Perlunya Demokratisasi Media
Sabtu, 9 Februari 2013
Setiap tanggal 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN).
Terlepas dari kontroversi terkait penetapan tanggal HPN ini, ada baiknya
kita melakukan kritik oto kritik atas perkembangan pers kita. Setelah
orde baru tumbang, banyak orang merindukan "kebebasan pers".
Dengan kebebasan pers itu, kita berharap, kualitas demokrasi kita
semakin membaik karena dikawal oleh kebebasan berpendapat, menyampaikan
kritik, dan menyebarkan-luaskan informasi. Kita berharap bahwa pers bisa
benar-benar menjalankan perannya sebagai "watchdog" atas
jalannya pemerintahan dan masyarakat sipil.
Namun, setelah kebebasan pers itu datang, justru banyak orang yang
menilainya "kebablasan". Saat ini media massa, baik cetak maupun
elektronik, lebih banyak menyajikan berita sensasional ketimbang
informasi bermutu bagi masyarakat. Media cetak memborbardir kita dengan
berita kriminalitas, seks, kawin-cerai selebriti, dan lain-lain.
Sedangkan televisi selama 24 jam menjejali kita dengan tayangan berbau
kekerasan, opera sabun, pornografi, mistik, dan lain sebagainya.
Namun, ada hal yang lebih mengkhawatirkan: kepemilikan media yang
semakin terkonsentrasi di tangan segelintir elit. Saat ini, ada 12 grup
media yang menguasai saluran media massa kita, termasuk elektronik,
cetak, maupun online. Mereka adalah Jawa Pos Group, MNC Group, Kompas
Gramedia Group, Elang Mahkota Teknologi, Visi Media Asia, Mahaka Media,
CT Group, Beritasatu Media Holdings, Media Group, MRA Media, Tempo Inti
Media, dan Femina Group.
Monopoli di tangan 12 grup media ini membawa dampak buruk: mereka
menguasai hampir semua informasi dan cenderung mendikte audiens sesuai
kehendak mereka. Menurut survei National Democratic Institute, hampir 95
persen dari semua informasi soal politik yang diperoleh warga didapat
dari surat kabar dan televisi yang pemegang sahamnya ada di Jakarta.
12 grup itu mengendalikan ribuan media di Indonesia dalam berbagai
formatnya. Lebih parah lagi, saluran Televisi di Indonesia hanya
dikuasai oleh lima orang: Aburizal Bakri (TV One dan ANTV), Surya Paloh
(Metro TV), Harry Tanoesodibjo (Global TV, RCTI, dan MNC-TV), dan
Chairul Tanjung (Trans-TV dan Trans-7).
Situasi di atas membawa sejumlah konsekuensi. Karl Marx dalam karyanya,
The German Ideology, pernah memperingatkan, "Kelas yang menguasai
alat-alat produksi material pada akhirnya juga mengendalikan alat
produksi mental, sehingga gagasan dari mereka yang tidak menguasai alat
produksi mental tunduk padanya."
Peringatan Karl Marx itu terbukti benar. Di bawah kepemilikan media yang
terkonsentrasi di tangan segelintir elit itu, media massa lebih banyak
berfungsi sebagai "penyambung lidah" para elit penguasa.
Lihatlah, misalnya, keterlibatan media dominan dalam menyebarkan
informasi menyesatkan terkait pencabutan subsidi BBM dan tarif dasar
listrik.
Lihat pula tingkah laku media dalam mendiskreditkan aksi-aksi protes
rakyat, perlawanan petani, dan pemogokan buruh. Media dominan lebih
sibuk mencari sisi negatif dari aksi protes, seperti kemacetan lalu
lintas, kerugian produksi, kekerasan, dan lain-lain, ketimbang
menyampaikan pesan dari aksi protes itu sendiri.
Media dominan juga menjadi "candu" di abad modern untuk membuai
massa rakyat agar pasrah menerima ketertindasannya. Mereka menghipnotis
massa-rakyat dengan opera sabun, iklan komersil, tayangan
cabul/pornografi, mistik dan lain-lain. Media dominan juga aktif
melancarkan propaganda untuk mendepolitisasi massa-rakyat.
Akhirnya, benar apa yang pernah dikatakan Lenin: "kebebasan pers
berarti kebebasan si kaya menyogok pers, kebebasan untuk menggunakan
kekayaan mereka untuk membentuk dan memalsukan opini publik." Dan
lihat saja, betapa para bos 12 grup media itu menggunakan
frekuensi—yang notabene milik rakyat—untuk kepentingan mereka:
mempromosikan bisnis, mempromosikan kepentingan politik mereka, dan
lain-lain.
Ketika media lebih mengutamakan kepentingan pemiliknya ketimbang
kepentingan umum, dan ketika motif keuntungan lebih tinggi dibanding
kebutuhan mencerdaskan rakyat, dan ketika media tidak bisa lagi menjadi
suri-tauladan bagi kemajuan demokrasi, maka sudah saatnya diciptakan
regulasi untuk membatasi kepemilikan media dan isiannya.
Sejumlah negara Amerika Latin, seperti Brazil, Venezuela, Bolivia,
Argentina, dan Ekuador, sudah bergerak ke arah sana. Negara-negara itu
sedang berjuang keras untuk menciptakan ruang publik yang non-profit dan
demokratis. Venezuela, misalnya, telah berjuang keras mendemokratiskan
media dengan membuka ruang sebesar-besarnya bagi media independen dan
akar rumput.
Bukankah pasal 33 UUD 1945 ayat 3 sudah menegaskan: Bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Artinya, udara juga
merupakan milik rakyat dan seharusnya dipergunakan sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Di samping itu, UUD 1945 pasal 28 menyatakan: Setiap
orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari,
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi
dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Kemerdekaan pers tidaklah berarti kebebasan si yang empunya uang.
Kebebasan pers adalah kemerdekaan media massa mendapatkan dan
menyebarkan informasi bermutu dan terpercaya, tanpa dihalang-halangi,
untuk mencerdaskan rakyat. Sedangkan hak rakyat atas informasi tak
sekedar hak berbicara secara bebas, tetapi juga hak untuk mengakses
alat-alat penyedia dan penyebar informasi. Itulah esensi demokratisasi
media.
Selamat hari pers!
Indonesia tanah airku... tempatku dilahirkan dan dibesarkan... negara yang kaya sumber alamnya... akan selalu jaya hingga akhir masa... Indonesia dimerdekakan bertujuan untuk menyejahterakan seluruh warganegaranya...
Senin, 11 Februari 2013
Kamis, 25 Oktober 2012
Cita-Cita
CITA-CITA
Semua orang punya “gegayuhan” atau cita-cita. Untuk mencapainya, orang harus punya bekal yaitu ilmu. Ilmu sebagai “teken” (tongkat) dilandasi ketekunan maka akan “tekan” (sampai ke tujuan). Dengan demikian rumus kita adalah: Tekun, Teken, Tekan. Ketekunan dalam hal ini adalah “Laku”. Ingat bahwa “Ngelmu iku kelakone kanti laku” yaitu “mengurangi makan dan tidur, tidak foya-foya dan hidup prasaja. Kalau dikatakan “lekase lawan kas; tegese kas nyantosani” maka yang dimaksud adalah kebulatan tekad dan keyakinan bahwa kita akan memperolehnya. Mohon merujuk ke tulisan “laku” supaya ing sasmita amrih lantip.
Daftar pitutur di bawah bersumber dari Butir Butir Budaya Jawa koleksi Prof. Rusdibjono (BBB). Terjemahan (setengah bebas) saya tulis di bawah naskah bahasa Jawanya. Selamat membaca, disertai harapan semoga bermanfaat.
1. CITA-CITA: UNTUK MENCAPAI TINGKAT HIDUP LEBIH TINGGI LAHIR DAN BATIN
Nggayuh kaluhuran lire ngupaya tataraning urip kang luwih dhuwur. Dhuwur lahir lan batin ya tumrap dhiri pribadine uga sumrambah kanggo karaharjaning bebrayan. Nanging yen kandheg salah siji, tegese gothang. Yen mung nengenake kaluhuraning lahir genah mung ngoyak drajat lan semat, isih miyar-miyur gampang kena pangaribawa saka njaba. Yen ngemungake kaluhuraning batin, cetha ora nuhoni jejering manungsa, awit ora tumandang ing gawe kanggo keperluwaning bebrayan. Ateges tanpa guna diparingi urip ana ing alam donya. (BBB)
TERJEMAHAN: Ingin memperoleh keluhuran adalah upaya untuk meraih tingkatan hidup yang lebih tinggi. Tinggi lahir maupun batin, untuk diri sendiri dan menyebar ke guna kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Tertinggal salah satu berarti timpang. Mengutamakan keluhuran lahir saja jelas hanya mengejar derajat dan harta. Berarti masih terombang-ambing dan mudah kena pengaruh luar. Bila hanya mengutamakan keluhuran batin, jelas tidak menetapi hakekat manusia, karena tidak bekerja bagi keperluan masyarakat. Berarti tidak ada manfaatnya hidup di dunia
2. MENCAPAI CITA-CITA: HARUS DILANDASI ILMU
Urip tanpa gegayuhan luhur, bebasane kaya lelawuhan tanpa uyah, sepa tan mirasa. Gegayuhan biasane kasembadan kudu sinartan ngelmu, jalaran ngelmu mono pancen sangune ngaurip, wondene ngelmu iku tinemu ing laku lan tandang. Sakehing tandang ora becik kelakone yen ora mapan. Lire, bisaa tansah ngelingi marang jantraning kahanan. Wong kang tandang tanduke mapan, angel kepepete, jalaran yen mapan mesthi cepak waspadane. Dene waspada mono sirikane mala lan adoh saka bebendhu. (BBB)
TERJEMAHAN: Hidup tanpa cita-cita ibarat lauk tanpa garam, hambar, tidak sedap. Cita-cita bisa terlaksana harus dilandasi ilmu, karena ilmu adalah bekal kehidupan. Ilmu diperoleh dari “laku” (belajar tekun) dan “tandang” (bekerja). Supaya “tandang” terlaksana dengan baik, kita harus mapan. Kita harus senantiasa ingat jantera kehidupan. Orang yang tindak-tanduknya mapan, jarang mendapat kesulitan karena selalu waspada. Waspada adalah musuh utama malapetaka.
3. LANDASAN MENCAPAI CITA-CITA: TEKAD BUDI SENTAUSA
Dhasar premati tumraping wong duwe tekad lan duwe gegayuhan yaiku tekad budi santosa. Sarana ndulu kaca benggala kang kita alami saben dina, teteg kawegigane pikir bae ora mujudake gaman pamungkas tumrap kasembadaning sedya. Mula yen mung ngendelake marang punjuling nalar lan moncering kawruh bae, tanpa mengkoni ing budi santosa, atine gampang miyar-miyur, gampang kasinungan ing watak sesongaran sing adhakane banjur kacenthok pancabaya, ubayane banjur mbalenjani. (BBB)
TERJEMAHAN: Dasar utama bagi orang yang mempunyai cita-cita adalah “tekad budi sentausa”. Bercermin pada pengalaman yang kita alami sehari-hari, kepandaian saja bukan merupakan senjata pamungkas untuk tercapainya keinginan. Oleh sebab itu kalau hanya mengandalkan kemampuan ilmu saja tanpa dilandasi tekad budi sentausa, hati kita masih terombang-ambing, masih mudah dihinggapi watak menggampangkan yang biasanya akan mengalami banyak hambatan. Hasilnya adalah kegagalan.
4. MENCAPAI CITA-CITA: “KERJA” DILANDASI KEYAKINAN AKAN TERCAPAI
Siji-sijining dalan amrih kaleksananing gegayuhan, yaiku makarti sinartan kapercayan lan keyakinan menawa apa kang sinedya mesthi dadi. Yen kita mung kandheg ing gagasan lan kukuhing karep bae, tanpa tumandang lan makarya minangka srana panebuse, wohe ya ora beda kaya dene pangimpen. Cilakane maneh, yen selagine nganggit anggit mau wis kaselak ngrasakake kanikmatane ing pangangen-angen, wusanane dadi lumuh ing gawe lan wedi ing kakewuh (wedi kangelan).
TERJEMAHAN: satu-satunya jalan untuk mencapai cita-cita adalah bekerja dengan landasan kepercayaan dan keyakinan bahwa apa yang dicita-citakan akan tercapai. Kalau hanya berhenti di gagasan dan kekerasan tekad saja tanpa bergerak dan bekerja hasilnya tidak akan beda dengan mimpi. Lebih celaka selama kita menggagas sudah merasakan kenikmatan dalam angan-angan. Hasilnya menjadi malas bekerja dan takut mendapat kesulitan.
5. MENCAPAI CITA-CITA: KERJA KERAS DAN TELATEN
Banyu iku bisane bening yen wis menep. Senadyan maune buthek, nanging yen wis menep, iya banjur bening. Semono uga tumrap pepenginan utawa gegayuhan yen diudi nganti katog lan menep ing tembe buri uga bakal kasinungan sifat bening. Lire, nadyan pepenginan lan panggayuh bisa kaleksanan klawan tumuli, ewa semono yen ditlateni suwening suwe uga bakal kasembadan.
TERJEMAHAN: Air biasanya bening kalau sudah mengendap (kotorannya). Walaupun sebelumnya keruh, tetapi setelah mengendap, akan menjadi bening. Demikian pula cita-cita. Kalau kita upayakan sungguh-sungguh dan mengendap (maksudnya telaten) akan bening (tercapai) juga di kemudian hari. Artinya, walaupun cita-cita ada yang bisa segera terlaksana, tetapi kalau kita tlaten lama-lama pasti akan tercapai
6. MENCAPAI CITA-CITA: HARUS MELANGKAH DISERTAI “NALAR”
Sapa sing duwe panjangka kudu wani jumangkah, jer katekaning sedya iku mung bisa maujud menawa dilakoni lan ora nyimpang saka katekadane. Karep lan sedya, jangka lan panuwun, iku saumpamawong lelungan mono tumuju papan kang arep diparani utawa dijujug. Dene kekarepan iku kudu ana kanthine, yaiku nalar. Jalaran kekarepan tanpa nalar ora beda karo karepe bocah cilik. Kejaba tanpa teges, uga sok tanpa wasana, satemah ora ana dadine (BBB)
TERJEMAHAN: Orang yang mempunyai cita-cita harus berani melangkah, karena tercapainya keinginan kita hanya bisa terwujud kalau dijalani dan tidak menyimpang dari tekad kita. Keinginan dan niat, waktu dan doa, semisal orang bepergian harus ditujukan kepada tempat yang akan kita datangi. Keinginan harus punya pengawal. Adapun pengawalnya adalah “nalar”, atau otak. Karena keinginan tanpa “nalar” ibarat keinginan anak kecil. Selain tanpa makna juga tanpa tujuan, hasilnya tidak tercapai
7. MENCAPAI CITA-CITA: MAJU TERUS PANTANG MUNDUR
Angger wong mesthi suthik diarani cupet nalare, cilik aten, lan kendho tekade. Mulane yen darbe karep aja mundur merga luput sepisan pindho bae, prayoga ambalana maneh nganti katekaning sedya. Samubarang pegaweyan menawa kok temeni wiwit saiki mesthi bakal bisa ngundhuh bageyan lan kauntungan. Apa kang kok sedya bakal tumeka, pituwase lagi ketemu mburi
TERJEMAHAN: Semua orang pasti tidak mau dikatakan berpikiran sempit, kecil hati, dan kendor tekadnya. Oleh sebab itu apabila mempunyai cita-cita jangan mundur hanya karena satu dua kali kegagalan. Harusnya kau ulangi sampai tercapai. Semua pekerjaan kalau kau tekuni mulai sekarang, pasti akan memetik hasil dan keuntungannya. Apa yang kau inginkan bakal tercapai di kemudian hari,
8. MENCAPAI CITA-CITA: DILARANG RAGU-RAGU
Yen darbe karep lakonana kanthi gemblenging tekad kang nyawiji, adhepana sarana makarti kang madhep lan mantep. Sangune kudu ati sing tatag, ora ngedhap nadyan mengerti yen dalan kang diambah kebak parang curi. Yen tansah rongeh lan rangu-rangu, ateged mung wani ing gampang, wedi ing pakewuh, samubarang kang sinedya ora bakal ginayuh.
TERJEMAHAN: Seorang yang mempunyai cita-cita harus menjalani dengan tekad yang bulat, menghadapi dengan bekerja mantap. Bekalnya harus berani dan tidak mundur walaupun banyak rintangan dihadapi. Bila selalu ragu-ragu, berarti hanya mau gampangnya saja, takut menghadapi kesulitan dan semua yang dicita-citakan tidak akan tercapai
9. MENCAPAI CITA-CITA: HARUS PANDAI BERGAUL
Kecandhaking sawijining idham-idhaman iku ora cukup mung dibandang moncer lan pepaking ilmu lan kawruh bae. Nanging ana syarat siji kang ora kena kalirwakake, yaiku kapinteran ing bab sesrawungan. Sapa kang bisa tumindak ajur-ajer lan bisa nuwuhake rasa resep marang liyan, prasasat wis entuk pawitan kanggo nandangi sakehing pagaweyan apadene nggayuh idham-idhamane
TERJEMAHAN: Tercapainya cita-cita tidak cukup bermodal kekuatan dan kelengkapan ilmu pengetahuan saja. Masih ada satu syarat yang tidak boleh terlewatkan yaitu kepandaian dalam bergaul. Siapa yang bisa “manjing ajur ajer” (menyatu) dan mampu menumpuhkan rasa suka kepada orang lain, sesungguhnya sudah memiliki modal untuk mengerjakan semua pekerjaan dan mencapai cita-citanya
10. JABATAN TINGGI: MULAILAH DARI PALING BAWAH
Yen kepengin nglungguhi pangkat kang dhuwur luwih prayoga dikawiti saka kalungguhan kang endhek dewe. Awit klawan mengkono ing tembe kowe ora bakal disepelekake dening andhahanmu. Lan kang utama kowe nuli bisa madeg dadi pemimpin kang bisa nglungguhi ing kawicaksanan, adoh saka watak degsura, anane mung sarwa kebak rasa tepa selira.
TERJEMAHAN: Bila ingin menduduki jabatan yang tinggi sebaiknya dimulai dari yang paling bawah. Hanya dengan itu kelak kamu tidak akan disepelekan bawahanmu. Dan yang utama, kamu bisa segera menjadi pemimpin yang bijaksana, jauh dari watak mau menang sendiri dan penuh tenggang rasa.
11. JANGAN PERNAH MERASA DITAKDIRKAN SIAL
Aja sok rumangsa tinitah apes nganti gawe pepesing semangatmu. Malah prayoga dinarima apa kang wis sira tampa saka kanugrahaning Gusti Kang Maha Kuwasa. Awit ngelingana menawa ora kurang-kurang titah kang luwih cingkrang lan luwih cacad tinimbang sira. Suprandene dheweke babar pisan ora kawetu nutuh marang Gusti Allah. Kang mangkono mau ora liya marga saka kandele imane lan yakin marang keadilaning Pangeran Kang Maha Kuwasa marang sakabehing lelakon kang dumadi ing jagad raya iki
TERJEMAHAN: Jangan pernah merasa ditakdirkan sial sehingga membuat luluh semangatmu. Lebih baik kamu menerima apa yang sudah kau dapat dari Allah Yang Maha Kuasa. Ingatlah banyak manusia yang lebih papa daripadamu tetapi mereka tidak pernah menyalahkan Allah SWT. Hal ini karena tebalnya iman mereka ditambah keyakinan akan keadilan Allah Yang Maha Kuasa terhadap semua kejadian di jagad raya ini
12. BOLEH TIDAK PUAS UNTUK PEKERJAAN TETAPI JANGAN KEBENDAAN
Ginubel dening rasa “Tansah kurang marem” marang asiling pakaryan utawa jejibahan kang diayahi, sauger ora ngangsa-angsa, sayekti malah dadi pamecut kang becik kanggo luwih maju. Nanging yen rasa tansah kurang marem mau ngenani wuwuhing donya-brana, ora beda kayadene reridhu sing estine mung tansah rinasa kayadene pasiksane ngaurip.
TERJEMAHAN: Terikat dengan rasa “tidak pernah puas” terhadap hasil pekerjaan atau tugas yang sedang diemban, sepanjang tidak “ngaya” sebenarnya merupakan cambuk yang baik untuk kemajuan. Tetapi kalau rasa kurang puas tersebut mengenai tambahnya hartabenda, tidak beda dengan godaan yang selalu menjadi siksaan hidup.
PENUTUP
Cita-cita tidak mungkin dicapai secara instant, langsung jadi. Harus setapak demi setapak ibarat orang menaiki tangga. Bila ingin punya kedudukan tinggi ya harus mulai dari bawah, sehingga kita mempunyai penghayatan bagaimana rasanya menjadi bawahan, dengan demikian kita akan menjadi pemimpin yang lebih bijak. Wasiyat Dalem Sri Mangkunegara III mengatakan: Yen perintah wong sarat kudu nglakoni dhisik. Bila ditimpa kegagalan beruntun jangan cepat-cepat memvonis diri sebagai orang yang apes. Kegagalan adalah cambuk untuk maju. Syarat punya karep: harus ulat madhep ati mantep. (IwMM)Cita-Cita
Selasa, 05 Juni 2012
Bangsa Ini Butuh Arah!
Bangsa Ini Butuh Arah!
Senin, 4 Juni 2012 | Editorial Berdikari Online
Ada hal menarik dari hasil jajak pendapat harian Kompas, yang kemudian
disusun menjadi artikel berjudul "Memudarnya Jati Diri Bangsa".
Jajak pendapat itu menyebutkan, sebanyak 80,9% responden menganggap
cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat makin jauh dari harapan.
Lebih jauh lagi, jajak pendapat yang digelar Litbang Kompas sejak 30 Mei
-1 Juni 2012 itu juga menyimpulkan, sebagian besar responden (rata-rata
berkisar 80%) menganggap berbagai persoalan bangsa saat ini—perilaku
elit yang korupsi, menipisnya kepercayaan terhadap negara, ketimpangan
sosial, perilaku diskriminatif terhadap minoritas, dan minimnya sosok
panutan bangsa—adalah buah dari makin ditinggalkannya pancasila
sebagai jati diri bangsa.
Ada beberapa hal yang patut dicatat dari hasil jajak pendapat itu.
Pertama, mayoritas rakyat Indonesia melihat berbagai persoalan bangsa
tidak terlepas dari kegagalan penyelenggara negara. Ini tercermin pula
pada meningkatnya ketidakpuasan massa rakyat terhadap kepemimpinan elit
sekarang.
Pancasila tidak lagi menjadi "Weltanschauung" (pandangan hidup).
Para penyelenggara negara, yang seharusnya menjadi panutan, justru
menjadi pelopor berbagai tindakan tidak terpuji dan bertentangan dengan
pancasila.
Kedua, mayoritas rakyat Indonesia melihat persoalan pokok bangsa ini
terletak pada ketiadaan arah. Ketiadaan arah ini, seperti dirasai oleh
banyak orang, membawa bangsa ini pada titik kritis: krisis kebangsaan.
Sebetulnya hal itu tidak perlu terjadi. Kita punya pancasila dan UUD
1945 sebagai pedoman danleitstar (bintang penuntun arah) agar perjalanan
bangsa ini bisa mencapai tujuan yang dicita-citakan. Sayangnya, sejak
orde baru hingga sekarang, para penyelenggara negara sengaja mengabaikan
pancasila dan UUD 1945 itu.
Sebetulnya, jika kita melihat lagi secara mendalam, pancasila dan UUD
1945 itu sudah cukup mumpuni sebagai penuntun arah perjuangan bangsa.
Lima sila dalam pancasila–Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme,
– atau perikemanusiaan, Mufakat, – atau Demokrasi, Kesejahteraan
sosial, dan Ketuhan Yang Maha Esa—masih sangat relevan hingga
sekarang.
Mari kita coba runut-runut berbagai persoalan kebangsaan sekarang ini.
Lihatlah, misalnya, persoalan kekerasan terhadap pemeluk agama minoritas
akhir-akhir ini. Sebetulnya, jika kita konsisten pada pancasila, maka
masalah itu sudah dianggap selesai sejak tahun 1945. Saat itu, kita
sudah mencapai konsensus bersama: "negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadah menurut agama dan kepercayaannya."
Dengan demikian, tindakan menghalang-halangi pemeluk agama tertentu
menjalankan ibadah sesuai agamanya adalah tindakan anti-pancasila.
Sayangnya, tindakan semacam itu justru dilakukan oleh sejumlah
penyelenggara negara. Bahkan, negara juga terkesan membiarkan tindakan
segelintir "perusuh" yang mengganggu kemerdekaan beragama di
Indonesia.
Begitu pula dengan perilaku korupsi. Ini adalah kejahatan terhadap
perikemanusiaan yang tak bisa diampuni. Korupsi juga merupakan hambatan
besar bagi perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Dengan
demikian, sebagai negara yang berideologikan pancasila, Indonesia
mestinya berada di garda depan "negara tanpa korupsi".
Kita lihat lagi penyelenggaraan politik kita sekarang ini. Banyak
kritikan yang bernada begini: mengapa demokrasi saat ini (demokrasi
liberal) tidak mendatangkan kesejahteraan untuk rakyat? Untuk diketahui,
sejak dahulu para pendiri bangsa kita sudah menjawab pertanyaan ini.
Kita bisa melihat contohnya pada kritik Bung Hatta: "Sekalipun
cita-cita demokrasi itu cukup ideal (kekuasaan rakyat)…tetapi yang
demikian tidak terdapat di dalam kapitalische democatie, dimana kaum
kapitalis yang terkecil golongannya mengusai penghidupan rakyat banyak.
Jadinya, demokrasi yang ada di barat sekarang tampak pincang, menyimpang
dari cita-cita demokrasi asli, yang disandarkan kepada
volkssouvereiniteit, kedaulatan rakyat."
Di sinilah letak masalahnya: demokrasi liberal hanya memberikan
demokrasi politik, tetapi tidak ada demokrasi ekonomi. Semua orang bisa
laksana raja di bidang politik, tetapi tidak demikian dengan di
lapangan ekonomi. Akibatnya, karena yang berkuasa di lapangan ekonomi
adalah borjuis, maka merekalah yang bisa mengontrol pemilihan dan
kekuasaan parlemen. Mereka pula yang mengontrol berbagai regulasi dan
kebijakan politik lainnya.
Pendiri bangsa kita sudah punya konsep demokrasi alternatif. Itu
dirumuskan pula di dalam Pancasila, yaitu sosio-demokrasi (penggabungan
demokrasi (mufakat) dan kesejahteraan sosial). Demokrasi kita itu
membuka demokrasi seluas-luasnya pada partisipasi rakyat dalam kehidupan
politik dan sekaligus ekonomi. Dengan demikian, redistribusi sumber daya
dan kekayaan nasional juga bisa berkeadilan sosial.
Pendek kata, kita sebetulnya sudah punya arah yang jelas: pancasila dan
UUD 1945. Hanya saja, seperti juga diakui oleh sebagian besar rakyat,
kedua `bintang penuntun arah' itu sengaja diabaikan dan
ditinggalkan. Pancasila dan UUD 1945 semakin berjarak dengan
implementasi praktisnya.
Pengabaian terhadap pancasila membuat bangsa kita seperti kehilangan
arah. Lebih parah lagi, hal itu membuka jalan bagi praktek
neokolonialisme. Akhirnya, bangsa kita pun kembali "terjajah".
Nah, dalam jajak pendapat Kompas itu juga disebutkan, sebanyak 98,3%
responden masih menginginkan pancasila sebagai dasar negara. Mereka
masih menganggap pancasila sangat relevan untuk mengatasi persoalan
bangsa ini. Asalkan, pancasila—juga UUD 1945—dijalankan secara
konsisten.
Senin, 4 Juni 2012 | Editorial Berdikari Online
Ada hal menarik dari hasil jajak pendapat harian Kompas, yang kemudian
disusun menjadi artikel berjudul "Memudarnya Jati Diri Bangsa".
Jajak pendapat itu menyebutkan, sebanyak 80,9% responden menganggap
cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat makin jauh dari harapan.
Lebih jauh lagi, jajak pendapat yang digelar Litbang Kompas sejak 30 Mei
-1 Juni 2012 itu juga menyimpulkan, sebagian besar responden (rata-rata
berkisar 80%) menganggap berbagai persoalan bangsa saat ini—perilaku
elit yang korupsi, menipisnya kepercayaan terhadap negara, ketimpangan
sosial, perilaku diskriminatif terhadap minoritas, dan minimnya sosok
panutan bangsa—adalah buah dari makin ditinggalkannya pancasila
sebagai jati diri bangsa.
Ada beberapa hal yang patut dicatat dari hasil jajak pendapat itu.
Pertama, mayoritas rakyat Indonesia melihat berbagai persoalan bangsa
tidak terlepas dari kegagalan penyelenggara negara. Ini tercermin pula
pada meningkatnya ketidakpuasan massa rakyat terhadap kepemimpinan elit
sekarang.
Pancasila tidak lagi menjadi "Weltanschauung" (pandangan hidup).
Para penyelenggara negara, yang seharusnya menjadi panutan, justru
menjadi pelopor berbagai tindakan tidak terpuji dan bertentangan dengan
pancasila.
Kedua, mayoritas rakyat Indonesia melihat persoalan pokok bangsa ini
terletak pada ketiadaan arah. Ketiadaan arah ini, seperti dirasai oleh
banyak orang, membawa bangsa ini pada titik kritis: krisis kebangsaan.
Sebetulnya hal itu tidak perlu terjadi. Kita punya pancasila dan UUD
1945 sebagai pedoman danleitstar (bintang penuntun arah) agar perjalanan
bangsa ini bisa mencapai tujuan yang dicita-citakan. Sayangnya, sejak
orde baru hingga sekarang, para penyelenggara negara sengaja mengabaikan
pancasila dan UUD 1945 itu.
Sebetulnya, jika kita melihat lagi secara mendalam, pancasila dan UUD
1945 itu sudah cukup mumpuni sebagai penuntun arah perjuangan bangsa.
Lima sila dalam pancasila–Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme,
– atau perikemanusiaan, Mufakat, – atau Demokrasi, Kesejahteraan
sosial, dan Ketuhan Yang Maha Esa—masih sangat relevan hingga
sekarang.
Mari kita coba runut-runut berbagai persoalan kebangsaan sekarang ini.
Lihatlah, misalnya, persoalan kekerasan terhadap pemeluk agama minoritas
akhir-akhir ini. Sebetulnya, jika kita konsisten pada pancasila, maka
masalah itu sudah dianggap selesai sejak tahun 1945. Saat itu, kita
sudah mencapai konsensus bersama: "negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadah menurut agama dan kepercayaannya."
Dengan demikian, tindakan menghalang-halangi pemeluk agama tertentu
menjalankan ibadah sesuai agamanya adalah tindakan anti-pancasila.
Sayangnya, tindakan semacam itu justru dilakukan oleh sejumlah
penyelenggara negara. Bahkan, negara juga terkesan membiarkan tindakan
segelintir "perusuh" yang mengganggu kemerdekaan beragama di
Indonesia.
Begitu pula dengan perilaku korupsi. Ini adalah kejahatan terhadap
perikemanusiaan yang tak bisa diampuni. Korupsi juga merupakan hambatan
besar bagi perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Dengan
demikian, sebagai negara yang berideologikan pancasila, Indonesia
mestinya berada di garda depan "negara tanpa korupsi".
Kita lihat lagi penyelenggaraan politik kita sekarang ini. Banyak
kritikan yang bernada begini: mengapa demokrasi saat ini (demokrasi
liberal) tidak mendatangkan kesejahteraan untuk rakyat? Untuk diketahui,
sejak dahulu para pendiri bangsa kita sudah menjawab pertanyaan ini.
Kita bisa melihat contohnya pada kritik Bung Hatta: "Sekalipun
cita-cita demokrasi itu cukup ideal (kekuasaan rakyat)…tetapi yang
demikian tidak terdapat di dalam kapitalische democatie, dimana kaum
kapitalis yang terkecil golongannya mengusai penghidupan rakyat banyak.
Jadinya, demokrasi yang ada di barat sekarang tampak pincang, menyimpang
dari cita-cita demokrasi asli, yang disandarkan kepada
volkssouvereiniteit, kedaulatan rakyat."
Di sinilah letak masalahnya: demokrasi liberal hanya memberikan
demokrasi politik, tetapi tidak ada demokrasi ekonomi. Semua orang bisa
laksana raja di bidang politik, tetapi tidak demikian dengan di
lapangan ekonomi. Akibatnya, karena yang berkuasa di lapangan ekonomi
adalah borjuis, maka merekalah yang bisa mengontrol pemilihan dan
kekuasaan parlemen. Mereka pula yang mengontrol berbagai regulasi dan
kebijakan politik lainnya.
Pendiri bangsa kita sudah punya konsep demokrasi alternatif. Itu
dirumuskan pula di dalam Pancasila, yaitu sosio-demokrasi (penggabungan
demokrasi (mufakat) dan kesejahteraan sosial). Demokrasi kita itu
membuka demokrasi seluas-luasnya pada partisipasi rakyat dalam kehidupan
politik dan sekaligus ekonomi. Dengan demikian, redistribusi sumber daya
dan kekayaan nasional juga bisa berkeadilan sosial.
Pendek kata, kita sebetulnya sudah punya arah yang jelas: pancasila dan
UUD 1945. Hanya saja, seperti juga diakui oleh sebagian besar rakyat,
kedua `bintang penuntun arah' itu sengaja diabaikan dan
ditinggalkan. Pancasila dan UUD 1945 semakin berjarak dengan
implementasi praktisnya.
Pengabaian terhadap pancasila membuat bangsa kita seperti kehilangan
arah. Lebih parah lagi, hal itu membuka jalan bagi praktek
neokolonialisme. Akhirnya, bangsa kita pun kembali "terjajah".
Nah, dalam jajak pendapat Kompas itu juga disebutkan, sebanyak 98,3%
responden masih menginginkan pancasila sebagai dasar negara. Mereka
masih menganggap pancasila sangat relevan untuk mengatasi persoalan
bangsa ini. Asalkan, pancasila—juga UUD 1945—dijalankan secara
konsisten.
Jumat, 03 Februari 2012
Meluasnya Ketidakpuasan Rakyat
Jumat, 3 Februari 2012 | Editorial Berdikari Online
Apakah anda puas dengan kinerja pemerintahan sekarang ini? Jangan-jangan
anda termasuk dari kelompok sosial yang ditengarai mengalami
ketidakpercayaan atau ketidakpuasan rakyat (social distrust).
Soal meluasnya fenomena social distrust, yaitu ketidakpercayaan
masyarakat terhadap lembaga-lembaga negara (eksekutif, legislatif, dan
yudikatif), merupakan salah satu kesimpulan pembicaraan antara Badan
Intelijen Negara (BIN) dan Komisi I DPR.
Dalam pertemuan itu, BIN dan DPR mencatat setidaknya ada lima hal
terkait potensi gangguan keamanan kedepan:
Pertama, gejala amuk massa yang makin meluas, baik berdasarkan geografi
eskalasinya maupun dari mobilisasi massanya.
Kedua, meningkatnya social distrust (ketidakpercayaan sosial) terhadap
lembaga-lembaga negara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif).
Ketiga, meningkatnya gejolak politik mendekati pemilu 2014. Keempat,
fenomena masyarakat yang kian permisif terhadap aksi kekerasan.
Kelima, efektivitas pemerintah dalam menangani berbagai problem
masyarakat sangat lamban.
Fenomena social distrust bukan temuan baru. Ini sudah nampak oleh
berbagai aksi protes yang digelar massa rakyat di berbagai daerah. Hal
ini juga nampak pada angka-angka persentase yang ditemukan lembaga
survei.
Lembaga Survey Indonesia (LSI), yang berkali-kali menggelar survei
mengenai popularitas rejim berkuasa, menemukan fakta bahwa popularitas
presiden SBY sudah jatuh di bawah 50%. Bahkan, di wilayah perkotaan,
dengan tingkat kemampuan mengakses informasinya yang lebih cepat,
popularitas SBY hanya 38,9 persen.
Ketidakpuasan ini dipicu oleh beberapa hal: rakyat tidak melihat
perubahan, atau sedikitpun perbaikan, semasa pemerintahan SBY ini. Apa
yang dijanjikan oleh SBY semasa kampanye, juga yang diomongkannya setiap
hari di televisi, sangat bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan.
Presiden sibuk membangun popularitas melalui pencitraan, tetapi
kehilangan kontak dengan realitas: kenyataan-kenyataan hidup masyarakat.
Sementara Presiden berkhotbah di televisi tentang kemajuan ekonomi, di
luar sana rakyat diperhadapkan situasi ekonomi yang sungguh sulit:
kemiskinan, PHK massal, tidak ada lapangan pekerjaan, harga-harga
kebutuhan hidup terus meroket, dan lain-lain.
Rakyat juga menemukan banyak ketidakadilan: para koruptor yang mencuri
uang negara hingga trilyunan tidak tersentuh proses hukum, sedangkan
rakyat yang mencuri beberapa tandang pisang langsung diproses dan
dijatuhi hukuman berat.
Sementara itu, hampir semua sumber-sumber kemakmuran berpindah ke tangan
segelintir pemilik modal, khususnya modal asing. Di berbagai daerah,
proses itu ditandai dengan meningkatnya perampasan sumber daya dan tanah
untuk kepentingan perluasan kapital.
Akibatnya, muncul konflik agraria di berbagai daerah. Dalam kasus itu,
negara dan aparatusnya jelas memihak pemilik modal. Dengan mengabaikan
konstitusi, pemerintah mengirimkan aparatus kekerasan guna mengusir
rakyat dari lahan dan pemukimannya. Terjadilah kasus seperti di Mesuji
(Lampung), Bima (NTB), dan Rokan Hulu (Riau).
Akan tetapi, ketidakpuasan rakyat ini tidak hanya mengarah kepada
presiden SBY, tetapi juga kepada lembaga negara yang lain: DPR dan
penegak hukum. Di sejumlah daerah, ketidakpuasan itu dilampiaskan dengan
pembakaran simbol-simbol lembaga negara yang dimaksud.
Hampir semua lembaga itu tidak ada yang berfungsi melayani rakyat.
Lembaga-lembaga itu, semisal DPR, sangat sibuk membicarakan agenda
perutnya masing-masing: membangun kemewahan dengan menghambur-hamburkan
uang rakyat.
Sementara sang Presiden sibuk menjadi aktor dalam "demokrasi
panggung", sebagian besar aparatusnya mengambil `pekerjaan
sambilan': pencoleng uang negara, mafia kasus-kasus besar, pengobral
sumber daya, becking pengusaha, dan lain-lain.
Kita berharap agar kesimpulan BIN dan DPR ini tidak berakhir sebagai
bahan press release. Kita juga berharap agar berbagai pembacaan mengenai
ekspresi ketidakpuasan itu tidak sekedar menjadi bahan diskusi dan
seminar; ujung-ujungnya keluar dalam bentuk `indeks ketidakpuasan
rakyat'.
Dengan kesimpulan ini, BIN dan DPR segere merekomendasikan pendekatan
persuasif terhadap berbagai persoalan rakyat. Sebab, kemunculan berbagai
protes rakyat itu diakibatkan oleh kesalahan pemerintah sendiri.
Kita berharap agar kesimpulan untuk memikirkan secara serius dan
mendalam kondisi bangsa kita saat ini. Rejim SBY tentu akan
diperhadapkan dengan pilihan-pilihan: mau mempertahankan gaya berpolitik
saat ini atau gaya berpolitik merakyat; mempertahankan sistim
ekonomi-politik sekarang atau kembali kepada jalan ekonomi-politik yang
sudah digariskan pendiri bangsa (founding father).
Jumat, 13 Januari 2012
`Betapa Buruknya Pemerintahan Sekarang ini'
Kamis, 12 Januari 2012 |Editorial Berdikari Online
Pada tahun 1969, seorang anak muda yang sedang gelisah, Soe Hok Gie,
menulis sebuah artikel di harian Kompas. Ia memberi judul artikelnya
"Betapa Tak Menariknya Pemerintah sekarang ini". Di situ, ia
menumpahkan segala kegelisahannya terhadap pemerintahan baru: Orde Baru.
Soe Hok Gie, seorang pemuda kritis, juga optimis, tiba-tiba gelisah. Ia,
yang hatinya sangat dekat dengan rakyat jelata, sehari-hari mendengar
kabar tentang oknum militer yang menampar rakyat biasa, tentang ngebut
anak-anak `penggede', atau tentang penyelundupan yang
dilindungi.
Meski begitu, Soe Hok Gie masih menutup artikelnya dengan optimisme.
Antara idealisme dan kenyataan memang tak selamanya `klop'. 32
tahun kekuasaan rejim orde baru jauh lebih buruk dari yang dibayangkan
oleh Gie: korupsi merajalela, penggusuran dimana-mana, pemilu selalu
dimanipulasi, dan banyak lagi. Boleh jadi, seandainya Gie bisa melihat
keseluruhan rejim orde baru, mungkin ia akan menulis dengan judul
"Betapa Biadabnya Pemerintahan Sekarang Ini".
Bagaimana pula kalau Soe Hok Gie sempat menyaksikan rejim sekarang? Kita
sulit membayangkan responnya ketika mendengar kabar pembantaian rakyat
di Mesuji, Bima, dan berbagai tempat lainnya. Selain itu, darahnya juga
akan seketika mendidih saat mendengar kabar: pelajar SMU dipenjara
karena soal sandal, nenek tua dipenjara karena tiga butir kakao, dan
nasib dua pemuda difabel yang dipenjara lantaran sembilan tandang
pisang.
Sementara itu, di gedung parlemen dan istana negara sana, banyak
koruptor yang tak tersentuh proses hukum. Lihat pula proses persidangan
para koruptor kakap di pengadilan yang seolah-seolah disengaja untuk
"lamban". Nanti, kalau rakyat sudah tidak menyimak kasus itu,
hakim akan menjatuhkan vonis ringan.
Hidup di bawah rejim sekarang sungguh tidak enak, bahkan sangat
menakutkan. Bayangkan, gara-gara berbeda cara dalam beribadah, anda bisa
dianggap sebagai `aliran sesat' dan tempat ibadah anda akan
dibakar. Nyawa anda pun bisa terancam. Akan tetapi, yang lebih tidak
mengenakkan lagi adalah sikap abai pemerintah, seolah-olah peristiwa
semacam itu `hal biasa'.
Soal kesejahteraan rakyat, apalagi, inilah yang paling buruk saat ini.
Dulu sudah ada kaya dan miskin, tetapi jurangnya pemisahnya belum
terlalu dalam. Sekarang, sejak pemerintah doyan menggunakan resep
neoliberal, kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi sungguh luar biasa.
Bayangkan, kekayaan 43 ribu orang terkaya di Indonesia itu setara dengan
kekayaan 140 juta penduduk.
Kekayaan alam kita, yang sejak dulu dikenal sangat melimpah, tidak
menjadi senjata memakmurkan rakyat. Sebagian besar kekayaan alam itu,
seperti minyak, gas, batubara, tembaga, emas, nikel, bauksit, dan
lain-lain, sudah berpindah tangan ke sejumlah perusahaan asing. Bahkan,
demi mempermudah proses penyerahan kekayaan alam itu kepada pihak asing,
raja-raja kecil di daerah pun diberi lisensi bernama "Ijin Usaha
Pertambangan". Jadinya, seperti dikatakan orang, diperkirakan 90%
dari keuntungan eksplorasi SDA itu diangkut keluar negeri, sedangkan 10%
sisanya masuk ke kantong penguasa.
Sudah begitu, rejim saat ini sangat doyan berutang. Terakhir, posisi
utang Indonesia per September 2011 adalah Rp1.733,64 triliun. Alhasil,
karena dibebani pembayaran cicilan utang, APBN tiap tahun selalu
"cekak". Anggaran untuk pembangunan dan program kesejahteraan
rakyat sangat minim: anggaran untuk belanja modal hanya 17,62%,
sedangkan belanja sosial hanya 6,67%.
Lebih menyebalkan lagi, rejim sekarang suka bermain popularitas dengan
gaya politik pencitraan. Perhatian terhadap rakyat korban bencana,
misalnya, ditunjukkan dengan aksi `presiden pindah ngantor'.
Perhatian presiden dengan soal seni budaya ditunjukkan dengan Presiden
bermain gitar dan mengeluarkan album.
Presiden SBY terlalu banyak menebar pesona, tapi minim kerja konkret.
Ketika kaum tani di berbagai daerah ditembaki oleh Polisi, presiden kita
tak bisa berbuat apa-apa. Ketika anak-anak negeri dipermainkan oleh
hukum yang tak adil, Presiden juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak
salah kemudian, ada orang yang mengatakan, "SBY orang yang berkuasa,
tapi seolah tak punya kuasa."
Seandainya Soe Hok Gie masih hidup dan melihat keadaan sekarang, entah
judul apa yang diberikan kepada tulisannya. Pastinya, ia tidak cuma
gelisah, tapi sangat marah dengan keadaan. Sehingga, judul tulisannya
pun adalah ungkapan orang marah: "Betapa Buruknya Pemerintahan
Sekarang!"
Selasa, 29 November 2011
Belajarlah Gaya Hidup Kepada Bangsa China
Oleh : KH. A. Hasyim Muzadi
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang
Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang RRC (Tiongkok) kepada
kamu semua. Dengan perjalanan ini, saya menjadi lebih mengerti kenapa
Rasulullah SAW menganjurkan kita supaya mencari ilmu, sekalipun ke
Negeri Cina. Saya perhatikan ada beberapa kekhususan dari China, yaitu:
1. Segi Historis (Sejarah)
China adalah bangsa yang tua
karena beribu-ribu tahun sebelum masehi, China sudah menjadi bangsa
yang besar bersama dengan Romawi, Yunani, Persia, India, dll. Ini adalah bangsa-bangsa tua yang ribuan tahun sebelum masehi sudah dikenal dalam sejarah.
2. Segi Geografis
China persis berada pada posisi tengah-tengah dari Benua Asia. Adapun selisih waktu antara Beijing dengan Jakarta hanya 1 jam sebagaimana selisih WIB dan WITA.
Luas Negara China ini luar biasa, bahkan melampui luasnya Amerika Serikat dan hampir sama dengan luas Uni Sovyet sebelum pecah.
3. Segi Populasi
Negara China mempunyai jumlah populasi
terbesar di dunia, yaitu mencapai 1,3 milyar jiwa. Ini jumlah penduduk
yang ada di China daratan, belum lagi bangsa China berada di luar China
(Overseas China). Di Negara mana-mana pasti ada orang China,
termasuk Kalpataru, Cengger Ayam, bahkan daerah yang
nyelempit-nyelempit itu. Jadi, tidak ada satu kota pun di dunia ini
yang tidak ada orang Chinanya. Jumlah populasi orang China yang berada
di luar RRC itu kalau ditotal sekitar 600 juta jiwa. Sehingga kalau
ditotal secara keseluruhan, maka jumlah populasi warga China mencapai
hampir 2 milyar jiwa.
4. Segi Ekonomi
China ini adalah bangsa yang mempunyai
etos kerja tinggi dan pekerja keras. Dalam satu hari, orang China mampu
bekerja selama 11 jam, padahal kita saja yang berkerja 8 jam sehari
sudah merasa berat. Perhatikan orang China yang buka toko. Pada pukul
06.00 dia sudah membuka toko dan tutup menjelang Maghrib, kemudian
malam harinya, dia totalan. Jadi, waktu yang tersisa itu hanya digunakan untuk tidur atau untuk keperluan yang berkaitan dengan usaha dagangnya.
Di samping sebagai pekerja keras, orang China adalah pekerja
cerdas. Sekarang ini, tidak ada satu barang pun di dunia ini yang tidak
ditiru oleh Negara China. Suatu saat saya pergi ke pasar malem. Di sana
saya ditunjukkan jam tangan merk Rolex, mulai dari yang asli seharga 70
juta Rupiah, sampai Rolex yang seharga Rp. 70.000, dan kita sulit untuk
membedakan antara yang asli dengan yang palsu. Oleh karena itu, RRC
mempunyai potensi luar biasa untuk menghancurkan Barat. Apalagi
produksi-produksi di sana dibuat secara besar-besaran, yaitu kalau satu
orang membuat 10 baju, maka dari RRC akan mengekspor sekirat 12-13
milyar baju.
5. Rasa Persaudaraan (Kecinaan)
Bangsa China mempunyai
rasa "kecinaan" dunia. Jadi, kalau orang China ketemu sama orang China
lainnya, perasaannya lain dibandingkan ketemu dengan kita.
6. Segi Politik
Dahulu Negara China diperintah oleh Kaisar. Tunduk kepada Kaisar adalah
harga mati, sehingga pada zaman Kekaisaran, Kaisar menyuruh rakyat
untuk membangon tembok besar China meski harus mengorbankan ratusan
ribu jiwa. Tembok besar China ini dibangun di puncak-puncak bukit dan
panjangnya sekita sepanjang 6000 KM.
Kalau ada pekerja yang mati, maka langsung dikuburkan di dekat situ.
Jadi, tembok besar China itu sebenarnya angker karena ada alam
arwahnya.
Setelah itu Negara China dipimpin oleh Komunis. Pemerintahan
Komunis ditambah dengan etos kerja bangsa China yang luar biasa,
menjadikan Negara China memperoleh untung besar. Kenapa?, karena nilai
yang dimakan oleh masing-masing orang China, lebih sedikit dari pada
nilai hasil kerja mereka. Ibaratnya: kalau nilai kerjanya Rp. 20.000
perhari, maka dia hanya memakainya sebanyak Rp, 10.000 sehari,
sedangkan yang Rp. 10.000 lainnya menjadi hak Negara, sehingga yang
semakin kuat adalah Negaranya. Ini terjadi pada waktu pemerintahan
Komunis dipimpin oleh tokoh bernama Mao Zedong.
Setelah Mao Zedong meninggal dunia, sistem ekonomi China diubah,
namun politiknya tetap berhaluan Komunis. Artinya: orang China masih
diperintahkan untuk kolektivitas, tapi ekonomi China mulai dibuka
pelan-pelan. Dari situ, mulai ada ekspor dan impor, investasi, dsb.
Bahkan lebih dari 4 juta anak-anak muda China, dikirim ke seluruh dunia
untuk belajar membuat barang-barang yang dibuat di negara-negara yang
mereka tempati. Semua itu dibiayai oleh Negara.
Akhirnya ekonomi China meledak dan berkembang sangat pesat.
Kenapa?, karena bangsa China itu tidak suka hidup mewah, di samping
karena budaya, juga karena faktor politik Komunisme yang dianut. Jadi,
Negara China itu dari Komunis, bergeser ke arah Sosialis yang agak
longgar, bahkan sekarang menjadi Kapitalis, namun bukan "dikapitalisi"
oleh orang lain.
Dalam tempo kurang dari 20 tahun, kota-kota besar di China disulap menjadi lebih hebat dari Washington dan New York.
Jadi, di sana saya seperti memasuki daerah yang aneh, karena saya dulu
pernah ke China, tapi tidak seperti yang sekarang ini. Sekarang ini
Negara China luar biasa hebatnya dan mulai menggeser posisi ekonomi
Barat. Kenapa itu bisa terjadi?, karena RRC tidak mau terikat dengan
semua ikatan ekonomi internasional, baik itu IMF, ILO, WTO, dsb.
Sehingga RRC ini berjalan tidak berdasarkan konsensus internasional,
melainkan menggelinding sendirian dengan kekuatan raksasa yang mereka
miliki.
Hidup bangsa China tetep sederhana, karena mereka mempunyai budaya
yang mengacu kepada filsafat Konghucu. Sekalipun bangsa China adalah
komunis yang menganut ajaran tidak bertuhan (atheisme), tapi sebenarnya
mereka masih mendewakan Kongfuche sampai hari ini. Orang China yang
beragama Kristen menganut Konghuchu, orang China yang beragama Islam
juga menganut Konghuchu, dsb. Konghuchu sudah menjadi agama negara dan
agama bangsa.
Umat Islam di China tidak besar, jumlah mereka kurang lebih sekitar
50 juta saja. Apa artinya 50 juta muslim di tengah-tengah 1.3 milyar
penduduk RRC. Orang Islam di sana rata-rata sudah berusia tua yang
kelasnya "Husnul khatimah".
Nah, yang menarik bagi saya dan mungkin cocok dengan kandungan
Hadits di atas adalah bahwa bangsa China itu selalu hidup di bawah
jumlah penghasilannya. Saya kira, sikap ini perlu kamu tiru. Tidak ada
orang China yang menghabiskan uang Rp. 10.000 sehari, kalau
penghasilannya tidak mencapai Rp. 15.000. Ketika orang China masih
berpenghasilan Rp. 5.000, maka dia hanya makan sebanyak Rp. 4.000 saja.
Jadi, bangsa China itu pantang memakan habis hasil keringatnya dan
harus ada sisa dari hasil keringatnya tadi.
Bangsa China sudah terbiasa hidup sederhana. Mereka bisa bikin
mobil, motor, dsb. Mereka juga bisa meniru sepeda motor model Harley
Davidson. Meskipun demikian, mereka jarang naik sepeda motor. Saya
lihat di kota Peking, kalau orang mau bepergian yang jaraknya kurang
dari 1 KM, maka mereka memilih jalan kaki; kalau lebih dari 1 KM,
mereka memilih naik sepeda; dan kalau lebih dari 5 KM, maka mereka
memilih naik bus. Kalau sudah kaya betul, baru mereka mempunyai mobil;
itupun jarang dipakai, karena mereka lebih suka naik bus sekalipun
sudah mempunyai mobil sendiri. Alasan mereka sederhana dan rasional,
yaitu jalan kaki itu lebih hemat, lebih sehat, lebih selamat, dan
anti-polusi.
Di sana juga banyak sepeda pancal, namun sepeda yang dipakai itu
jelek-jelek, karena yang baik-baik itu untuk dijual. Jadi, bangsa China
ini mempunyai sifat-sifat yang agak aneh dibandingkan dengan
bangsa-bangsa yang lain. Orang China itu kalau yang terbaik untuk
dijual, sedangkan yang jelek untuk dipakai sendiri.
Di RRC jarang ada rumah mewah, yang banyak adalah rumah susun,
maklum jumlah penduduknya milyaran orang. Sedangan bangunan yang
megah-megah adalah semacam universitas, pertokoan, mall, kantor, dsb.
Orang-orang
China jarang yang gemuk, padahal makannya banyak. Mereka bisa langsing
karena sering jalan kaki dan berolah raga. Bahkan hampir seluruh
tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat-obatan, tumbuh subur di
Negara China. Ibaratnya, Negara China adalah miniatur dari
tanaman-tanaman yang berkhasiat obat. Lha, ini yang menginspirasi Mr.
Li Xiang untuk memproduksi obat-obatan, tapi sudah dimodernisir. Pabrik
yang dimiliki oleh Mr. Xiang ini sekarang sudah menguasai 1/3 pasaran
obat di dunia. Dia menggunakan sistem MLM (Multi Level Marketing) dan
sistem bonus, yaitu setiap orang yang berhasil menggaet pelanggan lain,
akan diberi bonus. Jadi, kalau saya membuat 100 anak Al-Hikam membeli
produk obatnya, maka saya akan mendapatkan keuntungan dari 100 orang
tadi. Dengan sistem promosi yang berjenjang seperti ini, maka orang
berlomba-lomba kaya melalui pabrik milik Mr. Xiang ini. Bonusnya juga
ndak tanggung-tanggung, ada bonus berupa pesawat, kapal pesiar, mobil,
sepeda motor, dsb.
Saya kan sudah ke Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika, dsb., saya
melihat bangsa China ini memang aneh. Mereka lebih mendulukan bekerja
dari pada makan. Jumlah yang dimakan harus di bawah hasil kerja.
Sebenarnya makannya orang China itu banyak sama dengan makanya orang
Arab; akan tetapi karena mereka berolah-raga terus, sehingga jarang
yang gemuk. Lain hanya dengan orang Amerika, di sana ada wong gowo wetenge tok wis kabotan, mergo kakean badokan (orang
bawa perutnya sendiri sudah keberatan, sebab kebanyakan makan. red).
Lalu saya teringat pada Hadits Rasulullah SAW , Hadits itu ditujukan
untuk urusan kehidupan duniawi.
Bangsa China ini pekerja keras dan pekerja cerdas. Kalau orang
Bugis, Madura dan Batak adalah pekerja keras, tapi tidak cerdas,
sehingga kalau ayahnya jualan rokok di rombong, maka anaknya juga
demikian. Beda dengan orang China; kalau ayahnya jualan kacang
buntelan, maka pada saat anaknya nanti, usahanya sudah menjadi pabrik
kacang. Jadi, untuk faktor enterpreneurship, mungkin China itu nomer
satu di dunia.
Orang Barat itu hebat dalam hal penelitian dan penemuan. Mereka
meneliti sampai bisa menemukan listrik, kereta api, silinder, dsb.
Adapun masalah berdagang dan mencari rezeki, jagonya adalah China.
Sedangkan kalau makan tapi tidak kerja, jagonya adalah orang Indonesia.
Jadi, orang Indonesia itu maunya, kalau kerja tidak berkeringat, tapi
kalau makan, harus berkeringat. Berarti di sini kita mengalami hambatan
budaya untuk maju.
Ini semua membuat saya mikir-mikir: seandainya ibadah, tauhid, dan
akhlaq kita digandengkan dengan etos kerjanya orang China, maka saya
kira, itulah yang dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW.
"Bekerjalah untuk duniammu, seakan-akan engkau hidup selamanya; dan bekerjalah
untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari"
Kesalahan orang Islam adalah menghindari kerja keras, seakan-akan
tidak berkerja keras adalah bagian dari tasawuf, padahal pandangan
seperti itu adalah bagian dari kebodohan. Tasawuf itu ngeresii ati,
bukan nganggur. Banyak orang Islam yang merasa mulya ketika ngganggur,
tapi kok urip, padahal orang seperti ini pasti menjadi benalu atau
seperti bunga teratai yang hidup terombang-ambing di atas air,
sekalipun berbunga, ia tidak bisa lepas dari air. Oleh karena itu, saya
ingin kamu semua mempunyai etos kerja dan enterpreneurship.
Saya melihat orang China di sana jarang omong. Mereka ngomong
seperlunya, karena pekerjaan lebih mereka dahulukan. Sedangkan di sini, omong-omongan tok iso sampek 4 jam sambil ngentekno kopi 4 gelas (berbincang-bincang
saja bisa sampai 4 jam sambil menghabiskan kopi 4 gelas. red), serta
bercerita yang sama sekali tidak ada gunanya. Ini disebut dengan wasting time (menyia-nyiakan
waktu), padahal di dalam Hadits disebutkan bahwa orang yang
menyia-nyiakan waktu atau hidupnya, berarti dia sedang disia-siakan
oleh Allah SWT.
Sebenarnya Islam mengajarkan etos kerja ini ketika Rasulullah SAW
ditanya: "Rezeki apa yang paling baik?", beliau menjawab; "Rezeki
terbaik adalah rezeki hasil tangannya sendiri". Kadang-kadang, karena
orang tua masih cukup, maka seseorang nebeng kepada orang tua,
sementara dia sendiri tidak ada mempunyai kreativitas; sehingga begitu
ditinggal mati oleh orang tuanya, dia akan kelabakan.
Saya melihat bahwa perusahaan-perusahaan besar milik orang China di
Indonesia, rata-rata Grand Manager-nya berusia di bawah 40 tahun.
Misalnya: Gudang Garam, Djarum, dsb. Perusahaan-perusahaan itu sudah
tidak dipegang oleh ayahnya, karena ayahnya sudah menjadi konsultan,
sedangkan yang menjadi eksekutif commite-nya adalah anak-anaknya.
Saya sebenarnya ingin kamu berlatih dua hal, yaitu: jangan
memubadzirkan waktumu, demi menegakkan etos kerja dan berusahalah
berprestasi lebih tinggi dari pada apa yang kamu butuhkan.
Hal-hal
seperti di atas, kalau digandengkan dengan akhlak dan tauhid, maka
itulah bentuk nyata dari fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah.
Negara-negara Islam, mulai dari Saudai Arabia sampai Maroko, adalah
Negara-negara yang kaya, namun bukan Negara yang maju. Negara-negara di
Timur Tengah menjadi Negara kaya, karena mempunyai minyaknya melimpah.
Namun karena yang menyedot minyak adalah Amerika, maka Negara-negara
Timur Tengah hanya dikasih 15 % dari hasil sedotan. Itu sudah membuat
mereka menjadi Negara kaya, akan tetapi tidak bisa menjadikan mereka
sebagai Negara maju, karena nyedot minyak saja tidak bisa. Sementara
Negara-negara di Timur Tengah yang tidak punya minyak, semuanya menjadi
Negara miskin, contoh: Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Moroko, apalagi
Sudan. Sudan itu ibukotanya bernama Kartoum, namun bandara Kartoum saja
tidak ada WC-nya, sehingga kalau mau kencing harus melayu adoh ke
tempat sing gerumbul-gerumbul (yang rimbun. red), sehabis kencing, diobati (maksudnya; diobat-abit).
Sebenarnya, perintah melihat bangsa China adalah bagian dari Hadits
yang menyatakan bahwa hikmah itu adalah milik orang mukmin. Kalau
hikmah itu kececer pada orang lain, maka hikmah itu adalah milikmu.
Jangan karena tidak Islam, lalu kamu memusuhi mereka. Karena mutiara
itu kececer dan dipegang oleh orang lain, maka ambil kembali hikah itu.
Contoh: Penelitian itu kan perintah Islam, lalu kenapa kita tidak
memakai hasil penelitian orang Eropa?. Dulu, sebelum orang Eropa maju,
yang bisa meneliti dalam bidang kedokteran, matematika, gizi, dsb.
diteliti oleh ulama'-ulama' Islam. Oleh karena itu, ambillah hikmah
dari mana saja, asal hikmah itu benar menurut syariat Islam.
Jadi, tidak bagus kalau ada orang yang membeda-bedakan antara
daerah Islam dengan daerah yang tidak Islam. Karena di daerah Islam itu
ada tauhid, namun ada kelemahan; sedangkan di daerah yang tidak Islam,
ada kekufuran, namun ada kelebihannya. Hanya saja, sampai hari ini,
orang-orang Timur Tengah, masih juga membagi peta antara Negara Islam
dengan Negara tidak Islam, padahal mutiara-mutiara Islam sebagai agama,
telah tercecer di sana-sana, karena tidak dipegang oleh orang muslim di
negara Islam itu sendiri.
Ketika saya masuk Somalia, penduduknya begitu miskin. Kalau di sana
ada orang bisa makan cukup setiap hari, itu sudah Alhamdulillah.
Padahal Negara ini mempunyai tambang-tambang yang banyak. Ini semua
mengingatkan kita, kenapa Negeri Islam, penduduknya miskin-miskin,
sedangkan penduduk di daerah non-muslim kok tidak demikian. Ilmu memang
ada di sini, namun yang melakukan adalah orang di luar Islam. Jadi,
ilmu etos kerja, ilmu penelitian dan kerja keras adalah Islami. Mereka
yang melakukan ilmu itu, meskipun ndak pakai syahadat; sedangkan di
Negara-negara Islam pakai syahadat, tapi ilmunya tidak diamalkan. Jadi,
kalau syahadat itu ibarat lokomitif, sedangkan gerbongnya adalah ilmu.
Baik lokomotif maupun gerbong, itu sama-sama diperlukan. Kalau ada
lokomotif ndak pakai gerbong, itu kan lucu.
Akhirnya di Negara-negara Islam, penduduknya bertentangan karena
selisih paham, saling bunuh-membunuh karena selisih aliran, dsb. Jadi,
Islam yang kaffah itu bukan Negara harus distempel Islam, namun
unsur-unsur ke-Islam-an yang harus diterapkan di Negara itu. Nah,
sekarang itu, golongan seperti Hizbut Tahrir, FPI, dsb. mengatakan
bahwa Islam Kaffah adalah kalau Indonesia yang dihuni oleh banyak orang
Islam ini, distempel Islam; ndak peduli apakah masyarakat di dalamnya
itu menjadi maling atau tidak. Padahal yang akan dihisab nanti adalah
orang-perorang, bukan institusi. Jadi yang harus bertanggung jawab
adalah individu, bukan nation state-nya. Baru pemahamannya saja, mereka
sudah menceng dan tidak karu-karuan. Mereka itu sebenarnya tidak
kaffah, tapi merasa paling kaffah. Kemarin saya didatangi oleh Redaktur
Majalah Sabili; saya dikritik karena saya kok masih mempertahankan
Pancasila, kenapa kok tidak setuju dengan Khilafah, berarti tidak
kaffah. Lalu saya jawab: Lho, yang dimaksud kaffah bukan
simbolistik-simbolistik, melainkan hikmah-hikmah Islam yang berserakan,
kemudian dijadikan satu, itulah Islam kaffah.
Untuk mengerti bahwa shadaqah itu penting, kita cukup membaca
Hadits. Akan tetapi untuk menciptaan masyarakat yang mampu bersedekah,
maka tidak cukup hanya dengan menghafalkan Hadits-hadits, karena itu
adalah proses perjuangan ekonomi kerakyatan. Sementara sekolah-sekolah
Islam yang di Timur Tengah, isinya menghafal saja, sehingga berhenti
sampai hafalan, tidak pada aktualisasinya. Dino-dino omongane dalil (sehari-hari bicara dalil. red), tapi dalil iku gak tahu dilakoni (tidak pernah dilakukan. red).
Semua ini menjadikan saya termenung. Sudah berapa Negara yang saya
kelilingi, saya kira sudah lebih dari 40 Negara. Namun, untuk kunjungan
ke China, rasanya lain bagi saya. Bagaimana tidak?, mereka punya
sesuatu, tapi tidak mau pakai; mempunyai etos kerja tinggi, tetapi
hidup sederhana; barang yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang asal
jadi, dipakai sendiri. Mereka juga jarang yang mau pakai sepeda motor,
karena mengakibatkan polusi dan tidak sehat. Maka dari itu, umure wong Chino iku dowo-dowo, gak mati-mati sampek tuek tuyuk-tuyuk (umur orang china itu panjang-panjang, tidak mati-mati sampai tua. red) , bahkan mencapai usia lebih dari 100 tahun.
Jadi, budaya kita ternyata tidak produktif. Bagaimana kita bisa
mempunyai budaya yang produktif, tapi etis dan tauhidi dan Islami, ini
baru menjadi bangunan dari fiddunya hasanah wa fil akhriati hasanah.
Saya masih akan ke Moskow. Rusia itu dedengkot komunis dunia. Mereka
telah mendirikan komunisme yang bertahan selama 70 tahun, lalu ambruk.
Kenapa Rusia setelah direformasi, kok ambruk, sedangkan China setelah
reformasi kok malah melejit, padahal keduanya sama-sama komunis?. Itu
karena komunis di China menggunakan budaya China, yaitu makan kurang
dari penghasilan; sementara orang Rusia, biaya makan melebihi kapasitas
hasil kerjanya. Sekarang ini orang China pergi ke Moskow secara
besar-besaran untuk menggarap pertanian-pertanian. Sehingga sekarang
ini Rusia tampaknya berada di bawah kendali RRC.
Ketika saya di China, saya bertemu dengan pedagang Amerika yang
berasal dari Wall Street di New york. Dia minta dengan hormat, supaya
China itu tidak mengekspor barang-barang seperti sekarang ini, karena
kalau ini diteruskan, maka perekonomian akan ambruk dalam 5 tahun.
Jawabnya orang China: "Saya tidak ingin mengekspor barang saya, kalau
rakyat Anda tidak ingin membeli barang saya". Itungan China kan begini:
Penduduk China itu berjumlah 1.3 Milyar jiwa, kalau setiap orang
memperoleh bati 1$ saja, berarti untunganya sudah mencapai 1.3 Milyar
dollar. Jadi, gimana mereka mau disaingi, itu kan ndak mungkin.
disadur oleh alhikam team.
sumber: http://mylazuardi.multiply.com/journal/item/7/BELAJARLAH_GAYA_HIDUP_KEPADA_BANGSA_CHINA
Perang Psikologis Imperialis
Selasa, 22 November 2011 | Editorial Berdikari Online
Kolonialisme akan selalu mencari segala cara untuk tetap bertahan lama.
Salah satu cara yang ditempuh adalah proses dehumanisasi; rakyat jajahan
dihancurkan karakternya, dijauhkan dari akar budayanya yang progessif,
dan dibutakan dari akar historisnya. Ujung dari proyek ini adalah
penaklukan kesadaran dan penghancuran kebudayaan.
Dalam aspek psikologis, muncul perasaan minder atau rendah diri di
kalangan rakyat yang terjajah. Kolonialisme menyebarkan berbagai
propaganda untuk menunjukkan bahwa rakyat di negeri jajahan tidak bisa
bertahan hidup tanpa bergantung dari kolonialis. Muncul perasaan
inlander di kalangan pribumi.
Karena itu, ketika berusaha membangkitkan gerakan untuk menuntut
kemerdekaan, para pendiri bangsa kita berussaha membunuh "perasaan
rendah diri" itu. Bung Karno dan Bung Hatta–keduanya aktif di
Partai Nasional Indonesia (PNI)–berusaha membangkitkan sikap
"self-reliance" (jiwa yang percaya kepada kekuatan sendiri) dan
"self help" (jiwa berdikari) di kalangan rakyat Indonesia.
Begitu Indonesia secara formal sudah merdeka, para pendiri bangsa pun
masih terus-menerus membangkitkan "jiwa self-reliance" dan
"self help" ini. Salah satu bentuknya adalah penyusunan
konstitusi, yakni UUD 1945, yang benar-benar anti segala bentuk
penjajahan. Para pendiri bangsa juga terus-menerus berusaha menyakinkan:
setiap bangsa punya jalan sendiri menuju cita-citanya. Tidak mesti harus
menuruti atau mengekor pada jalan bangsa lain. Bangsa Indonesia harus
merumuskan jalannya sendiri.
Tetapi, meskipun Indonesia sudah merdeka secara formal, kolonialisme
belum sepenuhnya terlikuidasi. Bahkan, pihak kolonialis terus-menerus
melancarkan perang psikologis untuk menghalangi bangsa Indonesia
membangun negerinya secara berdikari.
Salah satu bentuk perang psikologis itu adalah bahwa bangsa Indonesia
lebih rendah derajat ekonominya: Indonesia belum punya kapital yang
cukup, bangsa Indonesia belum memiliki tenaga ahli yang hebat, bangsa
Indonesia belum punya teknologi, dan bangsa Indonesia belum bisa
mengatur rumah tangganya sendiri.
Karena itu, menurut propaganda asing itu, bangsa Indonesia jangan
memutus hubungan dengan kapital asing dan uluran tangan negeri-negeri
imperialis. Bahkan, di kalangan bangsa kita sendiri ada yang
menganjurkan agar kekayaan alam sebaiknya diserahkan kepada kapital
asing untuk mengelolahnya. Pasalnya, menurut mereka ini, bangsa
Indonesia belum punya kapital dan kecapakan untuk mengelola sendiri
kekayaan alamnya.
Bung Hatta pernah mengeritik pedas pendapat-pendapat semacam itu. Wakil
Presiden RI pertama ini menyebut mental semacam ini sebagai
"economische minderwaardigheid", suatu penyakit rendah diri
dalam perekonomian. Bung Hatta menganggap hal itu sebagai salah-satu
bentuk senjata psikologis kolonialisme untuk menaklukkan
"semangat" bangsa kita untuk membangun perekonomian sendiri.
Perasaan semacam itu juga masih nampak sampai sekarang. Ini terutama
terjadi di kalangan pemerintah kita yang memang bermental inlander dan
sebagian besar intelektual kita yang sebagian besar otaknya diracuni
oleh teori barat.
Sebagai contoh: ketika ada seruan untuk melakukan nasionalisasi terhadap
perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. Tiba-tiba pemerintah yang
bermental inlander dan intelektual pro-barat ini angkat bicara:
"Jangan! kita belum punya kapital, teknologi juga belum kita punyai,
dan bangsa kita belum punya kecakapan untuk menjalankan perusahaan asing
itu."
Mereka-mereka ini lebih takut jikalau modal asing "kabur" dari
Indonesia dibanding ratusan juta rakyatnya terperosok dalam kemiskinan.
Mereka pun menganggap biasa perampokan kekayaan alam kita oleh pihak
imperialis sebagai "harga yang harus dibayar" untuk berjalan di
belakang negeri-negeri imperialis itu.
Jika Evo Morales, Presiden Bolivia yang berfikiran anti-imperialis itu,
punya alur berfikir seperti pemerintah Indonesia dan ekonom-ekonom
didikan barat itu, mungkin rakyat Bolivia tidak akan mendapat keuntungan
apa-apa dari kekayaan alam mereka. Tetapi karena Evo Morales berani
mengeluarkan dekrit nasionalisasi kepada perusahaan-perusahaan asing
itu, Bolivia pun berhasil menaikkan penerimaannya dari eksplorasi sumber
daya alam. Keuntungan itulah yang dipergunakan untuk membiayai
pembangunan, pendidikan, kesehatan, perumahan rakyat, dan lain-lain.
Indonesia bangsa yang besar dan modal nasional yang besar pula. Kalaupun
kita belum sanggup melakukan nasionalisasi 100%, tetapi setidaknya kita
bisa berdaulat terhadap seluruh kekayaan alam kita: kita bisa menaikkan
pajak/royalti yang mesti dibayar oleh perusahaan asing yang mengelola
kekayaan alam kita, bisa memaksa pihak asing tidak boleh mengekspor
bahan mentah sebelum kebutuhan domestik terpenuhi, bisa memaksa
perusahaan asing melakukan alih-teknologi, bisa memaksa pihak asing
menghormati hak-hak pekerja Indonesia, dan lain sebagainya.
Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com
Jumat, 18 November 2011
SPIRIT BESAR DARI PEKERJAAN KECIL
Seorang lelaki tua sepanjang hari menyusuri rel kereta, tangannya
selalu membawa sebuah kunci memeriksa satu persatu mur penyangga rel,
jika ditemukan mur yang kendor/mau lepas, dengan cekatan baut itu
kembali dirapatkan sehingga tertanam dengan sempurna seperti sedia kala,
tidak pernah terlewatkan satu mur-pun.
Seorang anak muda yang
baru dikenalnya mencoba menemani "sudah berapa lama kau lakukan pekerjaan
ini pak tua ?" "sejak usia 20 tahun pertama kali aku bekerja sebagai tenaga honorer di perusahaan Kereta Api Negeri ini anak muda" sahut pak tua sambil tersenyum. . .
"Hah selama itukah bapak melakukan pekerjaan yang sama terus menerus, bapak tidak bosan . . ???"
"tidak anak muda, aku sangat mencintai pekerjaan ini . . . sampai matipun aku akan tetap melakukan pekerjaan ini... disinilah hidupku !”
"pasti gaji bapak besar, sehingga bapak betah dengan pekerjaan ini" sang pemuda masih penasaran . .
"gajiku hanya cukup untuk makan aku dan istriku di rumah"
"apakah bapak punya anak yang masih harus dibiayai hidupnya ?”
"anakku semua sudah menjadi orang sukses, sudah tidak memerlukan uangku, bahkan tidak jarang anakku yang memberi uang padaku . . ." sahut pak tua sambil tetap tersenyum.
"mestinya bapak tinggalkan pekerjaan ini, sudah waktunya beristirahat dirumah menikmati hari tua bersama istri"
sang pemuda masih penasaran . . . "Bapak terlihat rapuh dan ringkih melakukan
pekerjaan ini. . ."
lagi-lagi pak tua tersenyum "anak muda,
aku sangat mencintai pekerjaan ini, tidak mungkin aku meninggalkannya" .
. . .
"tapi apa yang kau cari pak tua ??? anak sudah menjadi orang
sukses, istri setia menunggu di rumah, gaji juga tidak seberapa,
lihatlah tubuhmu yang sudah renta !!!"
"anak muda . . . rupanya
kau masih belum mengerti juga kenapa aku begitu mencintai pekerjaan ini
. . bukan uang yang kucari anak muda" pak tua semakin tersenyum lebar .
.
"lalu apa yang kau cari ?? " potong sang pemuda dengan cepat . . .
"Spirit anak muda . . . .semangat . . . . .lihatlah, berapa nyawa yang
terselamatkan karena pekerjaanku ini . .! . . bayangkan . . . sehari aja
kutinggalkan pekerjaan ini, kamudian ada mur penyangga rel yang lepas .... itu bisa membahayakan perjalanan kereta api, ingatlah satu penumpang
di kereta api ini pasti memiliki beberapa orang yang mencintainya , , …
bayangkan lagi jika seandainya kereta api mengalami kecelakaan dan
seluruh penumpangnya meninggal, akan ada beberapa ribu orang yang
meratapi kepergian orang-orang yang dicintainya . . . . . .Spirit itulah
yang selalu menemaniku bekerja selama ini, . . . ."
Temukan spirit dalam setiap pekerjaanmu, maka kamu akan sangat mencintai pekerjaan itu . .
.
Kamis, 17 November 2011
"Saya Pakai Sepatu Kets Supaya Lari Kencang"
Menneg BUMN Dahlan Iskan
Dahlan blak-blakan mengungkap rahasia membenahi PLN dan rencananya merestrukturisasi BUMN.
Senin, 14 November 2011, 23:12 WIB
Arinto Tri Wibowo, Hadi Suprapto, Iwan Kurniawan
Dahlan Iskan saat berkunjung ke redaksi VIVAnews (VIVANews/Nurcholios Anhari Lubis)
Pintu sopir terbuka.
Dari baliknya keluar sesosok laki-laki yang tampak seperti orang biasa—mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, pantalon hitam yang sedikit kegombrangan, dan sepatu kets hitam.
Dia bukan sopir. Dia adalah Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang baru diangkat Presiden, Dahlan Iskan. Tiga penumpang yang disopirinya, adalah para staf anak buahnya di Kementerian.
Di lift menuju kantor VIVAnews, Dahlan mendadak keluar begitu ia mendengar di gedung ini juga berkantor salah satu anak perusahaan Pertamina. Sempat dicegat petugas satpam yang bahkan tak mengenalinya sebagai menteri, pria kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 ini, melakukan “sidak” ke ruang-ruang kantor di situ.
“Tidak, tidak ada masalah apa-apa, kok. Saya cuma mampir sebentar,” katanya kepada sejumlah karyawan Pertamina yang gelagapan.
Dahlan memang petinggi Republik yang unik. Di kabinet sekarang, barangkali dialah salah satu pejabat yang paling santer dibicarakan publik—dengan nada positif. Dua tahun memimpin PT Perusahaan Listrik Negara, wartawan senior ini dinilai sukses menerapkan sejumlah gebrakan dan langkah terobosan.
Berikut petikan perbincangan Dahlan, mantan CEO Jawa Pos Group, dengan redaksi VIVAnews.com, yang dipenuhi gelak tawa dan guyon khasnya itu:
Bagaimana awal mula penunjukan Anda menjadi menteri?
Begini, pertama kan Menteri Negara BUMN saat itu, Mustafa Abubakar, sakit. Karena Beliau sakit, rupanya Pak SBY mencari siapa penggantinya. Periode kabinet masih tiga tahun, kan nggak mungkin ad interim. Ketika mencari pengganti, dipilih-pilih, didapatlah saya.
Sebenarnya prestasi Pak Mustafa cukup bagus. Saya saksinya. Sebagai Direktur Utama PLN, saya merasa happy di bawah Pak Mustafa. Pak Mustafa tidak banyak intervensi, termasuk bersih, dan tidak memanfaatkan PLN untuk kepentingannya sendiri.
Saya orangnya husnuzon (berbaik sangka). Artinya begini, jika saya menjadi Pak SBY, saya akan mencari orang non partai untuk menangani BUMN. Jika Pak SBY memutuskan Menteri BUMN dipegang oleh orang Partai Demokrat, tentu Pak SBY jadi bulan-bulanan--dituduh akan dijadikan kas untuk 2014. Untuk yang non partai saja ada anggapan begitu, apalagi yang dari partai.
Saya kira ini suatu kewajaran. Saya kan orang non partai. Pak SBY akan memilih orang non partai untuk Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan. Saya kira, setiap orang yang memiliki sensitivitas tentu akan melakukan langkah itu.
Kalau boleh memilih, saya pilih di PLN. Pak SBY tahu saya di PLN belum selesai. Tapi, Pak SBY rupanya berkepentingan ada orang non partai yang punya pengalaman di BUMN. Di PLN saya sekolah banyak banget tentang memahami BUMN. Saya ini dianggap orang yang tahu BUMN, tapi belum terkontaminasi oleh BUMN, sehingga dianggap Beliau cocok.
Apa reaksi Anda pertama kali ketika Presiden mengangkat Anda sebagai menteri?
Yang terucap adalah saya bilang ke Beliau (SBY), “Pak, saya ini nangis kalau ditunjuk jadi Menteri BUMN. Saya pilih di PLN. Biarlah saya mengawal program-program PLN sampai selesai, satu tahun lagi. Saya ingin mengawal sendiri program-program yang begitu besar di PLN.”
Beliau bilang, kan PLN masih di bawah BUMN. BUMN ini asetnya Rp2.500 triliun, tapi hasilnya kok begitu kecil. Presiden juga kelihatan merasa terhina kalau BUMN Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga, terutama Malaysia. Sehingga, SBY mencari orang yang Beliau anggap bisa membawa BUMN maju.
Tapi ini belum tentu, kan? Saya kan belum tentu bisa… hehehe.
Kemudian, dia bilang begini, “Saya percaya Pak Dahlan bisa. Di mata saya, Pak Dahlan itu man of idea dan man of action.” Itu yang Beliau ucapkan. Jadi, Beliau rupanya memerlukan orang yang idenya banyak dan berani melangkah, berani action. Ketika mengangkat saya menjadi Dirut PLN, kata-kata itu juga yang Beliau ucapkan. Berarti kan Beliau sudah tahu sebelum di PLN, saya di mata Beliau seperti itu.
Bahkan, ketika ditunjuk jadi Dirut PLN, saya terang-terangan lagi, “Pak, saya orang sakit, saya bukan insinyur listrik, tidak mengerti listrik.”
Tapi, waktu itu Beliau bilang begini, “Saya tahu semua itu, Pak Dahlan. Tetapi, saya perlu leadership dan manajemen dari Pak Dahlan.”
Beliau tahu saya tidak ahli di bidang tertentu, tidak ahli di bidang engineering. Tapi memang yang diperlukan Beliau bukan keahlian di bidang itu, tetapi leadership dan manajemen. Saya kira di Kementerian BUMN juga masih diperlukan leadership dan manajemen--bukan keahlian saya di bidang keuangan, telekomunikasi, perikanan, atau perkebunan. Meski Kementerian BUMN membawahi bidang-bidang itu, tapi muaranya kan pada leadership dan manajemen.
Anda lama menjadi wartawan dan pengusaha media, tiba-tiba diangkat jadi Dirut PLN, lalu Menteri Negara BUMN. Kenapa Anda mau?
Awalnya saya tidak mau dengan alasan sakit.
Siapa yang mengusulkan nama Anda?
Saya tidak tahu. Tapi begini, ketika saya sakit begitu parah, sehingga dua tahun berada di luar negeri, mondar-mandir ke China, praktis saya tidak bisa mengurus perusahaan. Kemudian, perusahaan diurus anak saya, yang laki-laki, Azrul Ananda. Saya amati, saya tinggal kok perusahaan berjalan baik. Setelah dua tahun saya sembuh, perusahaan kok lebih baik dibandingkan waktu saya sakit.
Common sense saya mengatakan untuk apa saya balik lagi ke perusahaan? Pertama, berarti saya akan mengecewakan generasi baru yang ternyata mampu. Dan kedua, kalau saya balik, saya merusak kultur yang dia bangun selama dua tahun.
Saya menganggur. Kemudian saya bertekad bergerak di bidang pendidikan. Saya mendirikan madrasah internasional di desa. Saya ingin madrasah internasional ini berkembang karena keluarga saya sebelumnya sudah punya 120 madrasah tradisional dan kondisinya jelek. Sebelumnya saya tidak pernah mengurusi madrasah keluarga karena sibuk di perusahaan.
Ketika saya menganggur, saya mencoba mengurusi madrasah keluarga dengan cara melakukan pembaruan dengan mendirikan satu madrasah internasional. Nanti, kalau sudah jadi, saya akan copy ke 120 madrasah lainnya. Praktis saya mencurahkan diri ke sana sambil menulis buku.
Mungkin Pak SBY tahu saya lagi nganggur. Seandainya saya kelihatan aktif di Jawa Pos, saya pasti tidak diminta. Tapi, ketika Beliau lihat saya menganggur, mungkin Beliau berpikir, “Nah, ini ada orang yang menganggur, saya kasih pekerjaan saja”… hehehe.
Anda sudah lama kenal SBY?
Sudah lama sekali, tapi tidak intensif, sekadar sebagai wartawan. Misalnya ketika saya di Jawa Pos, ikut kunjungan Beliau keluar negeri. Kemudian Beliau pernah berkunjung ke Jawa Pos, ke koran-koran anak perusahaan Jawa Pos, seperti ke harian Fajar di Makassar. Ya begitulah, kenal dalam pengertian saya sebagai wartawan atau pemimpin redaksi, saya sebagai Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS).
Kenal mendalam tidak, kenal pribadi non formal tidak pernah. Beliau kenal saya karena reputasi saya membesarkan media. Mungkin Beliau mencatat karakter dan integritas saya. Tapi, kenal pribadi dalam artian persahabatan, tidak.
Anda dinilai berhasil memimpin PLN dan menerapkan good governance di perusahaan yang dikenal sangat korup. Apa kuncinya?
Di PLN saya agak berbeda karena mendapat keistemewaaan. Ketika diangkat menjadi Dirut PLN, saya mengajukan syarat. Saya harus diperbolehkan menunjuk direktur-direktur PLN atas pertimbangan saya sendiri, sehingga direktur diangkat tidak atas rekomendasi pejabat ini dan itu. Saya pilih sendiri siapa saja yang jadi direktur PLN, dan saya bertekad untuk tidak membawa satu pun orang luar.
Saya sangat percaya bahwa di semua organisasi, termasuk di BUMN, sebetulnya yang betul-betul tidak baik itu cuma 10 persen. Tapi, yang betul-betul baik juga hanya 10 persen. Sisanya, yang 80 persen itu ikut-ikutan saja. Kalau mendapat pemimpin dari kelompok 10 persen yang tidak baik itu, sikap yang 80 persen itu akan begini, "Ya, zamannya memang lagi begini, kita ikut saja, deh. Yang penting karier saya tidak terganggu, gaji saya utuh."
Tapi, kalau yang memimpin adalah dari kelompok 10 persen yang bagus tadi, maka sikap mereka jadi begini, "Ya, begitu dong jadi pemimpin, jadi kita semangat, bisa maju perusahaan."
Karena saya percaya di PLN ada 10 persen orang yang sangat baik, maka saya pilih direktur dari kelompok tadi. Dengan demikian, maka integritas direktur PLN baik dan yang 80 persen akan ikut.
Dari program-program good governance yang Anda terapkan, berapa uang yang berhasil dihemat?
Dalam hal uang, dari tahun pertama pengadaan strategis saja kami berhasil menghemat Rp2,4 triliun. Bisa bikin VIVAnews berapa banyak, tuh... hehehe.
Angka itu dari mana?
Pengadaan strategis itu begini. Dulu, gardu induk itu ditenderkan begitu saja. Padahal, di dalam gardu induk ada unsur trafo dan macam-macam lainnya. Akhirnya, yang jadi pemenang tender selalu pedagang, arranger. Bisa saja pedagang minta ke rekanannya pabrik trafo agar jangan mengaku harga trafo murah, karena nanti harga bisa rusak. Pabrik trafo kan tergantung kepada pemenang tender.
Sistem itu kami ubah. Tender tidak boleh begitu lagi. Leader sebuah proyek harus pabrikan langsung. Yang lain harus ikut pabrikan itu. Hasilnya, tender gardu induk harganya jadi murah sekali. Sebagai contoh, trafo IBT 500 KV dulu harganya Rp120 miliar, sekarang hanya Rp40 miliar. Ini karena sistem tender yang diubah.
Di PLN banyak proyek besar yang jadi rebutan kelompok penguasa. Di masa Anda bagaimana?
Tender bebas.
Anda pasti pernah ditelepon orang ini dan itu...
Saya tidak peduli. Yang membahagiakan saya di PLN adalah: telepon-telepon semacam itu ada, yang mengajak makan siang ada, mengajak ketemu ada, dan semua saya layani. Saya bukan tipe orang yang nggak mau diajak makan siang. Kalau makan siang, ya makan siang. Ditelepon saya terima. Tapi, di situ saya tidak tergoyahkan sama sekali. Semua harus mengikuti prosedur. Saya happy di PLN bisa seperti itu.
Apa pencapaian terpenting Anda selama memimpin PLN?
Krisis listrik teratasi. Krisis listrik beda dengan mati lampu, lho. Krisis listrik itu kekurangan listrik di Indonesia. Itu saya happy, dalam waktu enam bulan semua bisa teratasi. Yang bikin happy lagi karena PLN ternyata mampu mengatasinya, bukan karena saya.
Dengan mengatasi krisis listrik dalam enam bulan itu, confidence orang PLN naik luar biasa. Berarti, PLN mampu mengatasi hal-hal lain yang sama besar atau lebih besar. Krisis listrik itu membuat karyawan PLN sempat tidak berani menggunakan seragam PLN, didemo di mana-mana. Bahkan, ada Kepala Cabang PLN yang dijemur oleh masyarakat di Tanjung
Pinang. Orang mungkin menyangka kalau kepala cabangnya dijemur, listriknya bakal keluar … hehehe. Padahal, mau dijemur dua bulan pun kan listriknya nggak akan keluar-keluar.
Kemudian, PLN bisa menghabiskan daftar tunggu pemasangan listrik dari 2,5 juta orang. Mereka sudah mengantre 3 tahun, 5 tahun, bahkan 7 tahun nggak dapat listrik. Saat itu, semua dapat.
Tapi, pencapaian yang terbesar adalah saat saya bisa membentuk tim yang saya sebut "The Dream Team" di PLN. Titik beratnya adalah integritas dan antusiasme. Orang PLN itu pintar-pintar, kok.
Dulu pemadaman listrik terjadi berkali-kali, sekarang hampir tidak pernah. Apa yang dilakukan PLN?
Banyak sekali pertanyaan seperti itu. Tidak ada pemerintah drop uang, kok bisa? Ini belum pernah saya ungkapkan dari mana PLN dapat uang untuk membiayainya.
Jadi begini, ada satu proyek, sudah ditenderkan, nilainya Rp15 triliun. PLN harus menyediakan uang Rp1,5 triliun. Pemenangnya sudah ditentukan. Kebetulan, tendernya bermasalah. Proyek itu di Muara Tawar. Seandainya diteruskan akan selesai 2013.
Menurut hitungan saya, pada 2013 itu akan ada banyak sekali pembangkit listrik yang jadi. Untuk apa membangun lagi? Lalu, proyek saya batalkan. Dengan pembatalan itu, PLN akan menghemat Rp15 triliun dan dalam bentuk cash Rp1,5 triliun. Uang itu yang saya pakai untuk memperbaharui sistem distribusi trafo.
Jakarta itu sekarang kuat sekali. Seandainya terjadi seperti kebakaran gardu induk, seperti di Cawang, Jakarta Timur beberapa tahun lalu, takkan ada pemadaman karena sudah di-backup oleh Bekasi, Gandul, Kembangan, dan lain-lain. Dulu tidak ada backup sama sekali, apalagi di luar Jakarta.
Lalu, saya benahi pengadaan trafo distribusi, yaitu trafo yang ada di pinggir-pinggir jalan yang melayani 200 rumah. Di tahun pertama saya beli 10 ribu trafo. Tahun kedua 15 ribu dan tahun depan 15 ribu lagi.
Dulu, banyak trafo yang saya sebut “trafo menangis”, yang sudah meleleh, tanda hampir mati, dan lama tidak pernah diganti. Juga ada “trafo hamil”, karena sudah melengkung. Itu tanda-tanda mau meledak, juga tidak diganti. Sekarang saya bilang, masih “hamil muda” trafo sudah harus diganti, sudah mulai menitikkan air mata harus diganti. Cabang-cabang harus punya stok trafo baru, sehingga tidak harus meledak dulu baru diganti.
Akibatnya apa? Tidak ada pemadaman. Karena kalau meledak baru diganti, apalagi tidak ada trafo pengganti, pemadaman bisa berlangsung lama. Pemadaman yang di tiap kota biasanya terjadi 100 kali, sekarang tinggal 5 kali.
Resep keberhasilan Anda membangun PLN sekarang akan diterapkan juga di BUMN lain?
Tidak semua BUMN bisa menggunakan satu resep. Akan beda-beda resepnya. Misalnya, perkebunan, tidak bisa begitu. Perkebunan itu, 60 persen biayanya untuk membeli pupuk. Nanti akan kami lihat bagaimana cara membeli pupuknya, kemudian cara penggunaannya. Kiat tidak hanya satu, tapi ada seribu kiat.
Salah satu terobosan yang akan diterapkan di BUMN nanti seperti apa?
Begini, ada galangan kapal IKI (PT Industri Kapal Indonesia) yang sudah dua tahun tidak bisa menggaji karyawan dan direksinya. Saya ke sana. Mental manajemennya sudah mental menunggu pertolongan dari luar, terutama minta uang dari PPA (PT Perusahaan Pengelola Aset).
Tanpa uang itu, menurut manajemen perusahaan tidak bisa beroperasi. Karena itu, manajemen hanya berharap-harap, uang kok nggak turun-turun. Sepertinya itu uang dia, sehingga menyalah-nyalahkan PPA.
Saya datang ke sana, melihat sendiri, memang parah sekali. Dripping dock sudah rusak, pintu air sudah bocor semua, dan pompa airnya sudah tidak bisa memompa. Memompa air dari dripping dock perlu waktu satu minggu, padahal seharusnya cuma empat jam, sehingga kapal yang mau diperbaiki tidak selesai-selesai. Dermaga sudah hancur, slipway rusak tidak bisa dipakai. Tanpa perbaikan, ini semua tidak bisa jalan. Biaya yang dibutuhkan Rp90 miliar, ya itu tadi, menunggu-nunggu uang dari PPA.
Saya lihat, di sana pasarnya besar. Di Indonesia ada 6 ribu kapal, dan ada peraturan setiap beberapa bulan sekali harus diperbaiki.
Jadi, pasarnya ada. Yang sulit itu buat perusahaan kan kalau pasarnya tidak ada. Kalau pasarnya ada, apa saja bisa jalan. Tapi, karena mental manajemen sudah terlanjur berharap-harap, mereka sudah tidak kreatif lagi. Saya lalu malah datang ke PPA dan minta agar mereka sama sekali tidak kasih uang ke BUMN itu, karena itu akan membuat BUMN menjadi manja saja.
Bagaimana solusi Anda?
Saya bilang pintu air bisa diperbaiki, misalnya bekerja sama dengan PT Hutama Karya, yang biasa membuat bendungan. Nanti pembayarannya bulanan, kan sesama BUMN. Tidak akan merugikan, pembayaran mahal sedikit tidak apa-apa. Lalu, pompanya bisa minta ke supplier pompa, pembayarannya juga bulanan. Perbaikan dermaga bisa minta dikerjakan Adhi Karya atau siapa, agak mahal sedikit tidak apa-apa, pembayarannya sama, bulanan.
BUMN yang seperti ini banyak banget, seperti Iglas, Kertas Leces, dan perusahaan perikanan. Mereka harus disiplin, sampai kelak situasi berubah. Mereka selalu beranggapan, tanpa uang tidak bisa jalan. Kan rusak mental manajemen seperti itu. Nanti kami perbaiki dari sini.
Untuk merestrukturisasi PT Leces apa solusi Anda? Bukannya ini BUMN yang pernah besar dan cukup mendominasi pasar kertas?
Pasar kertas tidak akan sebesar dulu. Di sana sedang membangun boilerbekerja sama dengan PT Waskita Karya. Ini tidak pakai uang, karena uangnya dari Waskita Karya. Boiler ini menghasilkan steam 240 ton. Dulu rencananya steam ini untuk menjalankan seluruh mesin. Ada lima mesin di sana. Karena steam paling banyak dipakai buat memanasi mesin, maka steam untuk membangkitkan listrik tidak cukup--hanya bisa membangkitkan paling banyak 25 MW. Listrik 25 MW ini tidak cukup menghidupkan mesin-mesin itu.
Jadi, dari mesin steam 240 ton itu separuh untuk memanasi pabrik kertas, separuh untuk membangkitkan listrik yang digunakan untuk menjalankan mesin. Tapi, belum tentu kertas yang dihasilkan terjual semua dan belum tentu ada margin. Sumber kesulitan Leces adalah pasar.
Saya malam Idul Adha kemarin tidur di pabrik kertas. Karena saya harus Lebaran dengan keluarga, keluarga saya ajak ke sana. Jadi, kerjanya dapat, Lebaran dengan keluarga juga dapat. Setelah saya lihat marketing-nya, saya sarankan tidak boleh lagi memproduksi semua jenis kertas. Saya minta mereka memilih dua saja yang yakin pasarnya bagus. Akhirnya, satu mereka pilih kertas tisu untuk ekspor ke Amerika, dan kedua memproduksi kertas security printing yang persaingannya masih relatif kecil. Tak boleh memproduksi selain itu. Harus fokus.
Karena hanya memproduksi dua tipe kertas, maka steam yang digunakan juga tidak banyak. Cuma 10 ton. Listrik yang digunakan juga tidak banyak, mungkin cuma 10 MW. Sehingga mereka masih punya kelebihan steam-- karena dari kapasitas semula 240 ton, yang terpakai 10 ton.
Nah, steam sisa ini bisa memutar turbin hingga 60 MW. Mereka punya turbin. Daripada steam-nya menganggur, maka lebih lebih baik untuk memutar turbin. Katakanlah paling kecil 50 MW. Yang dipakai oleh pabriknya sendiri sekitar 10 MW. Masih ada 40 mega, saya minta mereka jual ke PLN. Jadi, Leces tak hanya jualan kertas, tapi juga listrik. Kalau dia jual 40 MW ke PLN, paling tidak bisa menghasilkan uang Rp100 miliar.
Kemudian, bahan bakunya kelebihan juga. Jual barang baku itu. Saya tanya: laku tidak? Laku, bisa dapat Rp100 miliar. Jual saja, daripada bahan baku diproduksi gak laku atau malah marginnya tidak ada, mending jual saja bahan baku itu.
Jadi, nanti dari listrik dapat Rp100 miliar, bahan baku Rp100 miliar, jualan tisu Rp100 miliar, dan jualan kertas sekuriti Rp50-60 miliar. Sudah, itu solusinya. Harus disiplin.
Apa sikap Anda soal kepemilikan asing di BUMN telekomunikasi?
Itu sudah terjadi. Ada baiknya, ada tidak baiknya. Baiknya kita jadi sangat familiar dan welcome terhadap dunia internasional. Kurang baiknya, kita menyesal saja. Ternyata, perusahaan ini bagus banget, tapi kok ya dijual. Tetapi, kita kan nggak boleh menyesal terus, tidak habis-habisnya sampai masuk rumah sakit jiwa... hahaha.
Ada kemungkinan buyback saham?
Terserah manajemennya. Saya serahkan kepada kebijakan korporasi perusahaan tersebut. Nanti, banyak hal akan kami serahkan kepada manajemen BUMN yang bersangkutan untuk melakukan aksi korporasi, termasuk soal Serikat Pekerja.
Kemarin, saat demo di Telkom, saya instruksikan kepada seluruh jajaran Kementerian BUMN untuk tidak ikut turun tangan. Serahkan sepenuhnya kepada manajemen Telkom. Kami tidak boleh memanggil manajemen, jangan menegur, jangan bertanya. Karena kalau itu dilakukan, nanti Serikat Pekerja akan merasa persoalan telah diambil alih. Padahal, belum tentu kami mampu mengambil alih dan belum tentu mengetahui persoalan mikronya. Yang tahu persoalan mikronya adalah manajemen setempat.
Sewaktu di PLN Anda rutin menulis catatan untuk karyawan, akan diteruskan sekarang di Kementerian BUMN?
Waktu di PLN saya menulis dua-tiga kali sebulan, sehingga ide-ide saya bisa diikuti oleh seluruh karyawan—ada 100 ribu, termasuk yang outsourcing. Misalnya, ketika saya pergi ke Halmahera, dengan membaca tulisan saya, mereka tahu apa yang saya pikirkan, yang saya kerjakan, semuanya mengikuti karena ditaruh di website PLN. Kemudian, beberapa koran mengambil itu, dikutip, silakan. Saya anggap itu komunikasi yang efektif dengan karyawan yang begitu besar. Berkomunikasi dengan 500 karyawan mungkin gampang, tapi kalau 100 ribu dan tersebar di seluruh Indonesia itu susah. Saya menulis karena itu.
Sekarang, setelah saya jadi Menteri BUMN, saya lagi mikir-mikir apakah akan menulis atau tidak. Saya akan putuskan dalam 1-2 minggu ini. Saya ingin sebagai menteri, seluruh karyawan BUMN tahu. Karyawan BUMN itu banyak sekali. PLN saja 100 ribu karyawan, Telkom 20 ribu, Kereta Api 18 ribu, belum lagi perkebunan. Saya perlu media komunikasi.
Sebetulnya, kenapa Anda selalu mengenakan sepatu kets?
Banyak yang bilang, "Pak Dahlan itu sederhana, ya." Lho, padahal sepatu kets ini mahal, lho... hahaha. Ya, ini pertama karena dulu kelamaan di media. Orang media itu kan cuek. Itu sudah kebiasaan saja. Yang saya khawatirkan adalah kalau tiba-tiba saya pakai jas, sepatu mengkilat... hehehe. Kan Pak SBY berpesan supaya menteri baru berlari kencang. Jadi, saya pakai sepatu kets dalam rangka supaya bisa berlari kencang itu ... hehehe. (kd)
Langganan:
Postingan (Atom)