja nggak akan cukup.

Jadi memang benar slave wages. Malah mendekati freelance.

Business ethic di Indonesia? Saat ini, dream on! Sulit sekali menemukan
perusahaan asing di Indonesia yang memang menerapkan company’s principals
and goals. Kenapa? Karena kembali lagi ke top managementnya yang orang
Indonesia. Jadi, sadarlah rekan-rekan, sebetulnya yang bikin susah kita itu
orang Indonesia Sendiri. dan ini dilanggengkan dengan kultur Indonesia yang
memang suka segan untuk complaint, terima apa adanya yang penting aman.

Simak ini:

Apakah kebodohan2 perusahaan multinasional yang Ada di Indonesia, yg antara
lain dilanggengkan oleh mental para staff HR-nya?

1. Bangga bahwa gaji karyawan jauh diatas UMR. Hal ini bodoh sekali, karena
dia telah memposisikan diri setara dengan perusahaan lokal yg paling miskin,
yang menjadi pangkal perhitungan UMR. Jadi kita ketawain saja kalau ada
perusahaan multinasional (bank, konsultansi, tambang batubara, minyak, emas,
dll.) yg bangga karena upahnya telah memenuhi UMR. Dan sebagai orang HR anda
harus malu…. Dan menangis. (Perbandingan yg benar: Wah mekanik kami digaji
dibawah mekanik Australia. Kami hanya menggaji Rp 3jt, padahal di Australia
mereka mendapat 4 ribu dollar. Padahal produktifitas mereka sama. Kami akan
berjuang untuk perbaikan gaji… Dlsb.)

2. Upah karyawan lokal bisa dibilang “slave wages”. Itulah yang langsung
saya dengar dari manajer HR bule. “We pay slave wages in Indonesia”.
Berapakah gaji seorang Admin Assistant? Rp. 700 ribu? Seorang operator
mining Rp. 1,5 juta? Rp 2 juta? Itu kan sama dengan US 62 dolar hingga 200
dolar. Sama dengan upah seorang pencuci piring selama 5 jam di AS. Kalau
orang HR di perusahaan multinasional sudah bermental kere, maka IA akan
bangga memberikan “slave wages”. Kalau manajernya juga bermental begitu…
Wah.. Ya sudah…

3. Bangga bisa memeras karyawan Indonesia, cuek dengan gaji konsultan asing.
Sebagai orang HR, Anda pasti dipuja-dipuji, bisa mereduce cost hingga
seminim mungkin. Anda bangga dengan prestasi ini. Hasilnya: Gaji 200 staff
Indonesia bisa jadi sama dengan gaji 10 konsultan bule…. Ini benar Ada yg
begitu lho (Dan Anda masih bisa tidur nyenyak???)

4. Punya business ethics tapi diterapkan secara pilih2 di Indonesia. Wah,
bulan2 ini saya dengar banyak perusahaan yang bangga mensosialisasikan code
of conduct/business conduct/business ethics yg dibuat perusahaan induk.
Mulai dari perusahaan konsultasi hingga groceries dan Internet related
companies. Tapi, saya yakin penerapannya pilih2.

Contoh : dalam salah satu code of conduct dari perusahaan konsultan
multinasional yang saya dapatkan di websitenya, mengatakan: “employees with
similar responsibilities should be rewarded with fair and similar benefits
without discriminations on sex, races, nationalities and religions”.

Well, bagus sekali. Dan itu saya kira pas sekali dengan prinsip keadilan
universal. Lalu saya tanyakan ke teman saya yg kerja di anak perusahaan
setempat, apakah hal itu masuk di versi Indonesianya? Weh, ternyata tidak.

Usut punya usut, itu bisa jadi ‘pasal’ rawan, karena ketika saya tanyakan
berapa range gaji seorang manajer Indonesia? “Well, seorang manajer
perusahaan kami kurang lebih mendapat gaji Rp.13juta/bulan. Yang bule kurang
lebih US 10 ribu./bulan”. Wah, itu sih malah business “misconduct” bukan
conduct.


So, teman2 HR, itulah kebodohan2 perusahaan multinasional yang telah saya
amati selama bertahun2 bekerja di luar negeri lalu kerja di dalam negeri. Di
Malaysia dan AS saya digaji sama dengan orang bule maupun orang Afrika. Jadi
kesimpulan saya adalah : Orang2 HR Indonesianya sendirilah yang membuat
pekerja Indonesia ini menderita…So, marilah Kita bersama2 tertawakan para HR
staff perusahaan Multinasional di Indonesia.

Lain kali kalau ketemu orang HR multi-nasional, Kita tanyakan saja apakah ia
bener2 bangga kerja di perusahaan dengan karakter di atas. Bila iya? hehe
memang dasar ….

Maafkan saya bila mengungkapkan hal2 yang pahit tapi benar.

LISTRIK MATI DI LUMBUNG ENERGI


Oleh: Dahlan Iskan

Cap "listrik mati di lumbung energi" sudah lama melekat di lima provinsi
ini:?  Riau, Sumsel, Kalsel, Kalteng, dan Kaltim. Lebih 15 tahun krisis listrik
melanda mereka. Padahal, batu bara dari lima provinsi itulah yang membuat
kota-kota besar dunia, seperti Singapura dan Hongkong, terang benderang.

Yang seperti itu tentu tidak boleh berlanjut lebih lama lagi. Akhir tahun ini
Sumsel sudah bisa men-delete cap negatif itu. Bulan lalu unit 1 PLTU batu bara
di dekat Prabumulih sudah menghasilkan listrik 115 mw. Bulan depan unit 2-nya
menyusul beroperasi.?

Belum lagi yang bertenaga gas. Dalam tiga bulan ke depan Sumsel akan dapat
tambahan 200 mw dari gas setempat. Dalam tahun ini secara total Sumsel dapat
tambahan hampir 500 mw. Maka, mulai Januari nanti, cap "listrik mati di
lumbung energi" mesti sudah berubah menjadi "si lumbung energi mulai berbagi
rezeki". Maksudnya, Sumsel akan membagi kelebihan listriknya ke Riau dan
Bengkulu melalui transmisi Pagar Alam-Kiliranjau-Payakumbuh-Pekanbaru.

Bersamaan dengan itu, pembangunan gardu induk baru di Baturaja juga sudah
selesai. Keluhan masyarakat di wilayah Komering hilir dan hulu akan teratasi.
Maka, untuk Sumsel, praktis tinggal wilayah sekitar Sungai Lilin yang masih
menderita. Memang sudah ada rencana pembangunan gardu induk yang sangat besar di
situ, tapi memerlukan waktu dua tahun. Sambil menunggu proyek itu selesai, tiga
kecamatan di sekitar Sungai Lilin akan diperkuat dulu dengan pembangkit diesel.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin memang sangat agresif dalam membantu PLN mencari
jalan keluar untuk mengakhiri krisis listrik di wilayahnya. Beda dengan gubernur
Sumut, yang untuk mengeluarkan izin PLTA Asahan-3 saja sulitnya bukan main.
Sampai sekarang pun, izin untuk membangun pembangkit besar yang ramah lingkungan
itu belum keluar. Padahal, sudah lebih satu tahun izin itu diminta. Padahal,
Sumut sangat memerlukan listrik.

Bagaimana dengan Riau? Itulah lumbung energi yang sangat fakir energi. Provinsi
tersebut termasuk yang rasio elektrifikasinya kurang dari 50 persen. Untung,
Riau punya gubernur seperti Rusli Zainal, yang terus mengobrak-ngobrak PLN
sambil memberikan pemikiran jalan keluar.

Listrik untuk Pekanbaru kini memang sudah cukup. Tapi, mencukupinya dengan cara
yang sangat mahal. Sedangkan kabupaten-kabupaten kaya, seperti Palalawan,
Indragiri Hulu (Rengat), Indragiri Hilir (Tembilahan), Kepulauan Meranti
(Selatpanjang), Siak (Siak Indrapura), dan Rokan Hilir (Bagan Siapi-api), baru
sekarang ini mendapat gambaran yang lebih jelas.

Setelah keliling Bagan Siapi-api, Rabu lalu saya kembali ke Riau. Keliling ke
kabupaten-kabupaten itu. Kali ini harus melakukan perjalanan 18 jam. Tujuh jam
di antaranya melalui sungai dan selat. Dari perjalanan tersebut saya baru tahu
bahwa ada perkebunan kelapa hibrida yang sangat besar di pantai timur Riau. Di
situ pula terlihat dua pabrik kelapa yang sangat besar. Itulah pabrik yang
menghasilkan santan Kara, yang pasarnya meluas ke seluruh dunia.

Di kawasan itu pula banyak tumbuh "kota baru" dengan bangunan-bangunan
bertingkat lima yang padat. Penduduknya bukan manusia, melainkan burung-burung
walet. Kabupaten-kabupaten yang saya lihat itu, APBD-nya melebihi Rp 1 triliun,
tapi listriknya sangat duafa. Di mana-mana bupatinya membangun kota baru,
gedung-gedung baru, jembatan baru, dan masjid-masjid baru. Juga membangun
jalan-jalan kembar baru. Lengkap dengan tiang-tiang listrik yang berjajar indah,
tapi tidak pernah menyala lampunya.

Bahkan, seperti di kota baru Kerinci, banyak tiang listrik yang lampunya sudah
hilang. Kabelnya juga sudah dicuri orang. Jaringan listrik yang tidak bersetrum
memang menjadi sasaran empuk pencuri.Untuk mengatasi kelistrikan di Kerinci dan
Rengat, kami berhasil mendapatkan "lima sendok" gas dari jaringan pipa besar
yang mengalirkan gas dari Riau ke Singapura. Meski hanya lima sendok (5 bbtud),
tetaplah harus disyukuri. Kami bisa membangun PLTG 25 mw di Sorek, kota kecil
antara Kerinci dan Rengat.

Tiga bulan lagi pembangunan tersebut selesai. Bupati baru Rengat, Yopi Arianto
yang baru berumur 24 tahun, senang bukan main. Dia menjemput saya di lokasi
proyek itu dengan berbinar-binar. Janji kampanyenya dalam pilkada lalu segera
terpenuhi. Dalam perjalanan ke Rengat "saya yang menjadi sopir" sang bupati
menceritakan betapa fakir dan miskinnya Rengat di bidang listrik.

Cara Rengat itu akan kami teruskan untuk mengatasi Selatpanjang dan Siak. Kepada
Bupati Selatpanjang Irwan Nasir yang menjemput saya di dermaga yang gelap, saya
kemukakan perlunya ngemis gas barang lima sendok dari sumber gas yang besar di
dekat pulau itu. Malam itu juga, sambil makan malam di pinggir selat, saya
langsung hubungi pejabat tinggi BP Migas. Ternyata, program tersebut didukung
penuh oleh BP Migas. Mendengar kabar itu, sang bupati, ketua DPRD,
pimpinan-pimpinan fraksi yang ikut makan malam, semuanya bergembira.

Harapan mereka untuk membangun Selatpanjang tidak bertepuk sebelah tangan. Kota
berpenduduk 150.000 jiwa tersebut memang sedang melakukan pembenahan
besar-besaran. Jalan-jalan diperbaiki dan dilebarkan. Pelabuhan baru juga
dibangun. Jembatan baru menuju Pulau Merbau yang akan dijadikan pusat
pemerintahan disiapkan. Jembatan panjang ke arah daratan Sumatera juga dirintis.
Tanah untuk bandara sudah diadakan. Instalasi penjernih air laut sudah dalam
penyelesaian. Semua itu memerlukan listrik.

Kota itu jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan. Sudah ada hotel yang
sangat baik. Nama-nama jalan ditulis dengan huruf Latin dan Arab, menandakan
budaya Melayu-nya sangat kental. Kelentengnya lebih dari 20 buah, menandakan
masyarakat Tionghoa-nya sangat dominan.

Selatpanjang tidak memiliki sumber air minum untuk penduduknya. Air didatangkan
dengan kapal atau menunggu saja air hujan. Pembangunan instalasi penjernihan air
itu menjadi sangat vital. Dengan gas lima sendok tersebut, tahun depan kota yang
hanya 1,5 jam perjalanan speedboat dari Singapura itu akan terang benderang.

Pukul 05.00 saya sudah menuju dermaga lagi untuk meneruskan perjalanan ke
Kabupaten Siak. Itulah kabupaten yang pernah menjadi ibu kota Kerajaan Siak,
yang peninggalan istana dan sekitarnya masih terawat dengan baik. Kota Siak
sendiri sudah diperbarui dengan gegap gempita. Ekonominya sangat maju. Bulan
lalu sudah dibuka hubungan feri langsung dari Siak ke Melaka di Malaysia.

Tata kota Siak yang baru itu sangat rapi. Di tengah kota dibiarkan ada hutan
kota seluas 30 hektare. Jembatan besar yang megah dan indah dibangun untuk
menyatukan dua sisi kota yang terbelah oleh Sungai Siak yang lebar itu.
Jalan-jalan rayanya dibuat kembar. Lampu-lampu penerangan jalannya dibuat indah
dan masif. Tapi, lampu-lampu tersebut tidak pernah menyala. Tidak ada listrik
untuk menghidupkannya.

Kepada wakil bupati Siak yang menjemput saya di dermaga saya ceritakan bahwa PLN
juga sedang mengemis gas barang lima sendok untuk kabupaten itu. Siak yang kaya
gas tentu tidak pantas kalau gelap gulita.

Saya kembali menghubungi BP Migas. Sekali lagi, sebagaimana di Bintuni, Rengat,
dan Selatpanjang, di Siak pun BP Migas mendukung. Dengan lima sendok gas itu
Joko Abunaman, pimpinan PLN Riau, akan membangun pembangkit listrik 25 mw untuk
Kota Siak dan sekitarnya. Bupati Siak pun, Syamsuar, terlihat sangat senang.
"Sarapan dulu di sini" katanya melalui telepon saat saya masih dalam
perjalanan dari Selatpanjang. Kami pun singgah ke rumahnya untuk makan pagi.
Kalau gas lima sendok itu benar-benar tersedia, tahun depan Siak sudah terang
benderang. Diesel-diesel kecil di berbagai kecamatan bisa dimatikan.

Masih banyak yang akan dibangun di Riau. Kini sudah ditenderkan pengadaan
pembangkit listrik 100 mw di Duri. Akhir tahun depan proyek tersebut selesai. Di
luar itu masih ada proyek PLTU 2 x 110 mw, yang kini pemancangan tiang
fondasinya sedang dikerjakan. Untuk PLTU yang sama besar, sedang disiapkan
tanahnya di Dumai. Bahkan, untuk PLTU yang lebih besar lagi, 2 x 300 mw di
Peranap, sudah selesai tendernya.

Ayam memang tidak boleh mati di lumbung padi. Kecuali, kita memang tega
mencekiknya. (*)

Dahlan Iskan
CEO PLN


________________________________

Catatan lain dari CEO PLN, Dahlan Iskan
Subject: PLN CEO' Note - An Inspirations
Betapa relatifnya sebuah kekuasaan!!!

Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah cara
Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh
karyawannya. Surat itu diberi nama CEO' Note. Tujuannya, seluruh karyawan PLN
yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan
keinginan pimpinan puncak perusahaan.Setiap kali CEO'Note terbit, banyak
tanggapan dari karyawan melalui forum e-mail perusahaan.
Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang "baru"
enam bulan. Ada yang bilang "sudah" enam bulan.
Betapa relatifnya waktu!!
Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya
tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang kerja
Dirut PLN.
Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit
lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai
bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin saja
itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang saya pakai ini
mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.
Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya memang
tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat transplan
yang masih harus saya minum setiap hari.
Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang
telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri!!!
Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang sudah
berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut PLN, saya
tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik.
Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa pun
kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya bisa
dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak ke
mana-mana.
Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus
berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak
bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan bahkan
selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi atau
permintaan ceramah. Semua saya hindari.
Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat kabar
se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan olahraga
bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada rapat yang
bisa saya hadiri.
Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya kurang
gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke mobil. Siang dan
malam. Itu tentu tidak baik.
Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya
terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status saya
tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga harus
tetap hati-hati. Karena itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan ini:
berangkat kerja berjalan kaki saja.
Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari rumah
saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di Jalan
Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya dianggap
sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya berolahraga
sambil menghirup CO2.
Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas
jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan merimbun.
Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, saya (biasanya
ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang bercucuran.
Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya utang
1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. Jarak
rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi kian
biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh.
Betapa relatifnya jarak!!!!
Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada pukul
07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian juga beberapa
relasi PLN lainnya.
Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga tahu
jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di lobi untuk
mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang karena uangnya
tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus bagaimana pulangnya.
Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya.
Betapa relatifnya uang!!!!
Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan sekali
di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat untuk
mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan.
Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan
kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat hiburan yang
menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari para peserta rapat.
Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan jenakanya.
Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal PLN.
Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang dihadapi
perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya. Yang tidak ada
pada mereka adalah muara.
Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau
toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini,
di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara. Bahkan, meminjam lagunya
almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh!!!
Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu
siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di ruang
rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, berbagi kue, dan
saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN bukan lagi sebuah tempat
biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan.
Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya.
Betapa relatifnya tempat!!!
Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik jiwa
sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat sedih
atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa.
Betapa relatifnya jiwa!!!
Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi"
direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak
sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak pernah
membaca surat masuk.
Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung
didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat itu
ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka, untuk apa
harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang lebih pas
menjawabnya?
Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima
surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk kali
pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi. Apa yang
harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan? Atau,
beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi - sekadar untuk menunjukkan bahwa
saya atasan mereka?
Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang
sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya
saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi
seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat?
Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik petunjuk"?
Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada
tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca
surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa
yang terbaik yang harus dilakukan.
Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari
universitas- universitas terbaik negeri ini ? Bukankah karyawan PLN itu,
doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka
sudah sangat berpengalaman - melebihi saya?
Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.
Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi
arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi
besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang
yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta petunjuk".
Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari
universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali
kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan kepada
mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, rasa tanggung
jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, hanyalah
pengecualian.
Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama. Karena
itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap duduk di
kursi di depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan saya tidak enak.
Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.
Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin karena
dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan seperti itu.
Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.
Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum
tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya.
Betapa relatifnya sebuah kekuasaan..
Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini?
Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di seluruh
Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama, mengatasi
kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur Selatan,
Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal tegangan
14!  Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14, sehingga sering
redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini, di Aceh dan banyak wilayah
itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa 20!.
Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan, ada
yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi PLN yang
baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan tersebut tentu lucu karena
bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama DPR? Bukankah
direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali tidak punya wewenang menaikkan atau
menurunkan TDL?
Betapa relatifnya kepuasan!!!

INDONESIAKU SAYANG

Salam kebangsaan yg terhina,



Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah
Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul
tulisan tersebut adalah "JFK, Indonesia, CIA and Freeport".

Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967,
namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam
tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama
perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi
pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh
Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport
Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya
terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO
Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun
berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson
yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan
Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu
Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung
Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun
1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan
selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik
dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu
jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis
tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya
diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung
Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam
tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan
ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika
kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan
selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung
Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam
sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung
tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu
menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah.
Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain
dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan
perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN,
bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan
jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal.
Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960,
Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk
mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan
yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian
Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan
Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy
agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya mendukung
Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan
jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan
dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat
Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya
mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta
sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak
ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian
kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport
jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan
ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank
Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas
ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy
merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang
hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak
belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada
Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang
keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964,
adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain
kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex
(patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961
memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya
diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga
operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno
ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang
ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long
juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi
presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan
salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun
1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang
dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang
paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai
Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long
diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah
luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi
rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang
merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan
sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul
21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan
darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan
pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira
loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur
Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap
mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu
Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana
Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah
mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka
adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija.
Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan
Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena
dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang
draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun
1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto
adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat.
Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu
menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti
itu malah merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng
Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John
McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms
bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik "Jim Bob" Moffet dan menjadi
perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah
buku berjudul "Grasberg" setebal 384 halaman dan memaparkan jika tambang
emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk
bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan
bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45
tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi
tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan
yang termurah di dunia!!

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya
EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung
tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka
Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah.
Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa
raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung
menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan
mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan besar
yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!

Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas
Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang
ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan
tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan
limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang
sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.

Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari
sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia
itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan
keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang
walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena
jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri,
sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

Sumber : Blog Media Kata

Kamis, 27 Oktober 2011

Istri solehah

Perhiasan Terindah Adalah Istri yang Solehah


Siapapun suami didunia ini pasti selalu mendambakan istri yang sholehah, namun seperti apakah istri yang sholehah itu. Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW ciri istri yang sholehah adalah:
“Apabila diperintah ia taat, apabila dipandang menyenangkan hati suaminya, dan apabila suaminya tidak ada dirumah, ia menjaga diri dan harta suaminya.” (HR.Ahmad dan An-Nasa’i, di Hasan-kan oleh Albani dalam Irwa’ no.1786)
Mempunyai istri sholehah merupakan kebahagiaan yang tidak terungkapkan, dan istri yang sholehah adalah perhiasan yang terindah sebagaimana sabda nabi:
“Dunia adalah perhiasan (kesenangan) dan sebaik-baik perhiasan (kesenangan) dunia adalah wanita (istri) shalihah.” (HR.Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash)
Seorang istri yang baik akan berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun terkadang timbul perasaan malas atau berat untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi kewajibannya, tetapi hendaknya diingat bahwa keridhaan suami lebih diutamakan diatas perasaannya. Lihatlah apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam ketika Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya:
“Siapa diantara manusia yang paling besar haknya atas (seorang) istri?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam menjawab, “Suaminya.. “ (HR. Hakim dan Al-Bazzar)
Dengan taat kepada suami dan tentunya dengan menjalankan kewajiban agama lainnya, dapat mengantarkan istri kepada surga-Nya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam telah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh Al-Albani:
“Bila seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan dan memelihara kemaluannya serta taat kepada suaminya, maka kelak dikatakan kepadanya: “masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau inginkan.”
Kemudian hendaklah istri mengingat akan besarnya hak suami atas dirinya, sampai-sampai seandainya dibolehkan sujud kepada selain Allah maka istri diperintahkan untuk sujud kepada suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam:
“Andaikan saja dibolehkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi: Hasan Shahih)
Terlalu banyak peluang bagi seorang istri untuk beribadah kepada Allah dalam rumah tangganya dan terlalu mudah dalam memperoleh pahala dalam kehidupan suami istri. Namun sebaliknya terlalu mudah pula seorang istri terjerumus kepada dosa besar kalau melanggar ketentuan yang telah Allah gariskan. Yang perlu diingat oleh istri ialah agar berupaya mengikhlaskan niat hanya untuk Allah dalam melaksanakan kewajibannya sepanjang waktu..
Apabila diperintah oleh suaminya, istri diwajibkan untuk mentaati. Dan apabila suaminya tidak ada dirumah, istri harus pandai menjaga dirinya dan kehormatannya serta menjaga amanah harta suaminya. Istri yang demikian ini akan dijaga oleh Allah sebagaimana Firman-Nya:
“ ..maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa’: 34)
Adapun kriteria pertama dan ciri-ciri shalihah; Imam As-Sindi mengatakan dalam bukunya Khasyiah Sunan Nasai juz 6 hal 377:
“Menyenangkan bila dipandang itu artinya indahnya penampilan secara dzahir serta akhlaq yang mulia. Juga terus menerus menyibukkan diri dalam taat dan bertaqwa kepada Allah.”
Banyak hal yang dapat menyenangkan hati suami, diantaranya: penampilan diri agar enak dipandang, dan berbicara dengan menggunakan tutur yang menyenangkan serta dalam hal pengaturan rumah mampu menciptakan suasana bersih dan nyaman.

KARAKTERISTIK WANITA SOLEHAH

Wanita Shalihah (isteri shalihah) merupakan sebaik-baik dan semulia-mulia gelar
yang diberikan kepada wanita kekasih Allah. Titel atau gelar itu bukan sekadar nama
dan kebanggaan, tetapi dia adalah buah dari satu perjuangan panjang dalam
kehidupan seorang wanita. Masyarakat Muslim diingatkan, supaya waspada terhadap
khadraauddiman, yaitu wanita cantik yang tumbuh dewasa di tempat yang buruk.
BANYAK wanita mendambakan titel itu, tetapi sangat sedikit yang sampai kepada
tujuan yang dirindukan. Sebab, perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh
seorang wanita mengharuskannya melalui jalan yang terjal, berkelok, berbatu, naik
bukit dan turun gunung, penuh onak dan duri. Kenanglah sejenak perjalanan hidup
para pemimpin wanita ahli surga, yaitu sebaik-baik wanita sebagaimana sabda
Rasulullah Saw berikut ini.
Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita ialah
Khadijah binti Khuwailid. (HR. Bukhari Muslim).

Dari Abu Musa ra. berkata:
Rasulullah Saw bersabda: Lelaki yang sempurna banyak, tetapi tidak demikian
halnya bagi wanita kecuali Asiah istri Fir’aun dan Mar-yam binti Imran. Dan sesungguhnya
keutamaan Aisyah atas wanita lainnya seperti ke-utamaan tsarid (lauk yang
berminyak) atas makanan lainnya. (HR. Bukhari).

Nabi Saw bersabda: Fati-mah
adalah pemimpin wa-nita ahli surga . (HR. Bukhari)

Kesemua wanita yang disebut di dalam hadits-hadits di atas, yang diberi gelar
sebagai sebaik-baik wanita ahli surga (Maryam, Asiah, Khadijah, Aisyah dan
Fatimah) adalah wanita-wanita yang perjalanan hidupnya penuh dengan ujian dan
tantangan. Mereka ditimpa banyak musibah dan bala bencana, baik dalam urusan
keluarga, masya-rakat dan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya. Namun mereka
tidak bergeming dari keimanan dan ketaatan kepada Allah Swt.
Apakah ciri dan karakter yang dimiliki dalam menjalankan kehidupan sehari-hari,
sehingga dengan tegar bertahan dari segala amuk duniawi, dan mendapatkan gelar
mulia sebagai wanita/istri shalihah? Secara umum dijelaskan di dalam al-Qur’an,

Allah Swt berfirman:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wa-nita), dan
karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu
maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Qs. An Nisaa’ 4:34)

Inilah ayat yang me-nerangkan secara terperinci tentang ihwal kaum wanita dalam
kehidupan rumah tangga yang berada di bawah kepemimpinan kaum pria.
Disebutkan bahwa ada dua jenis wanita: yang shalihah dan yang tidak shalihah. Lalu
ciri shalihah antara lain adalah taat, yaitu taat kepada Allah Swt, kepada Rasul Nya
dan taat kepada suami. Selain itu dia betah tinggal di rumah, bersikap ma’ruf kepada
suami dan menjaga kehormatan diri di saat suaminya tidak ada di rumah.
Ats-Tsauri dan Qata-dah mengatakan: Arti menjaga kehormatan diri di saat suami
tidak ada di rumah adalah menjaga segala sesuatu yang mesti dipelihara, baik
berkenaan dengan kehormatan diri maupun harta. Sementara itu Ibnu Jarir dan al-
Baihaqi meriwayatkan ha-dits dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi Saw
bersabda:
Sebaik-baik wanita adalah yang menawan hati-mu bila engkau pandang, taat
manakala engkau perintah, dan menjaga hartamu serta memelihara kehormatan dirinya
ketika engkau tidak ada di rumah.
Kemudian Rasulullah Saw. membaca ayat tersebut di atas. (Qs. An Nisaa’ 4: 34).
Syeikh Muhammad Abduh mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menjaga
kehormatan diri di sini adalah menutup apa yang dapat membuat malu ketika
diperlihatkan atau diungkapkan. Artinya, menjaga segala sesuatu yang secara khusus
berkenaan dengan rahasia suami istri, serta tidak menceritakan rahasia suaminya
kepada siapapun kecuali kepada orang yang benar-benar dipercaya karena ingin
mencari solusi keruwetan rumah tangga.
Secara syar’i, yang juga bisa dikategorikan dalam hal ini adalah keharusan
merahasiakan segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan intim suami istri,
termasuk di dalamnya menceritakan hal-hal yang tidak senonoh. Jangan seperti
khadrau’ud-diman, seperti yang sering ditayangkan infotainment tv, mengumbar
segala aurat keluarga sehingga orang jijik mendengarnya.
Apatah lagi bila sampai ke bentuk-bentuk perilaku yang mereka laksanakan
sebagai pasangan suami isteri yang tidak layak didengar oleh selain mereka. Selain
itu juga dapat difahami bahwa ungkapan yang disebut oleh al-Qur-’an di atas,
merupakan salah satu ungkapan yang memiliki arti kiasan yang amat mendalam:
menghentak kaum wanita yang keras hati, namun bisa difahami rahasianya oleh
mereka yang berhati lembut.
Kaum wanita me-mang memiliki naluri yang demikian lembut, dimana anda sekalian
bisa mene-robos hati mereka hanya dengan menyentuh ujung jarinya saja. Jantung
me-reka memiliki nadi-nadi peka yang segera memom-pakan darah ke raut wajah
mereka manakala mene-rima rangsangan.
Maka tidak dibenar-kan menghubungkan langsung kalimat hifzhul ghaib (menjaga
harta dan kehormatan diri) dengan kalimat bima hafizhallah (sebagai-mana Allah
menjaga diri-nya). Sebab perpindahan yang demikian drastis dari penuturan rahasia
diri yang tersembunyi ke arah penuturan penjagaan Allah yang demikian jelas
memalingkan seseorang untuk berfikir secara ber-kepanjangan tentang hal-hal yang
berada di balik tabir-tabir rahasia pribadi suami istri. Yakni, hal-hal yang
tersembunyi dan rahasia, untuk dialihkan pada pengawasan Allah Azza wajalla.
Penghormatan yang diberikan kepada kaum wanita melalui kesaksian Allah tersebut
di atas, di-maksudkan agar mereka tetap terjaga dari jamahan tangan-tangan kotor,
pan-dangan mata jahil, atau pergunjingan, di saat sua-mi mereka tidak berada di
rumah, melalui bujukan, rayuan berupa lembaran-lembaran uang, mobil mewah,
rumah indah atau beberapa kerat roti.
Jadi, wanita-wanita shalihah ialah wanita yang menjaga harta dan kehor-matan
dirinya ketika su-aminya tidak di rumah, sebagaimana Allah telah menjaga mereka.
Itulah yang menjadi sifat shalihah kepada mereka. Sebab se-orang wanita yang shalihah
akan selalu men-dapat pengawasan dari Allah Swt, dan ketakwaan yang
mereka miliki me-nyebabkan mereka bisa menjadi wanita-wanita yang terpelihara
dari sifat khianat dan mampu men-jaga amanat.
Oleh karena itulah yang dimaksud dengan Wanita Shalihah dalam ayat di atas adalah
mereka yang selalu taat kepada Allah Swt, Rasul Nya, suaminya dan tidak memperturutkan
hawa nafsu-nya dalam hidup harian-nya. Apabila dikaitkan arti ayat yang
disebutkan di atas tepat sekali untuk menggambarkan ihwal kaum wanita masa kini
yang senang membeberkan rahasia-rahasia rumah tangga sendiri, atau rumah tangga
orang lain (gosip wanita sinetron) dan tidak bisa menjaga harta dan kehormatan
dirinya mana-kala suami mereka tidak berada di rumah bukanlah termasuk dalam
koridor wanita shalihah.
Jangan seperti khad-rau’uddiman, seperti yang sering ditayangkan infotai-ment tv,
mengumbar segala aurat keluarga sehingga orang jijik mendengarnya. Jika diamati
dengan seksama keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa isteri yang
shalihah mempunyai karakter se-bagai berikut:

1. Menaati Allah dan Rasul Nya
Dengan ketaatannya itulah sebagai aset terbesar baginya untuk meraih ganjaran
tertinggi sebagai buah dari ilmu dan iman-nya. Yaitu surga yang pe-nuh dengan
kenikmatan, dia kekal didalamnya se-lama-lamanya. Allah Swt. berfirman:|
(Hukum-hukum ter-sebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang-siapa
taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah me-masukkannya kedalam syurga
yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan
itulah kemenangan yang besar. (Qs. An Nisaa’, 4: 13)

Firman Allah lagi: Dan barangsiapa yang men-taati Allah dan Rasul(Nya), mereka
itu akan bersama-sa-ma dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,
yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang
shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Qs. An Nisaa’, 4: 69)

Abu Hurairah ra ber-kata, Rasulullah Saw ber-sabda: Semua ummatku akan masuk
surga kecuali yang enggan (tidak mau). Para sahabat bertanya: Siapakah yang
enggan itu wahai Rasulullah? Beliau men-jawab: Barang siapa yang ta’at kepadaku
(mengikuti Sunnahku), dialah yang akan masuk surga, dan barang siapa yang
mendurhakaiku, maka dialah yang yang enggan masuk surga. (HR Bukhari)
Maka demikian pula seorang wanita atau isteri, dia akan masuk surga de-ngan
menaati Allah dan Rasul-Nya dengan se-benar-benarnya.

2. Menaati Suami
Ketaatan kepada suaminya merupakan pintu keselamatan baginya untuk meraih
kenikmatan yang kekal dan abadi di surga. Rasulullah Saw bersabda:
Jika seorang isteri itu telah menunaikan shalat lima waktu, dan shaum (puasa) di
bulan Ramadhan, dan men-jaga kemaluannya dari yang haram serta taat kepada
suaminya, maka akan di-persilakan: masuklah ke surga dari pintu mana saja kamu
suka. (HR. Ahmad)
Diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwasa-nya Asma datang kepada Nabi dan
berkata: Sesung-guhnya aku adalah utusan dari kaum wanita Muslim, semua mereka
berkata dan berpendapat sebagaimana aku Wahai Rasulullah, se-sungguhnya Allah
telah mengutusmu kepada laki-laki dan wanita, kami telah beriman kepadamu dan
mengikutimu, (namun) ka-mi kaum wanita merasa dibatasi dan dibelenggu. Padahal
kamilah yang me-nunggu rumah mereka, tempat menyalurkan nafsu mereka, kamilah
yang mengandung anak-anak mereka, sedang mereka dilebihkan dengan sholat
berjamaah, menyaksikan jenazah dan berjihad di jalan Allah.
Dan apabila mereka ke luar berjihad, kamilah yang menjaga harta me-reka dan
kamilah yang me-melihara anak-anak me-reka, maka apakah kami tidak
mendapatkan bagian pahala mereka wahai Rasulullah? Maka ber-palinglah
Rasulullah ke-pada para sahabatnya dan bertanya: Apakah tadi ka-mu sudah
mendengar pertanyaan sebaik itu dari seorang perempuan ten-tang agamanya?
Mereka menjawab: Ya, Demi Allah wahai Rasulullah, kemu-dian beliau bersabda:
Pergilah engkau wahai Asma dan beritahukanlah kepada wanita-wanita yang
mengutusmu bahwa layanan baik salah seorang kamu kepada suaminya, meminta
keridhaannya dan menuruti kemauannya menyamai (pahala) amal-an laki-laki yang
engkau sebutkan tadi. Maka Asma pun pergi sambil bertahlil dan bertakbir karena
gem-biranya dengan apa yang diucapkan Rasulullah ke-padanya. (Al Istii’aab, Ibnu
’Abd al Bar)
Dari Ibnu Abbas ra ia berkata, wakil wanita ber-kata: Wahai Rasulullah, saya wakil
dari kaum wanita untuk berjumpa denganmu. Sesungguhnya jihad hanya diwajibkan
atas kaum laki-laki saja, sekiranya mereka menang mereka memperoleh pahala dan
sekiranya mereka terbunuh, maka mereka senantiasa hidup dan diberi rizki di sisi
Rabb mereka. Sedangkan kami golongan wanita menjalankan tugas (berkhidmat)
untuk mereka, maka adakah bagian kami dari yang tersebut? Maka Rasulullah
menjawab, Sam-paikanlah kepada siapa saja dari kaum wanita yang eng-kau temui,
bahwa taat kepada suami dan mengakui hak sua-mi adalah menyamai yang demikian
itu, dan amat sedikitlah di antara kamu yang mampu melaksana-kannya. (HR al
Bazzar)

3. Melayani Suami
Sebagian isteri sangat taat kepada suaminya, tapi kurang pandai melayani suami
dengan sebaik-baik-nya. Maka jika taat kepada suami dan pandai melayaninya, hal
itu merupakan kemuliaan tersendiri yang mengangkat derajatnya meraih
keselamatan di dunia dan akhirat.
Ummu Salamah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda: Tiap-tiap isteri yang mati diridhai oleh 
suaminya, maka ia akan masuk surga. (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dari Abdullah bin Abi Aufa ia berkata, Mu’adz di-utus ke Yaman atau Syam dan dia
melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada pembesar-pem-besar dan kepada
pendeta-pendetanya. Maka beliau berkata dalam hatinya sesungguhnya Rasulullah
lebih layak untuk di-agungkan (daripada me-reka). Maka tatkala ia da-tang kepada
Rasulullah ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat orang-orang
Nashrani bers-ujud kepada pembesar-pem-besar dan kepada pendeta-pendetanya,
dan aku berkata dalam hatiku sesungguhnya engkaulah yang lebih layak untuk
diagungkan (daripada mereka) lalu beliau bersabda:
Andaikata aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada seseorang, maka sungguh 
akan kuperintahkan isteri bersujud kepada suaminya dan seorang isteri belum dikatakan menunaikan kewajibannya terhadap Allah sehingga menunaikan ke-wajibannya terhadap 
suami seluruhnya, sehingga andaikan (suaminya) memerlukannya di atas kendaraan,
sungguh ia tidak boleh me-nolaknya. (HR Ahmad)

4. Menjaga Kehormatan Diri
Ciri keempat inilah yang merupakan kunci dari keshalihan seorang isteri yang berada
di bawah pengawasan suaminya yang shalih. Lelaki yang memiliki isteri dengan karakteristik
seperti ini berarti telah memiliki harta simpanan yang terbaik.
Dari Abu Umamah ra, dari Nabi Saw beliau ber-sabda: Tidak ada yang paling
bermanfaat bagi se-orang (lelaki) Mukmin se-su-dah bertaqwa kepada Allah daripada
memiliki isteri yang shalihah, yaitu jika ia di-perintah ia taat, jika ia dipandang
menyenangkan hati, dan jika ia digilir ia tetap berbuat baik, dan jika ia ditinggalkan
(suaminya) ia tetap menjaga suaminya dalam hal dirinya dan harta suaminya. (HR Ibnu Majah)

Dari Ibn Abbas ra Rasulullah Saw bersabda: Ada empat perkara siapa yang
memilikinya berarti mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, yaitu hati yang
bersyukur, lisan yang selalu berzikir, tubuh yang bersabar ketika ditimpa bala
bencana (musibah) dan isteri yang tidak menjerumuskan suami-nya dan merusakkan
harta bendanya. (HR Thabrani dengan isnad Jayyid).

Wanita paling baik ada-lah wanita (isteri) yang apabila engkau meman-dangnya
menggembirakan-mu, apabila engkau menyu-ruhnya dia pun menaati, dan apabila
engkau pergi dia juga memelihara dirinya dan menjaga hartamu. (HR Abu Dawud.
Derajat hadits oleh al Hakim dinyatakan shahih).
Semoga para akhwat mampu memiliki karakter tersebut sehingga melayak-kannya
mendapat pahala yang telah dijanjikan Allah Swt. Mereka menjadi par-tner dalam
perjuangan fi sabilillah, dan menjadi pendamping setia dikala suka dan duka bersama
suami yang dicintainya. Amien Ya Rabbal Alamin.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Kolonialisme Di Sektor Pertambangan


Jumat, 30 September 2011 | Editorial Berdikari Online

Pada saat revolusi Agustus masih berkobar, rakyat Indonesia berhasil
merebut sejumlah perusahaan milik Belanda, termasuk perusahaan
pertambangan. Di ladang-ladang minyak, muncul perusahaan yang
diorganisasikan oleh pejuang republik, yang sering menyebut dirinya
"laskar minyak".

Itulah cikal-bakal berdirinya Perusahaan Minyak Indonesia (Permiri) di
Sumatera Selatan, Perusahaan Minyak Negara Republik Indonesia (PMNRI) di
Sumatera Utara, dan Perusahaan Tambang Minyak Nasional (PTMN) di Jawa
Tengah.

Itu hanya secuil kisah tentang bagaimana kehendak revolusi agustus, juga
semangat seluruh rakyat Indonesia, berusaha mengakhiri praktek
kolonialisme di lapangan ekonomi. Meskipun semangat itu menemui banyak
kendala, bahkan perusahaan yang sudah direbut berakhir macet, tetapi ada
hal yang tak dapat dibantah: rakyat tak menghendaki kolonialisme
merampok kekayaan alam kita.

Tetapi semangat itu benar-benar berhenti pada tahun 1967. Saat itu,
Soeharto, setelah membuat perjanjian khusus dengan para kolonialis di
Jenewa, segera membuka pintu bagi modal asing di berbagai sektor ekonomi
di dalam negeri. Salah satunya kehadiran PT. Freeport di Papua.

PT. Freeport melakukan penambangan di dua kawasan, yaitu tambang
Ertsberg (dari 1967 hingga 1988) dan tambang Grasberg (sejak 1988).
Konon, sejak tahun 1968 hingga sekarang pertambangan itu telah
mengasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas. Kalau
diuangkan dalam bentuk rupiah: taruhlah harga emas Rp300.000/gram, maka
724.700.000.000.000 gram x Rp300.000= Rp 217.410.000.000.000.000.000
atau Rp217.410 biliun.

Apakah Indonesia mendapat untung? Tidak. Menurut Surjono H. Sutjahjo,
dari Fakultas Pertanian IPB, prosentase bagi hasil antara pihak
Indonesia dan pihak PT. Freeport sangat tidak adil: Indonesia mendapat
1% dan Freeport mendapatkan 99%.

Rejeki nomplok Freeport belum berakhir di situ. Ketika emas dan tembaga
di kawasan itu mulai menipis, tetapi di bawahnya, tepatnya di kedalaman
400 meter, ditemukan kandungan uranium. Uranium punya harga seratus kali
lebih mahal dari emas.

Nasib buntung juga dirasakan Indonesia saat sejumlah ladang minyak
dikuasai oleh perusahaan Shell (Belanda). Pada tahun 2005, misalnya,
pendapatan Shell di Indonesia mencapai US$ 178 miliar (Rp 1.600
triliun), sementara Pertamina hanya mendapat untung sebesar Rp 322
triliun. Keuntungan Shell itu bahkan melebihi anggaran APBN Indonesia
pada saat itu yang berjumlah Rp 463,3 triliun (kalau tidak salah).

Tetapi bukan cuma penerimaan negara yang cekak. Terdapat puluhan
perusahaan-perusahaan asing yang menunggak pajak, dan itu dilakukan
selama lima kali pergantian Menteri Keuangan.

Perlu kami tambahkan pula, pekerja Indonesia di perusahaan-perusahaan
asing terkadang tidak mendapat perlakuan yang wajar. Mereka sering
mendapat perlakuan diskriminatif, sehingga upah atau kesejahteraan
mereka lebih murah ketimbang pekerja asing.

Ada benarnya apa yang pernah dikatakan Bung Karno 81 tahun silam,
tepatnya ketika menyampaikan pidato pembelaan di hadapan pengadilan
kolonial, bahwa kolonialisme dan imperialisme hanya butuh empat hal:
bahan baku, pasar untuk barang-barang mereka, tempat penanaman modal,
dan tenaga kerja murah.

Tetapi, pada tanggal 1 Juni 2011 lalu, saat peringatan lahirnya
Pancasila, Presiden SBY sudah mengeluarkan janji mahal: renegosiasi
semua kontrak pertambangan yang merugikan bangsa Indonesia.

Kita belum tahu seperti apa janji itu dijalankan. Kita juga belum tahu
apakah pemerintah sudah membentuk panitia atau tim kerja khusus untuk
urusan itu. Bahkan, kita tidak pernah dengar seperti apa kemajuan
rencana itu, dan perusahaan mana saja yang setuju dan tidak setuju
dengan renegosiasi.

Akan tetapi, dalam keyakinan kami, sepanjang proses renegosiasi ini
tidak melibatkan partisipasi rakyat, maka isu renegosiasi hanya akan
menjadi "pintu baru" untuk kongkalikong antara pemerintah
Indonesia dan perusahaan asing. Sebab kami tahu betul watak dan mental
pemerintah Indonesia yang sangat inlander itu.

Padahal, semua itu tidak perlu terjadi jikalau saja pemerintah setia dan
mau menjalankan konstitusi dengan benar, khususnya pasal 33 UUD 1945.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com

http://berdikarionline.com/editorial/20110930/kolonialisme-di-sektor-per\
tambangan.html

<http://berdikarionline.com/editorial/20110930/kolonialisme-di-sektor-pe\
rtambangan.html
>