Tampilkan postingan dengan label Ada Apa dengan Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ada Apa dengan Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 April 2014

MANFAAT DAUN SALAM

MANFAAT DAUN SALAM

Salam merupakan tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah maupun kebun. Kegunaannya sudah dikenal dari jaman dulu yaitu sebagai bumbu masakan khas indonesia. Sedangkan manfaat daun salam untuk kesehatan juga sudah banyak dibuktikan melalui penelitian resmi maupun independent. Khasiat daun rempah yang satu ini dapat digunakan sebagai obat diare, kolesterol, maag akut sampai dibuat pasta gigi tradisional.


khasiat daun salam

Bagi anda yang hobi masak, manfaat daun salam untuk penyedap makanan tidak perlu diragukan lagi. Namun, tahukah anda jika daun salam liar memiliki rasa pahit serta bau kurang harum?

Kandungan Daun Salam Yang Bermanfaat
  • Minyak esensial mengandung eugenol dan metil kavikol
  • Ekstrak etanol sebagai anti-jamur serta anti-bakteri
  • Ekstrak metanol sebagai anti-cacing
  • Kandungan kimia daun salam meliputi flavonoida, tannin dan minyak atsiri

10 Khasiat Dan Manfaat Daun Salam Bagi Kesehatan

  1. Mengharumkan masakan
    Campurkan daun segar maupun kering ke dalam masakan seperti daging, ikan, nasi atau sayur mayur agar aroma masakan lebih harum. Kandungan zat-zat alami di dalamnya juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Jadi, jangan ragu untuk mengikutsertakan salam pada masakan anda.

  2. Membuat gigi putih bersih
    Pasta gigi tradisional yang terbuat dari daun terbukti mampu memutihkan gigi kuning secara alami dan aman. Jemur daun salam dan kulit jeruk sampai kering. Haluskan dengan ditumbuk kemudian campurkan keduanya bersama air. Aduk rata hingga berbentuk pasta. Gunakan khasiat daun salam sebagai pasta gigi tradisional.

  3. Menurunkan kolesterol dan diabetes
    Sediakan 10 – 15 lembar daun yang masih segar, cuci sebentar kemudian rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas saja. Setelah dingin lalu saring air rebusan daun salam tersebut dan minum sekaligus di malam hari. Lakukan secara teratur agar kolesterol maupun diabetes cepat sembuh.

  4. Membantu menurunkan berat tubuh
    Bagi anda yang memiliki masalah berat berlebih, manfaat daun salam untuk menurunkan berat badan bisa anda coba. Cuci 20 – 30 lembar daun kemudian rebus bersama 4 gelas air. Setelah tersisa 2 gelas, angkat dan dinginkan. Minum 2 kali sehari pagi dan malam masing-masing 1 gelas agar berat badan turun.

  5. Mengobati kencing manis
    Rebus 7 – 15 daun dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas saja. Saring dan tunggu sampai dingin kemudian minum sekaligus sebelum makan. Lakukan dua kali dalam sehari supaya khasiat daun salam diserap oleh tubuh.

  6. Menurunkan tekanan darah
    Sediakan 7 – 10 lembar daun yang masih segar, rebus bersama 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring kemudian minum sehari 2 kali masing-masing setengah gelas.

  7. Mengobati maag akut
    Untuk anda yang menderita maag, manfaat daun salam dapat menjadi obat alami penyakit tersebut. Cuci bersih 15 – 20 lembar daun segar. Rebus dengan ½ liter air sampai mendidih selama 15 menit. Tambahkan gula enau (aren) secukupnya. Setelah air rebusan dingin, minum airnya sebagai teh herbal. Lakukan setiap hari sampai rasa perih dan penuh di lambung hilang.

  8. Mengatasi mabuk alkohol
    Kegunaan tanaman salam yang satu ini tidak memanfaatkan daunnya melainkan buahnya. Cuci satu genggam buah salam masak, tumbuk dan peras airnya. Saring air perasan buah salam kemudian minum agar mabuk akibat alkohol cepat hilang.

  9. Meringankan sakit asam urat
    Keringkan 10 lembar daun salam kemudian rebus bersama 10 gelas air. Tunggu hingga tersisa 7 gelas lalu minum setelah dingin. Lakukan teratur setiap hari agar penyakit asam urat anda cepat sembuh.

  10. Mengobati diare secara alami
    Selain menggunakan buah jambu biji yang masih muda, daun salam juga bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit diare. Sediakan 15 lembar daun salam segar. Rebus dalam dua gelas air sampai mendidih. Tambahkan sedikit garam dan tunggu sampai dingin. Minum air tersebut sekaligus agar diare cepat sembuh.

Selasa, 05 Juni 2012

Bangsa Ini Butuh Arah!

Bangsa Ini Butuh Arah!
Senin, 4 Juni 2012 | Editorial Berdikari Online

Ada hal menarik dari hasil jajak pendapat harian Kompas, yang kemudian
disusun menjadi artikel berjudul "Memudarnya Jati Diri Bangsa".
Jajak pendapat itu menyebutkan, sebanyak 80,9% responden menganggap
cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat makin jauh dari harapan.

Lebih jauh lagi, jajak pendapat yang digelar Litbang Kompas sejak 30 Mei
-1 Juni 2012 itu juga menyimpulkan, sebagian besar responden (rata-rata
berkisar 80%) menganggap berbagai persoalan bangsa saat ini—perilaku
elit yang korupsi, menipisnya kepercayaan terhadap negara, ketimpangan
sosial, perilaku diskriminatif terhadap minoritas, dan minimnya sosok
panutan bangsa—adalah buah dari makin ditinggalkannya pancasila
sebagai jati diri bangsa.

Ada beberapa hal yang patut dicatat dari hasil jajak pendapat itu.

Pertama, mayoritas rakyat Indonesia melihat berbagai persoalan bangsa
tidak terlepas dari kegagalan penyelenggara negara. Ini tercermin pula
pada meningkatnya ketidakpuasan massa rakyat terhadap kepemimpinan elit
sekarang.

Pancasila tidak lagi menjadi "Weltanschauung" (pandangan hidup).
Para penyelenggara negara, yang seharusnya menjadi panutan, justru
menjadi pelopor berbagai tindakan tidak terpuji dan bertentangan dengan
pancasila.

Kedua, mayoritas rakyat Indonesia melihat persoalan pokok bangsa ini
terletak pada ketiadaan arah. Ketiadaan arah ini, seperti dirasai oleh
banyak orang, membawa bangsa ini pada titik kritis: krisis kebangsaan.

Sebetulnya hal itu tidak perlu terjadi. Kita punya pancasila dan UUD
1945 sebagai pedoman danleitstar (bintang penuntun arah) agar perjalanan
bangsa ini bisa mencapai tujuan yang dicita-citakan. Sayangnya, sejak
orde baru hingga sekarang, para penyelenggara negara sengaja mengabaikan
pancasila dan UUD 1945 itu.

Sebetulnya, jika kita melihat lagi secara mendalam, pancasila dan UUD
1945 itu sudah cukup mumpuni sebagai penuntun arah perjuangan bangsa.
Lima sila dalam pancasila–Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme,
– atau perikemanusiaan, Mufakat, – atau Demokrasi, Kesejahteraan
sosial, dan Ketuhan Yang Maha Esa—masih sangat relevan hingga
sekarang.

Mari kita coba runut-runut berbagai persoalan kebangsaan sekarang ini.
Lihatlah, misalnya, persoalan kekerasan terhadap pemeluk agama minoritas
akhir-akhir ini. Sebetulnya, jika kita konsisten pada pancasila, maka
masalah itu sudah dianggap selesai sejak tahun 1945. Saat itu, kita
sudah mencapai konsensus bersama: "negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadah menurut agama dan kepercayaannya."

Dengan demikian, tindakan menghalang-halangi pemeluk agama tertentu
menjalankan ibadah sesuai agamanya adalah tindakan anti-pancasila.
Sayangnya, tindakan semacam itu justru dilakukan oleh sejumlah
penyelenggara negara. Bahkan, negara juga terkesan membiarkan tindakan
segelintir "perusuh" yang mengganggu kemerdekaan beragama di
Indonesia.

Begitu pula dengan perilaku korupsi. Ini adalah kejahatan terhadap
perikemanusiaan yang tak bisa diampuni. Korupsi juga merupakan hambatan
besar bagi perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Dengan
demikian, sebagai negara yang berideologikan pancasila, Indonesia
mestinya berada di garda depan "negara tanpa korupsi".

Kita lihat lagi penyelenggaraan politik kita sekarang ini. Banyak
kritikan yang bernada begini: mengapa demokrasi saat ini (demokrasi
liberal) tidak mendatangkan kesejahteraan untuk rakyat? Untuk diketahui,
sejak dahulu para pendiri bangsa kita sudah menjawab pertanyaan ini.
Kita bisa melihat contohnya pada kritik Bung Hatta: "Sekalipun
cita-cita demokrasi itu cukup ideal (kekuasaan rakyat)…tetapi yang
demikian tidak terdapat di dalam kapitalische democatie, dimana kaum
kapitalis yang terkecil golongannya mengusai penghidupan rakyat banyak.
Jadinya, demokrasi yang ada di barat sekarang tampak pincang, menyimpang
dari cita-cita demokrasi asli, yang disandarkan kepada
volkssouvereiniteit, kedaulatan rakyat."

Di sinilah letak masalahnya: demokrasi liberal hanya memberikan
demokrasi politik, tetapi tidak ada demokrasi ekonomi. Semua orang bisa
laksana raja di bidang politik, tetapi tidak demikian dengan di
lapangan ekonomi. Akibatnya, karena yang berkuasa di lapangan ekonomi
adalah borjuis, maka merekalah yang bisa mengontrol pemilihan dan
kekuasaan parlemen. Mereka pula yang mengontrol berbagai regulasi dan
kebijakan politik lainnya.

Pendiri bangsa kita sudah punya konsep demokrasi alternatif. Itu
dirumuskan pula di dalam Pancasila, yaitu sosio-demokrasi (penggabungan
demokrasi (mufakat) dan kesejahteraan sosial). Demokrasi kita itu
membuka demokrasi seluas-luasnya pada partisipasi rakyat dalam kehidupan
politik dan sekaligus ekonomi. Dengan demikian, redistribusi sumber daya
dan kekayaan nasional juga bisa berkeadilan sosial.

Pendek kata, kita sebetulnya sudah punya arah yang jelas: pancasila dan
UUD 1945. Hanya saja, seperti juga diakui oleh sebagian besar rakyat,
kedua `bintang penuntun arah' itu sengaja diabaikan dan
ditinggalkan. Pancasila dan UUD 1945 semakin berjarak dengan
implementasi praktisnya.

Pengabaian terhadap pancasila membuat bangsa kita seperti kehilangan
arah. Lebih parah lagi, hal itu membuka jalan bagi praktek
neokolonialisme. Akhirnya, bangsa kita pun kembali "terjajah".

Nah, dalam jajak pendapat Kompas itu juga disebutkan, sebanyak 98,3%
responden masih menginginkan pancasila sebagai dasar negara. Mereka
masih menganggap pancasila sangat relevan untuk mengatasi persoalan
bangsa ini. Asalkan, pancasila—juga UUD 1945—dijalankan secara
konsisten.


Sabtu, 19 Juni 2010

Ada Apa dengan Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia

oleh: Tun Kelana Jaya
Potensi kekayaan alam Indonesia

Realita hidup dan kehidupan manusia tidak terlepas dari alam dan lingkungannya, karena hal tersebut merupakan hubungan mutualisme dalam tatanan keseimbangan alam dan kehidupannya (Balancing Ecosystem). Sumber daya alam terbagi dua, yaitu SDA yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable) dan yang dapat diperbaharui (renewable). Keanekaragaman hayati termasuk didalam sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Potensi sumber daya alam hayati tersebut bervariasi, tergantung dari letak suatu kawasan dan kondisinya. Pengertian istilah sumber daya alam hayati cukup luas, yakni mencakup sumber daya alam hayati, tumbuhan, hewan, bentang alam (landscape). Indonesia memiliki keanekaragaman sumberdaya alam hayati yang berlimpah ruah sehingga dikenal sebagai negara MEGABIODIVERSITY. Keanekaragaman hayatinya terbanyak kedua diseluruh dunia.

Wilayah hutan tropisnya terluas ketiga di dunia dengan cadangan minyak, gas alam, emas, tembaga dan mineral lainnya. Terumbu karang dan kehidupan laut memperkaya ke-17.000 pulaunya. Lebih dari itu, Indoensia memiliki tanah dan dan area lautan yang luas, dan kaya dengan berjenis-jenis ekologi. Menempati hampir 1.3 persen dari wilayah bumi, mempunyai kira-kira 10 persen jenis tanaman dan bunga yang ada di dunia, 12 persen jenis binatang menyusui, 17 persen jenis burung, 25 persen jenis ikan, dan 10 persen sisa area hutang tropis, yang kedua setelah Brazil (world Bank 1994). Walaupun demikian persoalan tentang pengelolaan sumber daya alam hanya mendapat perhatian sedikit dari para pengambil kebijakan.

Kepulauan Indonesia yang terdiri atas 17,000 pulau, merupakan tempat tinggal bagi flora dan fauna dari dua tipe yang berbeda asal usulnya. Bagian barat merupakan kawasan Indo-Malayan, sedang bagian timur termasuk kawasan Pacifik dan Australia. Meski daratannya hanya mencakup 1,3 persen dari seluruh daratan di bumi, Indonesia memiliki hidupan liar flora dan fauna yang spektakuler dan unik. Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati yang mengagumkan: sepuluh persen dari spesies berbunga yang ada didunia, 12 persen dari spesies mamalia dunia, 16 persen dari seluruh spesies reptil dan amphibi, 17 persen dari seluruh spesies burung, dan 25 persen dari semua spesies ikan yang sudah dikenal manusia.

Sebagian besar hutan yang ada di Indonesia adalah hutan hujan tropis, yang tidak saja mengandung kekayaan hayati flora yang beranekaragam, tetapi juga termasuk ekosistem terkaya didunia sehubungan dengan keanekaan hidupan liarnya. Indonesia memiliki kawasan hutan hujan tropis yang terbesar di Asia-Pasific, yaitu diperkirakan 1,148,400 kilometer persegi. Hutan Indonesia termasuk yang paling kaya keaneka ragaman hayati di dunia. Hutan Indonesia dikenal sebagai hutan yang paling kaya akan spesies palm (447 spesies, 225 diantaranya tidak terdapat dibagian dunia yang lain), lebih dari 400 spesies dipterocarp (jenis kayu komersial yang paling berharga di Asia tenggara), dan diperkirakan mengandung 25,000 species tumbuhan berbunga. Indonesia juga sangat kaya akan hidupan liar: terkaya didunia untuk mamalia (515 spesies, 36% diantaranya endemik), terkaya akan kupu-kupu swalowtail (121 spesies, 44% diantaranya endemik), ketiga terkaya didunia akan reptil (ada lebih dari 600 spesies), keempat terkaya akan burung (1519 spesies, 28% diantaranya endemik) kelima untuk amphibi (270 species), dan ketujuh untuk tumbuhan berbunga.

Lingkungan Pesisir dan Kelautan di Indonesia Panjang seluruh garis pesisir di Indonesia mencapai 81,000 kilometer, ini adalah 14% dari seluruh pesisir di dunia. Indonesia adalah negara yang memiliki pesisir terpanjang di dunia. Ekosistem kelautan yang dimiliki oleh Indonesia sungguh sangat bervariasi, dan mendukung kehidupan kumpulan spesies yang sangat besar. Indonesia memiliki hutan bakau yang paling luas, dan memiliki terumbu karang yang paling spektakuler di kawasan Asia. Hutan bakau paling banyak dijumpai di Pesisir Timur Sumatra, pesisir Kalimantan, dan Irian Jaya (yang memiliki 69% dari seluruh habitat hutan bakau di Indonesia). Sedangkan lautan biru di Maluku dan Sulawesi menaungi ekosistem yang sangat kaya akan ikan, terumbu karang, dan organisme terumbu karang yang lain.

Ada apa dengan pengelolaan sumber daya alam Indonesia ?

DI SEKTOR MIGAS : Masalah kebijakan tambang migas di Indonesia : Minyak dan Gas Bumi (Migas), diyakini banyak kalangan sebagai komoditi tulang punggung ekonomi Indonesia hingga kini. Dilihat dari angka-angka, Migas memang berkontribusi paling tinggi dibanding sektor lain pada pendapatan (yang katanya) negara. Oleh karena itu, semua mata jadi tertutup, dan kita tidak dapat melihat berbagai masalah yang terjadi dalam penambangan migas. Akibatnya, Pertamina sebagai satu-satunya pemegang hak atas Migas di Indonesia bersama para kontraktornya leluasa berbuat sewenang-wenang atas kekayaan alam Indonesia.

Kesalahan utama kebijakan dan orientasi pertambangan di Indonesia bermula dari UU No 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing yang diikuti penandatanganan kontrak karya (KK) generasi I antara pemerintah Indonesia dengan Freeport McMoran . Disusul dengan UU No 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Sejak saat itu, Indonesia memilih politik hukum pertambangan yang berorientasi pada kekuatan modal besar dan eksploitatif. Dampak susulannya adalah keluarnya berbagai regulasi pemerintah yang berpihak pada kepentingan pemodal. Dari kebijaakan-kebijakannya sendiri, akhirnya pemerintah terjebak dalam posisi lebih rendah dibanding posisi pemodal yang disayanginya. Akibatnya, pemerintah tidak bisa bertindak tegas terhadap perusahaan pertambangan yang seharusnya patut untuk ditindak.

Sejak tahun 1967 hingga saat ini, pemerintah yang diwakili oleh Departemen Pertambangan dan Energi, (kini Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral) seolah merasa bangga jika berhasil mengeluarkan izin pertambangan sebanyak mungkin. Tidak heran jika sampai dengan tahun 1999 pemerintah telah “berhasil” memberikan izin sebanyak 908 izin pertambangan yang terdiri dari kontrak karya (KK), Kontrak karya Batu Bara (KKB) dan Kuasa Pertambangan (KP), dengan total luas konsesi 84.152.875,92 Ha atau hampir separuh dari luas total daratan Indonesia . Jumlah tersebut belum termasuk perijinan untuk kategori bahan galian C yang perizinannya dikeluarkan oleh pemerintah daerah berupa SIPD. Walaupun baru sebagian kecil dari perusahaan yang memiliki izin itu melakukan kegiatan eksploitasi, namun dampaknya sudah terasa menguatirkan.

Berbagai kasus korupsi di dunia pertambangan belum satupun yang diusut tuntas. Eufemisme justru sering digunakan untuk menyelamatkan Pertamina dari tuduhan korupsi seperti kasus mis-manajemen yang diungkap pada Habibie. Selain masalah korupsi, banyak masalah lain yang juga belum terungkap dalam penambangan Migas. Misal saja, hak menguasai negara yang diberikan secara mutlak pada PERTAMINA, proses lahirnya Production Sharing Contract (Kontrak Bagi Hasil/PSC) antara PERTAMINA dengan perusahaan multinasional, rencana investasi yang diatur oleh perusahaan multinasional.

Di sisi lain, perkembangan RUU Migas UU Migas No. 44 Prp tahun 1960, kini sedang disiapkan penggantinya oleh pemerintah. Rancangan UU ini sempat menjadi kontroversial, karena terjadi perbedaan pandangan yang tajam antara pemerintah dan DPR-RI saat itu. Perdebatan yang mengemuka saat itu berkisar pada peran Pertamina, dan kepentingan ekonomi negara.

Production Sharing Contrac (Kontrak Bagi Hasil/PSC) Dalam usulan RUU Migas, pemerintah berkeinginan mengganti PSC dengan Kontrak Kerjasama, yang menyerupai Kontrak Karya dalam pertambangan umum. Padahal semua tahu model Kontrak Kerjasama ala Kontrak Karya, telah nyata-nyata merugikan bangsa yang dikeruk hasil alamnya oleh perusahaan tambang. Perdebatan menjadi tereduksi oleh bingkai penglihatan sistem kontrak, yang sangat diharapkan oleh investor.

Liberalisasi distribusi dan pemasaran migas, Pemerintah lewat RUU Migas berjanji untuk mengikis habis monopoli di PERTAMINA. Namun yang ditawarkan adalah membuka suatu kesempatan bagi perusahaan swasta lain untuk ikut berkompetisi dalam distribusi dan pemasaran migas. Sepintas ide ini cukup menarik. Namun ancaman di balik itu sungguh sangat mengerikan. Saat ini yang paling siap untuk berkompetisi adalah perushaan-perusahaan multinasional seperti Mobil Oil, Shell, Caltex, Texaco, Unocal, Vico, Total dan lain sebagainya. Karena mereka yang paling siap, maka mereka yang akan merebut pangsa pasar distribusi dan pemasaran migas di Indonesia. Maka yang akan terjadi adalah bergantinya Monopoli Pertamina pada Oligopoli perusahaan multinasional.

Ancaman besarnya modal yang akan masuk pada industri migas di Indonesia, juga menjadi tidak mendapatkan perhatian pemerintah. Padahal, dilihat dari rencana investasi yang sedang disiapkan oleh perusahaan multinasional dan campur tangan mereka lewat lembaga-lembaga keuangan internasional dalam kebijakan negara, adalah ancaman serius yang patut diperhatikan semua pihak. Perang saudara di Angola adalah satu contoh terparah akan betapa buruknya intervensi perusahaan multinasional pada keutuhan negara.

Isu lingkungan hidup merupakan isu yang sangat marjinal di kalangan politisi dan pemerintah. Seolah-olah aktivitas industri migas dilakukan di wilayah hampa kepemilikan dan kebal polusi. Padahal berbagai kasus menunjukan isu ini menjadi pemicu lahirnya perlawanan rakyat, seperti kasus Aceh, Riau dan Kaltim. Kasus Mobil Oil yang sudah lama disengketakan orang Aceh, masih juga belum cukup jadi referensi bagi pengambil kebijakan untuk mengubah susbstansi dan perilaku kebijakan. Negara secara semena-mena mereduksi perlawanan rakyat atas ketidakadilan menjadi persoalan perimbangan keuangan semata. Kontrak karya pertambangan yang berada dikawasan hutan lindung telah mencapai 17,669 juta ha atau 37,5 % dari total luas lahan kontrak karya seluas 47,059 juta ha. Kontribusi kerusakan hutan sejak tahun 1996 meningkat 2 juta ha per tahun.

DI SEKTOR KEHUTANAN : Kawasan hutan lindung/konservasi yang saat ini benar-benar sudah terancam keberadaannya diantaranya hutan lindung Pulau Gag-Papua yang sudah resmi menjadi lokasi proyek PT Gag Nickel/BHP, Tahura Poboya-Paneki oleh PT Citra Palu Mineral/Rio Tinto, Palu (Sulteng) dan Taman Nasional Meru Betiri di Jember Jawa Timur oleh PT Jember Metal, Banyuwangi Mineral dan PT Hakman. Belum lagi ancaman terhadap kawasan konservasi lainnya yang hampir semuanya dijarah oleh perusahaan tambang, seperti ; Taman Nasional Lore Lindu – Sulawesi tengah oleh PT. Mandar Uli Minerals/Rio Tinto, Taman Nasional Kerinci Sebelat oleh PT. Barisan Tropikal Mining dan Sari Agrindo Andalas; Kawasan Hutan lindung Cagar Alam Aketajawe dan Lalobata, Maluku Tengah oleh Weda Bay Minerals; Hutan lindung Meratus – Kalimantan Selatan oleh PT. Pelsart Resources NL dan Placer Dome; Taman Nasional Wanggameti oleh PT. BHP; Cagar Alam Nantu oleh PT. Gorontalo Minerals; dan Taman Wisata Pulau Buhubulu, oleh PT. Antam Tbk.

Terjadi perubahan luas kawasan hutan karena eksploitasi hutan tropis Indonesia secara besar-besaran, dipacu dengan UU No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Kehutanan. Sejalan itu pula, diterbitkan UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) dan UU No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), yang memberi ruang bagi para investor menanamkan modalnya di Indonesia. Selanjutnya diikuti dengan berbagai kebijakan yang memungkinkan para pengusaha besar kroni Orde Baru menguasai dan membabat hutan untuk membesarkan modalnya, misalnya PP No. 21 Tahun 1970 tentang Pengusahaan Hutan, PP No. 7 Tahun 1990 tentang Hutan Tanaman Industri, dan peraturan lainnya yang secara nyata tidak berpihak kepada

Struktur penguasaan kekayaan sumber daya alam di Indonesia banyak didominasi oleh pengusaha besar dengan kekuatan kapitalnya. Mereka dapat menguasai kawasan hutan, lahan dan pertambangan serta mengeksploitasinya sampai jutaan hektar luasnya dan puluhan tahun masa konsesinya. Sementara masyarakat setempat yang hidupnya mengandalkan sumber daya lahan tersebut secara turun temurun sebelum negara berdiri, nasibnya justru menjadi sengsara. Ketidakadilan distribusi penguasaan sumber daya alam ini sebagai basis konflik sosial yang riil terjadi dalam kehidupan rakyat. Ketimpangan pembangunan yang paling serius justru terjadi pada sub sektor kehutanan, antara pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dengan rakyat.

Perusahaan pemegang HPH yang membawa izin dari pusat, tanpa menghiraukan kepentingan rakyat menebang pohon-pohon besar “milik negara”. Sementara akses rakyat setempat untuk sekedar memanfaatkan hasil hutan non-kayu (seperti rotan dan damar) ditutup secara sepihak.. Ada 574 perusahaan HPH yang dikatakan mengelola 59 juta ha hutan, padahal faktanya mereka tidak mengelola tetapi sekedar menebang bahkan membabat hutan tanpa menanam kembali. Beberapa konglomerat yang pernah memegang HPH sampai jutaan hektar, diantaranya Prajogo Pangestu seluas 3.536.800 Ha, Andi Sutanto (3.142.800 ha), Burhan Uray (3.996.200 ha), PO Suwandi (2.189.000 ha), dll. (BI, 23/10/98). Fakta lain mengatakan bahwa awal Juli 1999, Dephutbun mengumumkan 18 HPH yang berindikasi KKN para kroni Soeharto. 9 HPH/HPHTI diduga kuat melakukan KKN, 4 HPH dicabut pencadangannya, 5 HPH tidak diperpanjang izin konsesinya (Kompas, 9 Juli 1999) Dephutbun juga mengidentifikasikan bahwa seluas 3,03 juta ha lahan perkebunan dikuasai oleh 33 perusahaan besar di 7 propinsi.

Eksploitasi yang dilakukan para pemegang HPH sangat fantastis dalam rentang 10 tahun terakhir. Data memperlihatkan bahwa produksi kayu bulat mencapai 260,58 juta meter kubik, kayu gergajian 35,84 juta meter kubik, dan kayu lapis 98,052 juta meter kubik. Di sisi lain, ekspor kayu lapis Indonesia dalam 5 tahun terakhir mencapai 56,06 juta m3 dengan nilai devisa 18,73 milyar US$. Sayangnya, nilai devisa itu tidak dinikmati oleh rakyat, tidak juga oleh Pemerintah Daerah. Studi Walhi (1994) menunjukkan 85% keuntungan sektor kehutanan langsung dinikmati oleh para pengusaha, sementar sisanya oleh Pemerintah Pusat. Tampak jelas bahwa hasil eksploitasi bukan untuk rakyat. Indikator ini dapat dilihat dari tenaga kerja yang terlibat dalam usaha perkayuan pada HPH terbilang sangat kecil, yakni hanya 153.438 orang pada tahun 1997. Sementara di pihak lain, ada sekitar 20 juta jiwa rakyat yang mengharapkan hidupnya dari sumber daya hutan mengalami kemiskinan yang berkepanjangan. Bahkan akibat kebakaran hutan dan lahan 1997-1998, mereka mengalami proses pemiskinan antara 40-73 persen dibandingkan sebelum kebakaran.

Selama beberapa dasawarsa, penguasa Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat yang berkelanjutan. Sikap ini tidak lepas dari dukungan pemerintah negara-negara Utara, program bantuan internasional dan perusahaan-perusahaan asing. Atas nama pembangunan hutan dirusak dan laut, sungai dan tanah tercemar. Masyarakat harus mengalah kepada HPH, HTI, pertambangan, pembangkit listrik dan proyek berskala besar lainnya. Ironisnya, keuntungan yang diperoleh hanya dinikmati oleh segelintir orang, kelompok elit yang kaya dan penanam modal internasional.

Penutup

Pengelolaan sumberdaya alam adalah perkara yang sangat serius dan berkesinambungan tentang manajemen dan kebijaksanaan. Degradasi penglolaan sumberdaya alam lebih banyak disebabkan oleh kelalaian manusia dalam mengikuti dan menerapkan kaidah-kaidah Syariat, serta keberanian manusia dalam melawan kaidah-kaidah tsb dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai persoalan krusial sebagai implikasi yang timbul dari tidak diterapkannya aturan yang benar yang mengatur tentang Pengelolaan sumberdaya alam, sangat kita rasakan akibatnya hingga kini. Permasalahan berpangkal dari tidak tegaknya aturan main regulasi penerapan dan mekanisme pengelolaan sumberdaya alam sebagai syarat utama bekerjanya system aturan pengelolaan sumbedaya alam.

Air, listrik, minyak bumi dan barang-barang tambang lainnya adalah harta kekayaan yang diciptakan Allah SWT untuk dinikmati umat yang tidak boleh di rampas oleh siapapun. Jika negara menguasainya, maka itu hanyalah untuk mencegah agar tidak dikuasai individu ataupun pihak asing. Lebih penting dari itu, agar negara dapat mengatur pemanfaatan untuk kepentingan seluruh rakyat karena merekalah pemiliknya yang sesungguhnya atau yang disebut kepemilikan umum.

Ironisnya, di balik kekayaan Indonesia yg begitu melimpah, fakta yang dihadapi umat saat ini justru lilitan utang luar negeri yang telah menenggelamkan bangsa Indonesia dalam krisis multidimensional yang berkepanjangan. Rakyat semakin dalam terpuruk dalam kemiskinan dan penderitaan . Posisi utang luar negeri Indonesia pada bulan April 2001 tercatat 139 milyar US Dolar (USD), atau sebesar Rp 1.251 trilyun, yang terdiri dari 72 milyar USD (52%) utang pemerintah dan 67 milyar USD (48%) utang swasta (laporan BI,2002). Akibatnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita terbebani oleh pembayaran bunga utang dan cicilan pokok utang luar negeri. Pada Rancangan APBN tahun 2002, alokasi untuk Pembayaran Utang Luar Negeri sebesar Rp. 129.505,60 milyar atau sebesar 38,95 % dari anggaran belanja. Pada saat yang bersamaan, untuk menutup defisit anggaran APBN 2002, pemerintah memproyeksikan mendapat pinjaman baru sebesar Rp. 43.032,50 milyar. Selain itu, privatisasi (penjualan BUMN) juga dilakukan untuk menutup defisit anggaran tersebut.